loading...
Loading...

Godfather Max Don
Cerpen Ferry Fansuri

Kumasih di sini memandang gemerlap matahari di larik langit, jika kau di sini maka akan kukisahkan padamu dan kubisikkan indahnya itu Kantil. Kulihat anak-anak kecil bermata biru dan berkulit putih pucat berbintik merah berlari menyusuri derai ombak yang menyibak pasir pantai Kuta. Para beach boys menggosok papan selancar sambil menunjukan badan yang hitam six pack, yang jadi daya tarik sensual bagi turis.

Tak terasa terik matahari sudah di ubun-ubun dan aku cuma berkeliaran genangan pasir. Aku lupa harus menghubungi seseorang setiba di sini. Secarik kertas berisikan alamat yang kudapat dari seorang kenalan sewaktu di Malioboro. Kurogoh saku celanaku.
Sial!
Alamat yang tertera pada kertas itu luntur, separuh tak terbaca. Aku hanya tepuk jidat karena bingung mau kemana lagi. Hingga saat blusukan masuk gang Poppies dan di ujung jalan itu terlihat homestay. Aku hanya memandangi homestay itu sembari berdiri mematung. Keraguan masih menyelusup di hatiku, cukup atau tidak uang yang kugenggam ini untuk menginap. Detik meluncur ke menit, bergulir hampir ke jam, kaki masih mengakar di aspal.

Tiba-tiba pintu homestay itu terbuka, seorang pemuda kisaran umur 20 puluhan keluar dan memanggil kearahku. Pemuda itu mempersilakanku masuk ke homestay itu.
Masuklah, Kawan!”
Sapaan ramah kepadaku bagai magnet. Pemuda itu seakan tahu apa yang kumau, ia menyodorkan sebotol minuman mineral dan roti. Dia bilang semuanya gratis. Kutandaskan, tak tersisa.Aku kekenyangan hingga akhirnya kuhempaskan badanku ke kursi homestay, termenung tidak tahu harus bagaimana.
Pundakku disentuh.

Kau terlihat gusar. Apa kau butuh bantuan?
Kujelaskan masalahku padanya.
Jangan khawatir. Paling tidak kau bisa tinggal di sini.”
Aku girang bukan kepala ketika mendengar hal itu, pemuda yang kemudian kukenal bernama Mukiyo. Ia juga perantauan dan paham kondisiku, di sini Mukiyo bekerja sebagai penjaga homestay di kawasan Poppies. Pemilik homestay ini adalah seorang bule keturunan Australia yang menetap di Bali. Max Don nama itu yang kudengar. Mukiyo mengatakan aku kau bisa tidur dan mandi di dalam homestay, dan aku juga nanti akan dikenalkan dengan Max Don.
Kesialanku berganti kulit menjadi keberuntungan.
***

Priaitu jangkung, hampir 2 meter, kulitnya putih berbintik merah, berkepala plontos dan mulutnya selalu menyunggingkan senyum. Siapa pun yang berpapasan dengannya pasti merasa senang. Max Don dikenal suka bergaul. Bahasa Indonesia dan bahasa lokal dikuasai dengan fasih, memudahkannya berkomunikasi dengan masyarakat sekitar. Dia jatuh cinta dengan Bali semenjak menginjakan kakinya di sini, dia juga sekarang sudah beragama Hindu.

Ada rasa hangat jika berada dekatnya, sifat ngemong menjadi daya tarik Max Don. Semua orang pasti cepat akrab dengannya. Setelah Mukiyo menceritakan tentang diriku kepada Max Don, dia kemudian membuka tangannya untuk memelukku.

Kau adalah tamuku,” ucap Max Don.
Maka diajaklah aku ke rumah megah di daerah Ubud, bertempat di pucuk bukit bernuansa etnik. Max Don memang memutuskan tinggal di sini, membangun rumah dan bisnis. Berbekal tabungan selama di Australia sebagai pialang saham, ia membawa pundi-pundi dollar menjadi rupiah dan membangun kerajaan bisnis. Usahanya di mana-mana, salah satunya homestay tempat Mukiyo bekerja.

