Site icon JOGLOSEMAR NEWS

BMKG: Hingga Kini, Tidak Ada Satupun Lembaga Resmi dan Pakar yang Mampu Prediksi Gempa

Kondisi rumah warga di Gumantar, Lombok Utara yang hancur pasca gempa dahsyat. Foto/Humas Kabemp

BANDUNG-Lombok yang diguncang gempa secara berulang-ulang hampir sebulan lamanya membuat kecemasan di masyarakat. Dari peristiwa alam tersebut sebagian warga menuntut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) membuat prediksi atau ramalan gempa terkait isu gempa besar yang akan terjadi.

“Agar tenang, mereka maunya ada informasi sebelum gempa,” kata Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Pengingatan Dini Tsunami BMKG Daryono, Minggu (26/8/2018).

Desakan ke BMKG seperti itu muncul pasca-gempa kuat bermagnitudo 6,4 pada 29 Juli lalu, di antaranya lewat media sosial. Informasi terbaru setelah rangkaian gempa selama ini dinilai tidak berguna.

“Kami maklum karena mereka tidak mengerti, sedang emosional dan goyah, sehingga menuntut adanya ramalan,” kata Daryono. Prediksi yang diharapkan yaitu waktu pasti gempa selanjutnya dan angka besaran kekuatan lindunya.

Upaya peramalan gempa sebenarnya telah lama dilakukan di berbagai negara demi menghindari kematian dan korban luka secara massal. Misalnya, di Jepang pada masa kerajaan di akhir abad ke-19 dengan pengamatan kondisi alam hingga perilaku binatang. Namun para ahli dan peneliti gempa sedunia sejauh ini belum pernah ada yang sukses, pun setelah mengerahkan teknologi dan metode terbaru.

Daryono mengatakan, Cina pernah sukses memprediksi gempa Haicheng yang bermagnitudo 7,5 pada 4 Februari 1975. Proses peramalan sejak medio Desember 1974 itu berhasil memindahkan penduduk beberapa jam sebelum gempa. Hampir 90 ribu orang selamat, sementara kota hampir hancur total.

Tapi keberhasilan itu hanya sekali. Dengan metode yang sama serta dukungan teknologi canggih, peramalan selanjutnya gagal mendahului gempa-gempa besar berikutnya di Cina. Peramalan gempa di Jepang pun, kata Daryono, meleset ketika muncul gempa Tahoku 2011. Peneliti yang meramal gempa sesar San Andreas di Amerika Serikat juga ada yang menyerah.

Konon hanya Cina kini yang masih meneliti prediksi gempa. Sementara Jepang dan Amerika Serikat, kata Daryono, mengalihkan alokasi anggaran dananya untuk mitigasi gempa, seperti penguatan struktur bangunan dan masyarakat di kawasan berisiko. Kajian prediksi tetap dilakukan namun bukan prioritas.

“Hingga saat ini, tidak ada satupun lembaga resmi dan pakar yang kredibel dan diakui mampu memprediksi gempa,” kata Daryono.

Pakar gempa sedunia banyak yang mengakui gempa belum dapat diprediksi dengan akurat waktu dan tempat serta besaran guncangannya. BMKG meminta masyarakat agar bisa memahami kondisi ini dan tidak terpancing kabar palsu (hoax) yang beredar, seperti ancaman gempa dalam waktu dekat dengan skala lebih dari magnitudo 7,0.

Isu seperti itu dinilai sebagai teror baru pasca rangkaian gempa Lombok. Siapapun, kata Daryono, bisa membuat tulisan semacam informasi gempa dan prediksi gempa lalu diunggah ke media sosial.

BMKG meminta masyarakat hanya memegang informasi gempa dari sumber-sumber resmi dan terpercaya. “Ada alamat kantornya, ada nomor telepon yang dapat dihubungi dan ada nama petugas yang bertanggungjawab,” kata Daryono.

Exit mobile version