Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Enam Tugu Perguruan Silat IKSPI Sragen Dilaporkan Hancur Dirusak. Satu Rumah Anggota IKSPI di Sine Juga Dirusak Ribuan Massa Yang Konvoi Semalam

Kondisi enam tugu milik perguruan silat IKSPI Sragen yang dirusak massa tak bertanggungjawab, Sabtu (28/3/2020). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM
Perguruan Kera Sakti atau Ikatan Keluarga Silat Putra
Indonesia (IKSPI) Sragen melaporkan sebanyak enam tugu milik IKSPI di enam wilayah menjadi sasaran pengrusakan, Jumat (27/3/2020) malam hingga Sabtu (28/3/2020) dinihari.

Tidak hanya itu, satu rumah warga IKSPI di Bangak, Sine, Kelurahan Sragen Kulon, juga dilaporkan dirusak oleh ribuan massa yang berkumpul dan berkonvoi di ring road utara Sragen semalam.

Insiden dugaan pengrusakan enam tugu lambang IKSPI itu diungkapkan oleh
Ketua IKSPI Kabupaten Sragen, Waluyo, Sabtu (28/3/2020). Kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , ia mengatakan enam tugu IKSPI yang dirusak itu antara lain di Bangak Sine Sragen Kota.

Lalu di Pelemgadung Karangmalang, di Pengkok Kedawung, di Karang Tanjung Karangmalang, di Dawangan Purwosuman Sidoharjo dan satu lagi di Purworejo.

Mayoritas tugu itu dirusak dengan cara dihancurkan tulisan Kera Saktinya, dirobohkan, hingga digempur bangunannya sampai roboh.

“Kami enggak tahu siapa pelakunya. Yang jelas tahunya tadi pagi dapat laporan dari ranting di wilayah yang dirusak,” paparnya.

Waluyo menguraikan selain enam tugu, semalam sebelumnya juga ada insiden pengrusakan di Mondokan.

Kerusakan itu di antaranya ada kios, bengkel, fasilitas umum seperti tiang lampu dan satu sepeda motor di Mondokan yang juga dirusak oleh massa tak bertanggungjawab.

“Semua yang dirusak itu milik masyarakat umum. Kalau pemiliknya nama-namanya siapa, kami kurang tahu. Kejadiannya sesudah insiden penganiayaan di campursari di Mondokan kemarin itu,” terangnya.

Lebih lanjut, Waluyo mengatakan sampai saat ini pihaknya belum melaporkan ke pihak kepolisian. Namun pihaknya berencana tetap melaporkan insiden pengrusakan itu.

“Mungkin nanti biar dari teman- teman yang akan melaporkan,” terangnya.

Kepada kepolisian, ia berharap IKPSI hanya meminta keadilan atas insiden pengrusakan simbol tugu milik IKSPI itu. Pihaknya meminta kepolisian bisa mengusut tuntas kasus itu.

Salah satu tugu yang dirusak adalah di wilayah Kampung Bangak, Sine, Sragen. Selain itu, rumah milik Eko Suroto (57) di Bangak RT 2, Sine, Sragen yang ada disebelah tugu, juga jadi sasaran massa dan dirusak.

Eko mengatakan sebenarnya dirinya bukan pengurus atau anggota IKSPI. Namun ia mengaku jika putranya ikut perguruan itu.

Menurutnya, aksi pengrusakan tugu IKSPI di sebelahnya itu terjadi sekitar pukul 23.00 WIB saat ribuan massa berkumpul di dekat tugu tadi malam.

“Saya tadi malam pas di rumah, tiba-tiba jam 23.00 WIB datang ribuan massa pakai motor. Lalu mereka bilang brukno-brokno (Robohkan) kemudian tugu IKSPI di sebelah saya itu dirusak pakai linggis dan besi portal jalan. Kemudian rumah saya dilempari batu kena kaca meja di teras sampai pecah. Pintu besi juga ditendang sampai penyok, genting yang atas dan asbes juga rusak dilempari batu. Pintu gerbang juga dijebol,” tuturnya.

Ia mengaku tidak tahu dari kelompok apa ribuan massa itu. Sepengetahuannya, rombongan itu tidak mengenakan seragam atau atribut perguruan silat.

“Saya belum lapor polisi. Tapi tadi malam Pak Polisi sudah bawa barang-barang seperti linggis besar yang digunakan massa itu untuk nggempur tugu,” jelasnya.

Terpisah, Kasubag Humas Polres Sragen, AKP Harno mewakili Kapolres AKBP Raphael Sandy Cahya Priambodo mengatakan sejauh ini belum ada laporan ke Polres soal dugaan pengrusakan enam tugu milik IKSPI itu.

“Kalau ada laporan tetap kami tindaklanjuti. Nunggu dulu laporannya masuk. Kita belum tahu karena kejadiannya juga baru tadi malam. Kalau sudah ada laporan, pasti Pak Polisi akan melakukan tindakan,” tegasnya.

Terpisah, Ketua PSHT Cabang Sragen Pusat Madiun , Jumbadi mengatakan konvoi ribuan massa yang berkumpul di Sragen Kota dan wilayah ring road Sine Sragen, belum tentu semuanya massa PSHT.

Sebab pantauannya di lapangan sejak sore, mayoritas massa itu tidak mengenakan atribut PSHT. Selain itu, sore harinya pihaknya juga sudah menggelar rapat darurat disaksikan Kapolres dan menyepakati tidak ada pengerahan massa.

“Kalau kemudian ada ribuan massa yang kumpul, belum tentu juga mereka adalah warga PSHT semua. Makanya kami berharap pihak kepolisian bisa mengusutnya, termasuk pengrusakan tiga tugu milik PSHT di Sukodono dan Sidoharjo kemarin malam,” tandasnya. Wardoyo

Exit mobile version