JOGLOSEMARNEWS.COM Panggung Sastra

Mata

Air matanya tiba-tiba berderai. Lagu itu mengingatkannya pada masa lalunya. Jelas dalam benaknya lagu itu hampir selalu didengar ibunya. Meski dia tak tahu untuk alasan apa ibunya kerap mendengarkan lagu itu. Pernah suatu kali dia coba menembus rasa penasarannya terhadap hal itu. Menanyakan langsung pada ibunya, kenapa ibunya mendengarkan lagu itu hampir setiap malam. Saat itu ibunya menjawab, “Kelak kau akan tahu sendiri arti lagu ini.”

Untuk sekarang dia tahu akan arti lagu itu. Di malam yang menyisa pucatnya bulan dia merasa sepi menggiris batinnya. Mungkin itu arti lagu Blue Moon–kesepian.

***

Kulihat, air dari matanya deras mengalir disertai sengguknya. Seakan masa lalu dan bayang ibunya yang bagai arwah gentayangan terus mengejarnya. Sesal hadir dalam hatinya. Tak mau lepas seperti mataku yang juga tak jauh beda-basah ketika melihat dua mata birunya.

Biru dari matanya membawa kisah kelabu. Bukan seperti arti warna biru pada umumnya yang dianggap sebagai kecerahan dan gairah. Dia tak tahu pasti kenapa biru dianggap seperti itu. Apa mungkin karena biru diibaratkan seperti laut yang kemudian memantul pada hamparan langit, lalu berbaur dengan putih awan. Langit selalu berarti kecerahan dan tanda riang bagi sebagian besar orang. Tapi perempuan itu tak pernah tahu akan hal itu sejak dirinya berada di tempatnya sekarang. Yang dia tahu hanya langit yang gelap bercampur dengan nikmat sesaat. Langit hanya penanda waktunya bekerja. Langit bukan untuk mengerti bahwa hidupnya benar-benar hidup.

Lagu Blue Moon yang lembut tak mau beralih ke lagu lain. Sorot mata perempuan itu terus tajam dan menusuk mataku. Dari sorot itu pula, bayang akan ibu terus menggiris di dalam ingatannya. Bayang itu menjalar pada hati dan membuahkan tekadnya untuk pulang ke kampung halaman barang sekali menengok makam ibu. Tapi dia berpikir bagaimana cara lepas dari jerat hitam yang selama ini membelenggunya. Bak sudah menjadi ketetapan untuknya terus berkutat dalam lubang hitam. Toh, jika dia bisa lari dari tempat ini bisakah dia diterima oleh orang lain. Menutupi bangkai serapat mungkin lambat laun baunya akan menyengat hidung juga, seperti bau alkohol yang menguar di ruangan ini. Jika dia memilih untuk kembali ke kampung halamannya, apakah di sana masih ada rumah untuknya. Memang secara fisik bangunan peninggalan ayah dan ibunya masih ada. Tapi bukankah rumah adalah tempat di mana diri sendiri merasa dirindukan. Mungkin ada satu yang merindukannya, yaitu makam ibu. Namun rasa menyesal dan malu jelas akan hinggap dalam dirinya ketika dia bersimpuh di tepi kubur ibu. Mungkin juga bukan hanya dia yang malu namun ibunya juga, akankah ada orangtua yang mau menerima anaknya yang bekerja dengan menjajakan tubuh dan menuruti nafsu sesaat para lelaki yang merasa tak terpuaskan.

Air matanya semakin berlinang tapi sengguknya sudah tak terdengar. Dia kembali menatapku setelah aku terpaku dalam tunduk. Matanya membawa binar. Mungkin saja ibunya akan membuka maaf untuknya. Dia berpikir, seburuk apapun yang dilakukan seorang anak saat ini, tidak akan ada ibu yang menutup pintu hati untuk darah dagingnya sendiri. Satu tekad yang terlihat dari mata birunya hanya ingin bertemu ibu.

***

Di telingaku Blue Moon masih saja mengalun. Namun bunyi lagu itu terdengar sayup dan kurang jelas. Kulepaskan pisau yang sedari tadi menancap di perutku. Semua perlahan menghitam dan gelap. Perlahan kulepas pandanganku dari cermin yang sedari tadi aku tatap.

 

Ruly R

Tergabung dan aktif di Komunitas Kamar Kata Karanganyar (K4) dan Literasi Kemuning. Bisa dihubungi lewat riantiarnoruly@gmail.com

 

[1] Nukilan lirik lagu Blue Moon

« Halaman sebelumnya

Halaman :   1 2 Tampilkan semua
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com