Rumah Max Don semacam villa berlantai dua, dengan perkarangan maha luas serta kolam renang lebar. Max Don mempersilakan aku untuk tidur dan makan di sini. Ia menunjukkan sebuah kamar kosong di ujung gang untuk kutempati. Ketika aku melangkah, aku merasa seperti ada mata-mata mengawasi dan memandangiku.

Saat itu aku merasa kelaparan perutku, secara alami aku mencari pelampiasan. Aku keluar dari kamar. Saat itu menjelang gelap dan terlihat senggang tanpa bunyi-bunyi. Aku terus melangkah dan hidung mengendus layaknya anjing K9, akhirnya kutemukan sebuah dapur. Semua tertata dengan ciamik dan glamour dengan pernak-pernik gothic. Di sudut itu terdapat kulkas besar setinggi dua kali lipat dariku, rasa lapar itu yang mendorongku untuk menggapai gagang dan membuka kulkas itu.
Kumasukan kepalaku untuk mengintip apakah ada makanan yang bisa kutelan.
Kau lapar?
Suara itu mengagetkan tengkukku, suara bersenandung lirih. Kuurungkan niatku untuk meneliti isi kulkas itu. Kata-kata itu berasal dari gadis belia terlihat berwajah sendu, berambut panjang, dan tampak seumuran denganku.
Jika kau lapar, aku masakkan sesuatu untukmu.”
Gadis itu begitu cekatan menyalakan kompor, menempatkan wajan, memotong bawang, mengaduk telur dan menumis minyak. Tercampur jadi satu dalam olahan nasi dan rempah, baunya begitu menggoda. Tak terasa air liur ini menetes, merembes celah-celah mulutku. Tepat di depanku, sebuah piring penuh nasi goreng memerah mengepul, bercita rasa Nusantara.

Tanpa basa-basi lagi, kulahap tanpa ampun sampai lidah ini menjilat-jilat piring itu. Gadis itu hanya bersenyum simpul. Tukiyem adalah pembantu di rumah Max Don. Dia seperti diriku, dipungut dari jalanan oleh Max Don dan dipekerjakan di sini. Cuma ada yang ganjil di wajah Tukiyem, begitu suram terlihat dalam cekungan mata menghitam.

Tukiyem menceritakan bahwa tuannya sering membawa anak-anak seusia diriku ke dalam rumah. Laki-laki atau perempuan selalu datang silih bergantian, tapi Tukiyem tak tahu kemana mereka, raib sesunyi malam tanpa rembulan.
***

Max Don memberikan pekerjaan tidak terlalu berat, diriku dijadikan kurir untuk pengantar pesan ke kliennya. Bisnis Max Don di semua lini kehidupan Denpasar: kuliner, ekspedisi, telekomunikasi, hingga bisnis sembako. Masyakarat menyebutnya Godfather. Ia begitu dermawan dan penolong kaum duafa, hal itu membuatnya semakin dicintai. Aku juga begitu nyaman dekatnya, bagaikan ayah yang tak pernah kumiliki semenjak keluar dari rahim emakku.

Ada sedikit kelakuan aneh dari Max Don, ia selalu memeluk, mengusap pipiku, membelai rambutku atau sesekali meremas pahaku. Tapi kupikir hanya sebuah kasih sayang bapak kepada anaknya. Aku nyaman dan betah di sini, aku teringat Kantil, andai kau ada di sini pasti bisa merasakan itu.

Ada peraturan Max Don buatku, jangan pernah naik ke lantai dua karena itu tempat terlarang bagi siapapun selain dirinya. Ada rasa penasaranku tentang itu, begitu misterius apa yang terdapat di dalamnya hingga membawaku di tengah malam untuk menaiki.

