Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Petani Sragen Kelabakan, PT Pusri Ungkap Ada Penyalur Malah Menolak Dikirimi Pupuk Alasannya Takut Diserbu Petani. Agus: Negara Sedang Sakit, Tidak Mungkin Kita Terus Menerus Disuapi Barang Subsidi!

Perwakilan dari PT Pusri, Agus Suprayogi (kiri) dan dari Petrokimia Gresik, Sugianto (kanan). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Misteri hilangnya pupuk bersubsidi di kios-kios penyalur resmi di beberapa wilayah Sragen, perlahan mulai terkuak.

Pihak PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) sebagai produsen Urea, mengungkap memang ada penyalur yang menolak dikirimi. Kemudian ada pula penyalur yang belum mengajukan permintaan ke distributor.

Hal itu diungkapkan Senior Sales Executive PT Pusri, Agus Suprayogi saat dihadirkan dalam pers rilis di ruang Rapat Sekda Sragen kemarin.

Di hadapan wartawan ia mengatakan untuk stok Urea bersubsidi untuk Sragen, sebenarnya masih aman. Stok urea yang ada di gudang Kaliwuluh Grompol masih ada 4.864 ton dan bisa ditambah 5.000 ton lagi.

Kemudian untuk penebusan dari alokasi 33.400 ton, per 31 Oktober sudah terealisasi 21.688 ton atau 65 persen. Penyaluran ke kios dilaporkan hingga kini sudah mencapai 20.158 ton.

“Apabila masih membutuhkan kami siap dukung dari gudang Palur. Kami dari PI juga menyiapkan pupuk nonsubsidi. Makanya kalau belakangan ada banyak muncul di FB, Twitter dan media sampai ke Gubernur itu (pupuk langka), sebenarnya tidak ada kelangkaan,” katanya.

Agus kemudian menyampaikan sesuai SE Kementan, alokasi pupuk bersubsidi memang berkurang hampir 40 persen. Kondisi itu tentunya dari dinas pertanian bisa melihat alokasi dan mengajukan tambahan ke provinsi jika mengalami kekurangan.

Ia menyebut untuk September, Sragen mendapat tambahan 8.300 ton Urea. Menurutnya permasalahan soal pupuk terjadi karena subsidi memang berkurang tiap tahun.

“Tidak ada yang salah. Petani tidak salah, dinas, produsen, presiden juga tidak salah. Yang salah adalah kemampuan pemerintah dalam menyediakan subsidi. Banyak sekali subsidi yang harus ditanggung pemerintah. Sekarang ini negara sedang sakit, perlu biaya. Petani dianjurkan mandiri gunakan nonsubdi. Tidak mungkin kita terus menerus disuapi barang subsidi. Jangan sampai merengek-rengek minta subsidi terus. Karena baku pupuk itu gas yang nilainya terafiliasi dolar,” terang Agus.

Kemudian muncul beberapa pertanyaan soal keluhan petani di Tanon, Sidoharjo, Gondang dan beberapa wilayah yang saat ini butuh pupuk tapi stok di penyalur kosong.

Agus menyebut untuk Sidoharjo dari alokasi 2.015 ton, sudah terdistribusi 1.213 ton dan tersisa 801 ton untuk dua bulan. Kemudian untuk Tanon dari alokasi 2.030 ton, sudah terealisasi 1.135 ton dan ada sisa 845 ton.

Soal penyalur masih kosong, ia mengakui karena ada yang belum mengajukan permintaan ke distributor.

“Saya belum tahu pasti, tapi ini kami dapat informasi ada kios yang tidak mau dikirimi. Alasannya ketakutan. Takut diserbu petani. Kami akan terus fasilitasi. Kalau ada stok kosong di Gawan, sebentar saya lihatnya. Memang ada penyalur yang belum menebus,” kata Agus.

Atas kondisi itu, Agus mengatakan pihak produsen memastikan akan menyiapkan dalam 3 minggu ini. Ia menambahkan menjelang momen politik Pilkada, barang-barang bersubsidi baik pupuk atau gas pasti akan rawan menjadi ranah-ranah politik.

Sementara, Staff Perwakilan Daerah Tinjauan (SPDT) PT Petrokimia Gresik, Sugianto mengatakan untuk ketersediaan pupuk bersubsidi dari Petrokimia, sudah siap untuk stok 2 minggu ke depan.

Di gudang Ngrampal Sragen stok ZA masih 563 ton, SP36 174 ton, 1500 ton Phonska. Lalu di gudang 2 Sambungmacan stok ZA masih 573 ton, SP36 132 ton, Phonska1977 ton dan Petroganik 996 ton.

Sedangkan di gudang 3 Karanganyar, stok ZA ada 276 ton, SP36 73 ton, Phonska 1.063 ton dan Petroganik 180 ton.

“Pada prinsipnya stok untuk kebutuhan 2 minggu ke depan sudah cukup bahkan lebih. Kami tetap lakukan perencanaan. Hari ini sudah mulai ada penebusan. Sisa alokasi mudah-mudahan cukup,” katanya. Wardoyo

Exit mobile version