JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Warga Anggap Klinik Biasa, Ternyata Klinik Aborsi

Penyegelan rumah bernomor 61 tersebutu dilakuka pada Jumat (14/2/2020).  Polisi menyebut, rumah tersebut ternyata dijadikan klinik aborsi.

“Gak nyangka. Saya kira klinik biasa,” ujar Nuris, seorang warga yang tinggal 100 meter dari lokasi rumah itu.

Nuris menjelaskan, selama ini ia tak melihat ada aktivitas mencurigakan di klinik tersebut. Apa lagi, tak ada plang yang menandakan lokasiitu merupakan sebuah klinik.

“Kayak rumah biasa. Saya gak tahu itu klinik,” kata dia.

Warga lain yang rumahnya tak jauh dari lokasi kejadian, Silvi, mengaku pernah mendengar soal praktik aborsi di sekitar Paseban. Namun dia takmenyangka klinik tersebut adalah rumah yang selalu ia lewati.

“Memang terlihat selalu kosong. Warga jadi tidak ada yang curiga,” kata Silvi.

Polres Jakarta Pusat sebenarnya menggerebek rumah tersebut pada Selasa, 11 Februari 2020. Namun warga baru heboh ketika rumah tersebut disegeldan didatangi puluhan wartawan.

Penggerebekan itu sendiri bermula dari laporan masyarakat tentang adanya praktik aborsi di sana. Polisi kemudian melakukan pengintaianselama beberapa hari hingga akhirnya melakukan penggerebekan.

Baca Juga :  Jateng No 1, Ini 5 Provinsi dengan Jumlah Sepeda Motor Terbanyak 2022

Ketika digerebek, polisi menangkap basah dokter berinisial MM atau A, bidan RM, dan pegawai SI yang tengah melakukan aborsi terhadap duapasien. Saat itu, mereka baru saja menggugurkan dua janin.

Tak cuma itu, Polisi juga menemukan buku catatan keuangan klinik ilegal tersebut. Menurut catatan tersebut diketahui bahwa klinik tersebut sudahberoperasi 21 bulan dan menangani 1623.

“Total pendapatan klinik itu Rp 5,4 miliar,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Yusri Yunus di lokasi klinik.

Untuk mendapatkan pasien, menurut Yusri, klinik ini menjalin jaringan dengan 50 bidan. Dari merekalah, pasien mengetahui adanya klinikaborsi di kawasan tersebut.

“Mereka punya jaringan sampai 50 bidan di luar,” ujar Yusri.

Para bidan itu, kata Yusri, akan mendapatkan komisi jika ada pasien yang datang ke klinik dari hasil rekomendasi mereka. Besaran komisitersebut adalah Rp 900.000 per pasien.

Baca Juga :  Ribuan Buruh Bakal Gelar Aksi Besar-besaran Pekan Depan, Ini Sederet Tuntutannya  

Saat ini polisi masih menyelidiki keterlibatan para bidan tersebut. Yusri juga menyatakan bahwa bukan hanya satu dokter yang berpraktekdi sana.

“Dari hasil perkembangan, ada beberapa dokter yang melakukan aborsi di klinik ini, sementara ini klinik ilegal,” ujar Yusri.

Untuk ketiga tersangka, menurut Yusri merupakan residivis kasus yang sama. Dokter MM alias A, Yusri mengatakan, pernah terlibat kasus yang samapada 2016 dan ditangkap Polres Bekasi. Saat itu, ia hanya divonis penjara 3bulan saja.

Pelaku RM ternyata juga residivis kasus yang sama dan pernah dipenjara selama 2 tahun.

“Ketiga SI, karyawannya untuk bagian pendaftaran. Dia juga resedivis dan pernah divonis 2 tahun 3 bulan dengan kasus yang sama,” ujarYusri.

Ketiga pelaku aborsi tersebut kini dijerat dengan UU kesehatan, UU tentang Tenaga Kesehatan nomor 26 tahun 2014, UU tentang Praktik Kedokterandengan ancaman hukuman penjara lebih dari 10 tahun.

www.tempo.co

« Halaman sebelumnya

Halaman :   1 2 Tampilkan semua
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com