JOGLOSEMARNEWS.COM Panggung Sastra

Tekat

Tidak lama kemudian lampu merah bergati kuning lalu hijau, seketika percakapan itu terhenti. Kata-kata dari gurunya tadi seakan memberi suntikan semangat baru bagi Tekat. Dan pada lampu merah selanjutnya, ia menyebarkan brosur dengan dada tegap dan senyum lebar.

***
Waktu subuh tiba, setelah sholat berjamaah di Masjid As-Syifa RSUD Wonogiri, Tekat minta ijin pulang lebih awal karena semua lokasi yang menjadi tanggung jawabnya telah ia bersihkan. Tekat tak langsung pulang ke kos, melainkan pergi ke taman Selopadi yang berdekatan dengan jembatan kereta Kreteg Bang Wonogiri, tempat kereta Bhatara Kresna melintas, tepat di atas jalan raya yang tak jauh dari perempatan bangjo Ponten Wonogiri.
Tekat duduk di tangga dekat Patung Semar, di bawah batu besar yang ditopang oleh sebuah pohon asam yang warga Wonogiri menyebutnya dengan Plinteng Semar. Menurut cerita, pohon asam yang bercabang dua seperti huruf Y merupakan ketapel milik Semar dan batu yang ditopang pohon asam itu adalah peluru ketapel, karena itulah dijuluki Plinteng Semar.

Tekat mengamati patung Semar itu dengan jari menunjuk ke arah jalan raya, lalu sorot mata Tekat juga ikut mengarah ke jalan yang masih lengang. Ketika memandangi sorot lampu kendaran bermotor, Tekat teringat waktu masih belajar di kelas dua SMA, ia bersama teman-temannya yang tergabung dalam pecinta alam pernah berkemah di Gunung Gandul. Saat itu, ketika malam hari, ia duduk di atas batu besar sambil memandangi lampu kelap-kelip di Alun-alun Giri Krida Bhakti. Sorot lampu yang bergerak di sekitar alun-alun, terlihat seperti kunang-kunang yang beterbangan. Pada pagi harinya, tak disangka oleh Tekat ada yang berdatangan. Serombongan umat Kristiani membawa Salib yang tingginya dua kali orang dewasa dan kabarnya peristiwa itu terjadi satu kali dalam setahun. Karena penasaran, Tekat dan teman-temannya menyaksikan pelaksanaan prosesi Jalan Salib itu.

Suara gesekan roda besi yang bertaut dengan bantalan rel membuat lamunan Tekat membuyar, kereta Bhatara Kresna yang sejak sebelum subuh sudah berada di stasiun Wonogiri sekarang pergi meninggalkan stasiun. Setelah kereta Bhatara Kresna melintas di atas jembatan rel, ketika itu pula ia berkeinginan untuk kembali ke kosnya.

Setelah beristirahat yang hanya berpuluh menit, Tekat kembali menyebarkan brosur. Kali ini di lampu merah dari arah alun-alun. Seperti hari pertama, Tekat membagikan brosur ke para pengguna jalan. Tapi kali ini ia tidak sendirian. Tekat ditemani oleh seorang pengamen berambut gimbal membawa gitar layaknya penyanyi Reggae. Lampu merah menyala dan pengamen itu mulai memainkan gitarnya dengan lagu Dikiro Preman milik Sukir Genk. Tekat tak ingin kalah aksi dari pengamen itu, ia membagikan brosur sambil menebar senyum ramah yang diiringi lagu reggae tersebut.

Terbesit tanya dalam pikiran Tekat, ketika ia melihat perempuan mengenakan jaket abu-abu tercoret dua buah tanda tangan berwarna merah sedang membonceng sebuah motor besar yang dikendarai seorang lelaki. Tekat merasa kenal dengan jaket yang dikenakan perempuan itu, karena jaket seperti itu pernah ia berikan ke Nuraini. Karena itu juga, Tekat ingin menyakinkan siapa perempuan yang memakai jaket itu. Tekat merasa kaget kalau perempuan itu Nuraini. Tapi Tekat merasa ragu, karena ketika Tekat menyodorkan brosur ke perempuan itu, tangan si perempuan enggan menerima, bahkan dari pandangan matanya, seolah dia tidak mengenal Tekat. Lampu hijau menyala dan kejadian itu berlalu begitu saja, hingga lampu hijau memisahkan pandangannya dengan perempuan itu. Pikiran Tekat masih terus bertanya-tanya, “Apakah Nuraini malu menyapaku?”
Lampu merah berganti lampu hijau, rasa sesal membayangi hati Tekat, namun entah kenapa ia merasa yakin pada dirinya. Dirasakan Tekat dua hari penuh kejutan. Dari sejumlah kejutan yang terjadi, Nuraini adalah kejutan yang paling dahsyat. Tekat merasa telah dapat melalui kejutan yang dahsyat tersebut. Oleh karenanya, dia tidak merasa gentar dengan kejutan yang akan terjadi. Justru Tekat ingin menanti kejutan-kejutan selanjutnya.

Deni Pramono
Tergabung di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Dapat dihubungi di alamat email [email protected]

Redaksional

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas dan yang pasti tidak SARA. Font Times New Roman 12pt, A4, Spasi 1,5. Panjang naskah 6000 sampai 9.000 cws. Naskah cerpen orisinil dan belum pernah tayang dimanapun, termasuk di buku.

Kirim naskah Cerpen Anda dengan  menyertakan data diri dan nomor rekening di bawah naskah cerpen ke [email protected]

Honorarium sebesar Rp. 50.000,- bagi karya yang ditayangkan.

Terima kasih.

« Halaman sebelumnya

Halaman :   1 2 Tampilkan semua