Beranda Umum Opini Flash Sale, Model Penjualan yang Membawa Berkah

Flash Sale, Model Penjualan yang Membawa Berkah

249
BAGIKAN
Anisa Dewi Kartika Sari,  Mahasiswa S2 Magister Managemen UNS

Baru-baru ini kita sering mendengar istilah flash sale, terutama dalam industri smartphone. Ini semua berawal dari Xiaomi yang mengadakan flash sale pertama kali di Indonesia pada awal Oktober 2017 dengan mengenalkan produk baru mereka yaitu Mi A1.

Dibandingkan para kompetitornya yang sama-sama produsen smartphone asal China yang lain seperti Oppo dan Vivo, perusahaan yang didirikan oleh Lei Jun ini memilih metode penjualan lain, yaitu dengan flash sale. Metode penjualan ini muncul pertama pada awal tahun 2000 yang diprakarsai oleh uBid dan Woot.com.

Flash sale (penjualan kilat) adalah diskon atau promosi yang ditawarkan oleh toko e-commerce dalam waktu singkat. Kuantitasnya terbatas, yang sering berarti diskon lebih tinggi atau lebih signifikan daripada promosi biasanya. Batas waktu dan terbatasnya ketersediaan menarik konsumen untuk membeli saat itu juga.

Umumnya, flash sale diadakan oleh e-commerce dengan terlebih dulu mengirimkan notifikasi kepada para pelanggan setia. Pihak Lazada menjelaskan bahwa ada “puluhan ribu masyarakat Indonesia” yang mendapatkan notifikasi untuk acara flash sale Mi A1. Dan dalam hitungan menit, klaim Achmad, produk itu terjual habis yang dikutip dari tirto.id.

Sebagai gambaran seberapa suksesnya flash sale, pada September 2014 Xiaomi mengadakan hal serupa di India dan hasilnya 100.000 unit ponsel terjual dalam waktu 4,2 detik.

Strategi penjualan online oleh Xiaomi via flash sale bukan perkara jual-beli semata. Selama ini Xiaomi memang dikenal produsen smartphone yang menjual produk dengan harga lebih murah dibanding produk kompetitor yang memiliki spesifikasi hampir mirip.

Flash sale adalah upaya Xiaomi menekan harga produk serta membangun antusiasme penggila yang akrab dipanggil “Mi Fans”. Rajendra Kumar Tolety, dalam “Hunger Marketing, Flash Sale and Cost Optimization Strategy of Xiaomi Inc.” (2017), mengungkapkan bahwa flash sale secara fundamental adalah upaya Xiaomi untuk menekan harga jual produk mendekati harga produksi. Ini salah satu upaya menekan biaya dari level operasional hingga level strategi.

Melalui metode itu Xiaomi mempraktikkan langkah pemasaran yang lahap. Cara ini demi menekan penawaran untuk tetap di bawah permintaan, sehingga menciptakan apa yang disebut kondisi “defisit semu.”

Secara sederhana, produk yang memanfaatkan strategi ini seolah-olah sangat laku hingga terkesan kehabisan stok. Dalam kasus Mi A1, gambaran itu bisa dilihat dari empat kali mengadakan flash sale pada Oktober dan sekali pada November. Xiaomi dan Lazada sukses menciptakan defisit semu. Dengan menciptakan kondisi demikian, Tolety mengungkapkan bahwa hal itu mendorong Xiaomi menegosiasikan ulang harga bahan baku smartphone dengan para supplier agar dapat menekan biaya produksi, sehingga mereka dapat menjual lebih murah dari para kompetitor selepas flash sale.

Menurut Tolety di bagian ini Xiaomi melakukan pendekatan yang radikal jika dibandingkan JIT yang dilakukan oleh Toyota yang bertujuan memangkas biaya yang terlibat dalam logistik masuk/ Xiaomi bekerja dengan strategi luar biasa untuk memotong biaya yang timbul dari panjangnya suatu proses logistik.

Baca Juga :  Perusahaan Ekspedisi Kini Jadi “Soulmate” Pebisnis Online

Sementara JIT kebanyakan tentang efisiensi operasional, strategi Xiaomi lebih banyak tentang perubahan paradigma dalam filosofi dasar dan strategi positioning merek dan saluran distribusi. Bagaimana Xiaomi mencapai ini adalah cerita panjang, tetapi untuk memotong cerita pendek, itu membawa inovasi ke dalam efisiensi biaya. Ini mendefinisikan kembali nilai dari suatu Supply Chain Management.

Pendapat dari analis industri ponsel, Pan Jiutang menyebut Xiaomi memiliki rantai pasokan yang masih tergolong kecil. Akibatnya, pabrikan ponsel asal Tiongkok ini pastinya akan kesulitan memenuhi permintaan pelanggan dalam jumlah banyak. Oleh karena itu, Xiaomi pun menerapkan strategi flash sale.

Dengan strategi ini, pasokan yang ada di pasaran pun akan dengan cepat habis, selagi perusahaan menyiapkan stok baru. Ini memberikan waktu untuk melakukan produksi yang sudah didasarkan perkiraan permintaan yang sudah lebih pasti karena dilihat dari catatan flash sale sebelumya.

Strategi ini tidak akan berjalan mulus bila tidak didukung oleh konsumen yang loyal terhadap suatu brand yang akan mengadakan flash sale tersebut. Pada titik inilah “Mi Fans” berperan penting menyukseskan rilisan ponsel baru Xiaomi.

Chao Ching Shih dalam “Fan-centric social media: The Xiaomi phenomenon in China” (2014) menulis bahwa kelahiran “Mi Fans” lahir dari pendekatan online. Kondisi semakin bertambahnya penduduk yang mengakses internet dan memanfaatkan media sosial, membuat Xiaomi percaya diri untuk memenangkan hati kerumunan di ranah media sosial. Keuntungan dari keadaan tersebut tinggal dipetik saat flash sale digelar, produk Xiaomi bisa terjual hingga ludes dalam hitungan detik bahkan banyak yang tidak mendapatkannya. Hal inilah yang dinamakan sebuah metode pemasaran yang lapar.

Metode ini bukan tidak ada celahnya, dengan terlalu ketergantungannya dengan internet, menjadikan penjulan offline atau langsung menjadi tidak efektif. Karena seperti kita ketahui, masih banyak penduduk Indonesia yang belum terjangkau internet.

Akamai, provider Content Delivery Network (CDN), pada Maret 2017 pernah merilis tingkat penetrasi internet di Indonesia sebesar 50,4 persen. Xiaomi sadar soal situasi itu dan mulai mencoba beradaptasi.

“Belakangan Xiaomi tidak hanya fokus dalam channel online, kami bekerja sama dengan distributor lokal kami, Erajaya. Kami telah membuka tiga Authorized Mi Store yang berlokasi di Summarecon Mall Serpong, Pondok Indah Mall, dan Summarecon Mall Bekasi. Sampai akhir tahun ini, kami akan membuka sampai 15 Authorized Mi Store di beberapa kota besar di Indonesia,” kata pihak Xiaomi Indonesia dilansir dari tirto.id. *****