Beranda Panggung Sastra Pelukis Perempuan Telanjang | Cerpen: Ian & Yuditeha

Pelukis Perempuan Telanjang | Cerpen: Ian & Yuditeha

416
BAGIKAN
Ilustrasi

Hidup, barangkali memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir dan segalanya menjadi getir…*

Menjadi pelukis jalananlah yang mengharuskan ia selalu mengemper di pelataran Blok-M Square setiap senja. Belum lama ia jadi pelukis jalanan. Sebenarnya sudah limabelas tahun yang lalu ia mengawali menjadi pelukis tapi bukan di jalanan.

***

Limabelas tahun yang lalu ia merintis menjadi pelukis profesional. Dua tahun kemudian apa yang didambakan benar-benar terjadi, ia menjadi pelukis handal. Pengguna jasanya datang dari orang-orang terkenal dan berduit. Hasil karyanya pun selalu memuaskan pengguna jasanya.

Peristiwa besar terjadi di awal tahun ketiga saat ia mendapatkan tawaran dari seorang perempuan yang saat itu tiba-tiba hadir di tempat galerinya. Perempuan muda, ranum, cantik, dan seksi itu memintanya untuk dilukis telanjang. Memang selain dikenal sebagai pelukis wajah ia juga telah beberapa kali menerima tawaran melukis perempuan telanjang. Selama itu  ia selalu dapat bersikap profesional. Jadi ketika perempuan muda itu datang minta dilukis telanjang, ia tak begitu kaget. Apalagi dalam perkenalannya, perempuan itu mengaku sebagai pengagum karya-karyanya dan itu salah satu alasan kenapa ia ingin menggunakan jasanya.

Tapi saat ia menjalankan tugasnya untuk perempuan itu, jiwa kelaki-lakiannya kuat menggodanya. Pada waktu proses melukis ia harus berkali-kali menahan gejolak nafsunya. Tapi pada saat lukisan telah selesai, perempuan itu mendekati dirinya untuk melihat hasil lukisan, badan perempuan itu masih dibiarkan terbuka. Pelukis itu tak kuat lagi menahan hasrat lelakinya. Ibarat seribu setan telah masuk ke dalam dirinya, ia tak sanggup lagi menahan nafsunya. Seperti tamsil, tak bertepuk sebelah tangan, perempuan itu ternyata menerima segala perlakuannya. Pergumulan hebat dua tubuh itu terjadi dan tentu saja tak menyadari ketika saat itu istrinya tiba-tiba masuk ke ruang galeri dan menyaksikan semuanya.

Hari itu juga istrinya langsung pergi meninggalkannya. Bukan itu saja,  putri satu-satunya yang waktu itu genap berusia lima tahun ikut dibawa pergi dan tak pernah kembali lagi. Peristiwa itu membuat dirinya tertekan dan terpuruk.

Dulu ia pernah mengatakan bahwa keluarga adalah mutiara dalam hidupnya. Kebanggaan atas keluarganya sering tergambar dari rasa syukurnya memiliki istri yang baik dan menawan. Apalagi saat mendapati kenyataan bahwa apa yang jadi keinginannya mempunyai anak perempuan terkabulkan. Begitu ia tahu istrinya melahirkan seorang putri yang cantik, ttak henti-henti mulutnya berujar syukur dan tak bosan memuji putri mungilnya itu.

“Wahai putriku yang cantik, bahkan kau lahir dengan tanda lahir yang istimewa, sebuah penanda kau adalah putri yang menawan,”  begitulah salah satu pujian itu.

Peristiwa kehilangan itu membuatnya trauma. Ritme hidupnya menjadi kacau dan sering mabuk. Lebih parah lagi ia tak mau lagi mau berkarya. Untuk menopang hidupnya, satu demi satu koleksi lukisannya dijual hingga jatuh miskin. Praktis hampir selama sepuluh tahun hidupnya tidak keruan bahkan sesekali terlihat menggelandang.

Tapi tiga tahun yang lalu, ia mulai sadar jika tak segera bangkit bisa jadi akan mati sia-sia. Sejak saat itu ia bertekad kembali menekuni profesinya. Memang bukan perkara mudah mengambil kembali kejayaannya dulu karena namanya yang dulu telah tenggelam. Sadar akan hal itu, pertama-tama yang ia lakukan adalah mengganti namanya menjadi Manee yang berarti pelukis.

***

Begitulah cerita masa lalu Manee yang kini sedang merintis lagi sebagai pelukis. Ia  benar-benar merintis dari bawah dengan jadi pelukis jalanan. Dan di pelataran Blok-M Square itu ia tidak sendiri. Ada beberapa pelukis jalanan lainnya yang juga membuka usaha di sana, sama seperti dirinya. Tapi ia tidak merasa terganggu atau tersaingi. Menurutnya sesama seniman kanvas tak pantas untuk saling sikut, Tidak seperti dalam dunia politik. Dan ia tak ingin melakukan hal itu. Ia telah mendapat pelajaran dan pengalaman yang berharga. Jalan hidupnya dulu telah menempa dirinya. Ia juga berpikir bahwa Tuhan sudah menggariskan rezeki sendiri-sendiri.

