loading...


Rachma Revida, Mahasiswa S2 Magister Manajemen UNS

Memulai bisnis tanpa meramalkan masa depan bisnisnya, ibarat bertanding tanpa persiapan matang. Memperkirakan keadaan masa depan adalah hal yang vital  dan wajib dilakukan oleh setiap pelaku bisnis. Banyak orang selalu bertanya, “bukankah forecasting itu sulit? Apa lagi jika kita tidak punya data, apa lagi baru memulai bisnis”.

Pertanyaan ini menuntun kita untuk dapat memahami forecasting dengan lebih baik, yakni  tentang bagaimana dan mengapa forecasting dapat membantu manajemen bisnis mengatur strategi dan memprediksi keadaan di masa depan, terutama pada bisnis startup.

Forecasting  dalam hal ini dilakukan dengan beberapa asumsi yang kuat, melihat penggerak pasar dan asumsi yang realistis akan biaya yang muncul.

Banyak yang beranggapan bahwa forecasting (peramalan)  hanyalah sebuah perkiraan, karena menurut mereka tidak ada yang pasti dalam dunia bisnis.

Namun bukankah strategi dibuat dengan memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan? Memang terlihat sulit untuk melakukan forecasting, namun akan lebih sulit menjalankan bisnis tanpa memiliki perkiraan akan masa depan bisnis tersebut. Contohnya, dalam meramalkan bisnis online berbasis web, kita harus mempertimbangkan jumlah pengunjung web, stimulus dan penggerak agar pengunjung bisa terarahkan pada website kita.

Penggerak pengunjung website ini contohnya adalah optimalisasi mesin pencarian web seperti Google dan iklan pada beberapa website besar yang sering dikunjungi oleh pengguna internet. Meskipun terlihat sulit, namun banyak perusahaan yang telah menemukan bahwa ada beberapa metode yang akurat dan mudah untuk melakukan peramalan permintaan.

Tentukan Variabel

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi interaksi sehari-hari antara bisnis dan pelanggannya. Saat mengestimasi jumlah pelanggannya, umunya sebuah entitas bisnis menggunakan jumlah pelanggan yang bertransaksi dengan mereka pada tahun lalu. Meskipun banyak faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi akurasi peramalan, seperti cuaca ataupun kondisi ekonomi dan faktor-faktor eksternal lain yang ada, namun hal ini seharusnya dapat diatasi dengan membuat strategi alternatif atau plan B.

Memperhatikan variabel-variabel yang ada adalah langkah pertama dalam forecasting. Jika kita tidak mampu menyerap informasi-informasi akan variabel tersebut, maka kita tidak akan dapat meramalkan kondisi pasar dan strategi pun juga akan sulit untuk dibuat. Selanjutnya, kita perlu membuat riset terhadap data historis seperti data cuaca, perubahan gaya hidup konsumen dan kondisi ekonomi dapat membantu kita dalam meramalkan permintaan di masa depan. Karena dengan membandingkan data dari waktu ke waktu, kita akan mampu melihat pola perubahan yang terjadi pada bisnis yang dijalankan.

Gunakan Data yang Tepat

Umumnya pelaku bisnis sering mengalami kekeliruan dalam pemilihan data. Mereka sering kali “mengunyah melebihi apa yang mampu mereka telan”, dengan sikap ambisius, sehingga data yang ada membuat peramalan tidak akurat.

Selain itu, tak dapat dipungkiri bahwa bisnis yang telah lama berjalan akan memiliki data yang lebih baik dibandingkan perusahaan startup. Lebih banyak data yang dimiliki, maka akan lebih akurat peramalan yang dilakukan. Namun, tak berarti bahwa perusahaan baru tak mampu meramalkan kondisi bisnisnya, karena dengan data eksternal pun sebuah bisnis akan dapat melakukan peramalan yang akurat.

Memahami Bisnis Kita Sendiri

Tidak dipungkiri bahwa dalam menjalankan bisnis, kita sering mengalami kebingungan akan bagaimana kondisi bisnis kita      sendiri. Kebingungan ini dapat berbahaya terhadap keberlangsungan bisnis kita sendiri. Oleh karena itu, memahami budaya, kebiasaan dan perubahan-perubahan yang terjadi pada bisnis harus dilakukan.

Selain dari pembelajaran, pemahaman ini dapat begitu saja terjadi dengan pengalaman kita dalam menjalankan bisnis. Seiring waktu, kita akan memahami bagaimana bisnis kita berjalan, dan mulai belajar bagaimana kondisi bisnis kita  dari waktu ke waktu. Hal ini memberikan kita intuisi dan insting bagaimana mengatur strategi dengan memperhatikan kebiasaan-kebiasaan yang terjadi saat menjalankan bisnis kita.

Untuk hasil yang terbaik dalam peramalan bisnis, maka dapat digunakan kombinasi antara data dan pemahaman kita terhadap bisnis kita sendiri. Dengan kombinasi yang sempurna, maka peramalan dapat dengan mudah dilaksanakan dan strategi pun bisa akurat.

Kegagalan Dalam Forecasting

Tingkat akurasi yang rendah pada peramalan bisa menjadi hal yang serius. Kasus yang terjadi salah satunya pada US Airways yang menjual tiket melebihi kaspasitas penerbangannya. Hal itu mengakibatkan penumpang yang sudah memiliki tiket diusir keluar pesawat karena kapasitas pesawat sudah penuh.

Strategi ini disebut sebagai strategi overbooking, dimana hal ini dilakukan perusahaan karena beranggapan bahwa tidak semua penumpang yang membeli tiket pesawatnya akan melakukan perjalanan, karena sakit, terlambat check in, membatalkan penerbangan, ataupun mengganti jadwal penerbangannya.

Dalam melakukan strategi ini perusahaan maskapai penerbangan melakukan peramalan akan jumlah penumpang yang diperkirakan membatalkan perjalanannya. Dalam kasus tersebut, dapat dilihat bahwa perusahaan gagal melakukan peramalan dengan akurat, sehingga mengakibatkan kerugian penumpangnya.

Tidak Adanya Kepastian dalam Perencanaan

Tidak dapat dipungkiri bahwa tidak ada kepastian dalam hal peramalan. Oleh karena itu, sebuah aktivitas bisnis harus akurat dalam melakukan peramalan. Selain itu juga dibutuhkan respon yang cepat terhadap perubahan ataupun gangguan yang mungkin dialami.

Untuk dapat melakukan peramalan yang akurat, tentu saja dalam beraktivitas bisnis, kita  harus tepat dalam mengolah data dan informasi untuk peramalan. Selain itu strategi yang tepat juga harus dimiliki untuk mengatasi segala kemungkinan yang ada, termasuk menyiapkan strategi tambahan apabila peramalan yang dilakukan meleset dari kenyataan ada. ****

Loading...