Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Mengupas Calon-calon Kades di Sragen. Belasan Tahun Merantau, Sarjono Mengaku Terpanggil Melihat Kondisi Desanya Yang Masih Tertinggal 

Sarjono. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Pilkades serentak yang akan dihelat di 167 desa di Sragen 26 September mendatang, banyak diwarnai kemunculan calon-calon muda usia.

Seperti Pilkades Desa Kacangan, Sumberlawang. Dari tiga kandidat yang akan maju, satu di antaranya masih terbilang muda.

Dia adalah Sarjono. Calon muda berusia 40 tahun asal Dukuh Toro Kidul RT 6, Kacangan, Sumberlawang itu akan bersaing dengan dua kandidat untuk memperebutkan tampuk pimpinan di Desa Kacangan.

Keikutsertaan Sarjono menyisakan cerita menarik. Pasalnya dia mengaku tergerak untuk pulang dan ikut maju Pilkades karena tingginya dorongan warga yang prihatin melihat kondisi desanya.

“Saya merantau ke Jakarta sejak 2005. Di Jakarta merintis usaha swasta sampai sekarang. Ceritanya maju ke Pilkades karena dorongan warga yang menginginkan saya maju dan membawa perubahan untuk desa. Karena keluarga juga mendukung, akhirnya saya bulatkan niat untuk ikut maju,” papar Sarjono, kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Minggu (15/9/2019).

Sarjono yang berpenampilan sederhana dan bersahaja itu menuturkan selain dorongan warga, keinginannya untuk maju tak lepas dari nalurinya yang merasa terpanggil melihat kondisi desanya. Ia merasakan selama ini desanya masih tertinggal jauh dari desa-desa lainnya di Sumberlawang.

Padahal sumberdaya alam dan potensi di desanya cukup potensial untuk diberdayakan demi kemajuan desa.

“Setiap saya pulang ke kampung, rasanya terpanggil setiap melihat desa saya kok masih sama dan belum bisa seperti desa lain yang sudah lebih maju.  Makanya visi misi saya yang utama adalah ingin mengabdikan diri membantu membangun desa agar lebih maju dan masyarakatnya makmur. Biar lepas dari keterbelakangan,” tukasnya.

Lebih lanjut, ia yang akan maju dengan nomor urut 3 itu menambahkan selain pemberdayaan potensi desa dan pembangunan infrastruktur, hal lain yang akan dibenahi adalah transparansi pemerintahan serta pengentasan kemiskinan.

“Bahwa hakekatnya pemimpin atau perangkat itu adalah untuk melayani masyarakat. Dan sebagai warga yang lahir dan dibesarkan di desa, sudah sewajarnya kalau semua punya rasa tanggungjawab untuk ikut andil membangun tanah kelahiran kita,” tandasnya. Wardoyo

 

 

 

Exit mobile version