Keingintahuanku terus meninggi karena kudapati hanya sebuah pintu kuno dengan ornamen klasik, kucoba menekan kenop dan ternyata tak terkunci.
Tampak pemandangan menakjubkan. Layaknya museum, begitu banyak etalase tersusun rapi dan berjejer. Terpasang lukisan abstrak, natural atau surealisme bertebaran di sisi dinding. Di dalam etalase itu begitu banyak boneka yang didandani cantik, serupa anak lelaki atau perempuan. Kadang aku tidak habis pikir Max Don suka boneka sampai mengoleksi, bahkan tak hanya satu. Boneka-boneka itu memancarkan aura hidup jika dipandang, aku berkeliling menikmati tempat itu.

Tanpa kusengaja siku tanganku menyentuh salah satu etalase dan jatuh ke lantai berkeping-keping. Aduh mati aku, Max Don pasti marah besar. Hatiku seakan pecah, kakiku gemetaran. Ketika aku ingin membereskan semua, kakiku malah tersandung dan terjerembab tepat di atas sebuah boneka.
Bibirku dekat sekali dengan pipi boneka itu, rasa hambar menyelinap di lidah pencecapku. Kuraba-raba badan boneka itu, tapi benda-benda itu tak seperti boneka yang terbuat dari plastik atau kayu. Tak jauh dari boneka itu, aku melirik secarik kertas berbentuk persegi empat. Kuraih benda itu semacam tanda pengenal, mata ini dipicing dalam remang-remang. Marfuah, nama yang kudapat, kaget setengah mati hingga aku mundur perlahan. Punggungku mengenai etalase, efek domino terjadi. Semua etalase luluh lantah bersentuhan hingga hancur.

Boneka-boneka itu berjatuhan. Dari mulut, mata dan telinga boneka itu mengeluarkan darah. Buluk kudukku meremang seketika, aku merasa bisa mendengar penderitaan yang memanggil ke arahku. Secepat kilat aku beranjak dari tempat busuk itu sebelum aku jadi salah satu korbannya, kuraih tas butut di dalam kamar. Pergi tanpa pamit jadi solusi terbaik, kakiku bergerak melintasi koridor melewati kamar Max Don. Sayup-sayup kudengar, suara gaduh di dalam, dan sejenak kuhentikan langkahku.
Apa yang terjadi di dalam? Ah, aku harus pergi, persetan semua ini. Suara-suara itu terus menggerayangi telinga. Bodohnya diriku malah berusaha mencari asal suara itu. Di sela lubang kunci, mataku menembus ke dalam. Indra penglihatanku tambah memerah, pertunjukkan biadab tersaji vulgar. Tukiyem tampak kesakitan, tubuhnya dicambuk oleh Max Don dari belakang. Kaki dan tangan Tukiyem terikat di tiang. Gilanya lagi Max Don menyetubuhinya. Kemaluan itu menghajar dubur, atraksi pedofil bercampur sadomasokis.
Mual. Pusing. Pening.
Semua makanan yang tadi pagi kumakan keluar secara paksa. Tak perlu repot-repot membersihkan itu. Hal yang kupikirkan hanya lari dan tak mau kembali lagi.
***

Rumor-rumor yang kudengar dari berita koran selama perjalanan menumpang bus ekonomi menyeberangi Gilimanuk bahwa ada kasus pembunuhan menggemparkan. Seorang bocah perempuan mati dan dikubur di bawah kandang ayam untuk mengelabui petugas. Tak lama kusadari bahwa bocah perempuan itu Tukiyem, dan pelaku telah ditangkap. Mukiyo yang menguburkan Tukiyem atas perintah Max Don.
Godfather Max Don dijerat pasal berlapis: pembunuhan berencana, didakwa sebagai pedofil pemburu Loli setelah ditemukan mayat-mayat bocah yang diawetkan dalam rumahnya.

Ferry Fansuri, travel writer, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Ilmu Budaya jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Karya tunggalnya “Aku Melahirkan Suamiku” Leutikaprio(2017) dan berbagai antologi cerpen dan puisi.

Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional. Dalam waktu dekat menyiapkan buku antalogi cerpen dan puisi tunggal. Bisa dihubungi via e-mail : [email protected]

Loading...