Hari itu Manee menunggu lapaknya. Sejak senja hingga awan berubah kelam tak satu kali pun laku. Lebih tepatnya belum ada yang memakai jasanya. Kalaupun ia sedang melukis, itu pun pesanan dari pelanggannya kemarin.

Sepertinya beberapa hari ini memang jarang orang yang datang untuk memakai jasanya, dan ditambah lagi cuaca baru tidak bersahabat. Hujan selalu datang tanpa bisa diduga. Kebanyakan orang yang datang hanya sekedar lewat karena ingin berkunjung ke pusat belanja yang pelatarannya ia pakai. Kalau toh berhenti itu pun hanya untuk melihat-lihat saja, baik melihat lukisan atau melihat Manee yang sedang mengerjakan lukisannya.

“Silakan, Mbak, mau dilukis wajahnya?” Manee mencoba menawarkan jasanya pada seorang perempuan muda yang baru datang. Perempuan itu berpakaian serba ketat, tubuhnya dibalut tank top dan hot pants.

Perempuan itu hanya memberikan seulas senyum pada Manee. Lalu perlahan-lahan pergi tanpa sepatah kata. Ternyata perempuan itu telah dijemput oleh seorang lelaki perlente berjas, tubuhnya tambun dan berperut buncit, lebih cocok sebagai ayahnya,

Manee sudah bisa menerka profesi perempuan itu. Ia sering melihat perempuan itu berganti-ganti pasangan. Tapi ia tidak peduli dan tak ingin mencampuri urusan yang memang bukan urusannya. Manee sudah mahfum semua itu. Meski dalam hati ada keinginan mengumpat tapi Manee selalu berusaha eling pada Gusti Allah. Toh hal seperti itu sudah biasa ia saksikan. Mungkin hanya pil kesabaranlah yang sebenarnya ia butuhkan. Manee menghela nafas dalam-dalam.

Manee tiba-tiba ingat kopinya yang belum diminum, kopinya dan segera menyeruput kopi hitam kental tanpa gula itu dan menghisap kretek. Hanya itulah yang menjadi teman setia Manee. Ia tak memedulikan kesehatannya, meski ia sering mengeluh sakit pinggang. Bagi Manee yang penting bagaimana caranya lukisannya ada yang laku terjual sekedar untuk menyambung hidup.

Hujan bertambah lebat. Lapak Manee bertambah sepi. Lukisan-lukisan yang dijajarkan hanya membisu di emperan gedung pusat belanja itu. Diam, tidak bisa berbuat apa-apa pada tuannya. Hanya untuk sekedar punya rasa iba adalah sesuatu yang mustahil. Jikalaupun ada sebuah lukisan dapat merasa iba pada tuannya. Bah, apa kata dunia!

Pasti Manee bisa langsung terkenal lagi tapi bukan karena lukisannya yang hebat melainkan karena lukisannya memiliki hati seperti manusia. Hal itu tentu saja hanya imajiner belaka dan yang realita adalah kini ia seorang pelukis emperan yang kere.

Hujan tidak segera berhenti. Manee mulai putus asa. Tiba waktunya ia pun menyudahi lapaknya. Ia segera menutup lapaknya. Namun di saat lapaknya akan tutup, ia sedikit terkejut. Di hadapannya sudah ada perempuan muda cantik tersenyum manis padanya. Bahkan tanpa sadar mulutnya waktu itu bergumam, mengatakan bahwa perempuan itu bidadari, meski  tanpa sayap. Perempuan itu berpakaian longdress,  bersepatu high heels dan berkacamata hitam, lalu menyapa ramah Manee.

Sejenak Manee bengong. Pikirnya, apakah dirinya di dunia imajiner, seperti halnya melukis selalu memakai imajinasi.

Plak! Manee menampar pipinya. Ia merasakan sakit. Ia tidak bermimpi. Ternyata yang ia lihat nyata

“Ada yang bisa saya bantu, Nona?” tanya Manee sedikit kikuk.

“Saya ingin dilukis,” jawab perempuan itu.

Sebelum Manee menanggapi, ia sempat diam sejenak. “Hmm, sebenarnya saya sudah mau tutup, tapi jika…”

“Tidak sekarang karena saya buru-buru dan saya ingin tempatnya tidak di sini,” sahut perempuan muda itu memotong bicara Manee.

“Maksud Nona?” tanya Manee kurang paham.

“Saya ingin tempat yang spesial, tidak di keramaian seperti ini. Di puncak bisa, di taman bisa atau di tempat galeri Anda juga bisa,” jawab perempuan itu.

“Sebentar, sebentar. Maksud Nona lukisan apa?” Manee memberanikan bertanya.

“Biasa, lukisan wajah. Saya ingin lukisan itu spesial dan saya tidak nyaman harus diam lama di pinggir jalan seperti ini. Tentu Anda mengerti, kan?”

“Oh, saya paham. Hmm...”

“Saya mengerti. Tentang bayaran, saya harus membayarnya lebih mahal.”

Manee tersenyum.

