JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Kontrol Orang Tua untuk Bacaan Anak Masih Lemah, Ini Akibatnya

Ilustrasi/Tempo.co

JAKARTA – Di tengah kondisi yang semakin modern dan kompleks,  kebanyakan orang tua dinilai masih lemah dalam hal kontrok terhadap bacaan anak-anak. Hal itu, salah satunya berakibat pada trend maraknya anak-anak yang kedapatan melanggar hukum.

Komisioner Bidang Anak Berhadapan Hukum dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Putu Elvina, mengatakan saat ini tengah menyoroti penyebab seorang anak bisa menjadi pelaku pelanggaran hukum. Di Hari Anak Nasional 2018, KPAI merilis temuannya.

Berdasarkan survei KPAI terhadap 198 anak yang berhadapan hukum di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA), ditemukan penyebabnya adalah orang tua kurang memberi perhatian terhadap kontrol bacaan, tontonan, dan mainan yang mengandung unsur kekerasan serta bahaya narkoba terhadap anak-anaknya.

Baca Juga :  Emak-emak Penggunting Bendera Merah Putih Resmi Ditetapkan sebagai Tersangka, Terancam Hukuman Penjara 5 Tahun atau Denda Rp500 Juta

“Dalam temuan kami, orang tua sudah cukup baik dalam pengasuhan kepada anak terkait sopan santun dan pendidikan agama, namun kurang baik dalam kontrol bacaan, tontonan, dan mainan kekerasan serta bahaya narkoba,” ujar Putu di Jakarta, Senin, 23 Juli 2018.

Selain itu, KPAI juga menemukan sebanyak 43,1 persen dari 198 anak yang berada di LPKA pernah mengalami kekerasan dari orang tua, baik kekerasan fisik maupun psikis. “Ada dua kelemahan pengasuhan yang perlu mendapatkan perhatian, yaitu aktivitas bersama dengan keluarga dan penghargaan orang tua ketika anak berprestasi,” kata Putu.

Baca Juga :  Covid-19 Renggut 115 Nyawa Dokter, Syafi’i Ma’arif Minta Jokowi Suruh Terawan Lebih Serius

Kasus paling umum yang menyebabkan seorang anak berada di LPKA secara berturut-turut adalah tindak pidana pencurian (23,9%), narkoba (17,8%), asusila (13,2%), persetubuhan (12,7%), pembunuhan (12,2%), penganiayaan (9,1%), pencabulan (7,1%), kepemilikan senjata tajam (2%), dan lainnya (2%).

“Faktor-faktor pendorong anak melakukan kejahatan bisa dari pengaruh pergaulan, kebebasan yang berlebihan, pengaruh media sosial, kurangnya dasar-dasar agama dan tontonan pornografi,” kata Putu.

www.tempo.co