Setelah terjadi kesepakatan harga, waktu dan tempat, sebelum perempuan muda itu pergi, dia mengambil uang dari dalam tas..

“Ini setengahnya, sisanya saat lukisan selesai,” katanya.

Seusai memberi uang, perempuan itu langsung pergi dan menghilang bersama mobil mewah yang membawanya entah kemana. Manee tidak ingin memikirkan hal itu. Yang pasti kini hatinya sedang diliputi kegembiraan karena penantiannya pada hari itu membuahkan hasil. Apa yang selama ini dipikirkan rupanya benar, jika sudah rezeki, tak akan kemana. Dengan gembira Manee menutup lapaknya, terlebih hujan belum juga reda dan ia merasa tak ada yang diharapkan lagi.

Waktu yang disepakati telah tiba dan tempat yang akan dipakai melukis di galeri Manee. Perempuan muda itu datang tepat waktu. Sementara Manee mempersiapkan bahan, peralatan lukis dan tempatnya, perempuan itu asyik mengamati koleksi lukisan Manee. Semua koleksi lukisan itu membuatnya terkagum-kagum. Lalu matanya penasaran dengan sesuatu. Sebuah barang yang ditutup dengan selembar kain besar.

“Yang di sana itu apa?” tanya perempuan muda itu.

“Bukan apa-apa,” jawab Manee singkat.

“Apakah lukisan juga?”

Hmm…”

“Boleh saya melihatnya?” Tanpa menunggu jawaban Manee, perempuan itu mendekati barang itu. Sampai di sana perempuan itu langsung membuka kain penutupnya.

Wow… fantastik. Indah sekali. Lukisan ini seperti hidup.”

“Saya mohon Nona segera menutupnya lagi.”

“Mengapa lukisan ini ditutupi?”

“Tidak ada alasan apa pun. Aku hanya ingin menutup. Begitu saja.”

“Saya ingin dilukis seperti itu.”

“Maaf Nona, saya sudah berjanji  untuk tidak melukis yang seperti itu.”

Benar. Meski di kehidupan Manee sudah tak ada lagi yang perlu dipertahankan. Tapi ia tak ingin mengulangi kisah dulu. Kisah yang membuatnya trauma.

Tapi sayangnya tekad Manee masih terlalu lemah. Entah bagaimana cara perempuan muda itu merajuk, pada akhirnya Manee tak kuasa menolak. Mungkinkah karena uang? Bukankah Manee yang sekarang melarat?

Manee telah siap melukis. Satu demi satu perempuan itu menanggalkan pakaian yang menempel di tubuhnya. Manee berusaha tegar. Meski begitu, ia sempat menelan ludah ketika perempuan itu melepas tali kutangnya. Buah dada ranum itu lepas dari sangkarnya. Kencang dan berisi, tampak seperti menegang.. Pada saat perempuan itu melepas celana dalamnya, Manee menyela.

“Lepasnya nanti! Izinkan saya membuat sket dulu. Silakan Nona mengatur gayanya.”

Perempuan itu membuat gaya berbaring dengan posisi miring mengarah ke depan, tangan kanan diletakkan di atas tubuhnya lurus sampai ke pantat. Sedangkan tangan kiri menyangga kepalanya agar dapat sedikit tegak. Rambutnya dibiarkan tergerai.

Dengan berusaha tetap teguh Manee mulai melukis perempuan muda itu. Sesekali mata mereka beradu yang sebenarnya bagi Manee padangan mata perempuan itu sangat menggoda. Tapi Manee tak ingin kehilangan fokus, sampai lukisan itu setengah jadi.

“Ma-maaf, sekarang Nona boleh melepas semuanya,” ujar Manee sedikit terbata.

Perempuan itu langsung terlentang, melepas penat sejenak, sebelum akhirnya melepas celananya dengan cara kaki sedikit diangkat.

“Kita lanjutkan sekarang?” tanya perempuan itu.

“Siap Nona. Kembalilah ke posisi semula,” sahut Manee.

Begitu tubuh perempuan muda itu kembali ke gaya semula, Manee mulai mengamatinya. Tapi pada detik itu juga Manee justru tak segera melanjutkan melukis, bahkan tangannya tampak mulai gemetar, sebelum akhirnya lunglai, seperti halnya apa yang terjadi dengan pusaka lakinya.

Ternyata Manee sangat terpukul saat ia melihat sebuah tanda lahir di tubuh perempuan itu. Tanda lahir itu persis berada di atas vaginanya, sama dengan tanda lahir yang pertama kali dilihatnya ketika putrinya lahir dulu.***

 

Catatan :

* Dikutip dalam sebuah cerpen berjudul “Kunang-kunang dalam Bir” karya Djenar Maesa Ayu dan Agus Noor 

——————————————

Ian, Penulis dan Pengajar Jurnalistik Tingkat Sekolah serta penikmat fiksi-fiksi bertemakan mitos dan urban legend. Aktif di Relawan Literasi Jakarta. Tinggal di Jakarta.

Yuditeha, Penulis fiksi yang aktif di Komunitas Sastra Alit Surakarta, dan Kamar Kata Karanganyar. Tinggal di Jaten, Karanganyar Jawa Tengah.