Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Tidurnya Orang Puasa Adalah Ibadah? Ini yang Dicontohkan Rasulullah Saat Berpuasa di Siang Hari

Ilustrasi/Foto: UIN Jakarta

JOGLOSEMARNEWS.COM Banyak orang mengatakan bahwa tidurnya orang berpuasa adalah ibadah. Padahal, tidak dibenarkan jika puasa hanya dijadikan alasan untuk tidur-tiduran atau bermalas-malasan, terutama di siang hari.

Usut punya usut, dalil agama yang biasa dijadikan tameng oleh orang-orang tersebut adalah hadis palsu yang sering disandarkan kepada Rasulullah SAW. “Tidurnya orang berpuasa adalah ibadah.”

Dengan landasan hadis palsu tersebut, biasanya mereka menjawab kritikan orang-orang yang mencoba menasehati mereka untuk tidak terlalu banyak tidur ketika berpuasa di bulan Ramadan.

Rasulullah sebagai manusia terbaik, serta terdekat dengan Allah SWT, sangat mengetahui keutamaan bulan Ramadan.

Oleh karena itu, selama hidupnya beliau tidak pernah menyia-nyiakan waktu di bulan Ramadan yang penuh dengan keberkahan dengan cara memperbanyak tidur, baik di siang hari, maupun di malam hari.

Beliau sangat memahami bahwasanya waktu di bulan Ramadan dipenuhi dengan keberkahan yang melimpah. Oleh karenanya beliau selalu memanfaatkan waktu di bulan Ramadan baik siang maupun malam untuk meningkatkan kapasitas amal kebaikan sebagai hamba Allah SWT.

Bahkan, jika pada bulan-bulan selain Ramadan beliau dikenal dengan pribadi yang sangat antusias untuk melakukan kebaikan.

Tak ayal, di bulan Ramadan aktivitas kebaikan beliau meningkat hingga berlipat-lipat, dan beliau tidak bermalas-malasan meskipun sedang berpuasa.

Sebagaimana disebutkan oleh al-Hafnawi dalam kitabnya yang berjudul Al-Rasul Shallallahu Alaih Wa Sallama Fi RamadhanRasulullah juga pernah berucap, orang yang mendapati bulan Ramadan, namun tidak memanfaatkannya untuk memperbanyak kebaikan dan meminimalkan keburukan, sehingga tidak berhasil mendapatkan ampunan Allah SWT dan rahmat-Nya pada bulan itu, merupakan orang yang merugi.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Amar bin Yasir bahwasanya suatu hari Rasulullah naik ke mimbar dan mengucapkan “amin, amin, amin” sebanyak tiga kali, lalu beliau berkata, “Orang yang mendapati kedua orang tuanya, atau salah satunya, namun tidak meraih pengampunan Allah SWT, maka Allah SWT menjauh darinya, katakanlah ,”Amin”, lalu, orang yang mendapati bulan Ramadan, namun, tak berhasil meraih pengampunan Allah SWT, maka Allah SWT akan menjauh darinya, katakanlah: “Amin”, kemudian, orang yang namaku disebut di dekatnya, namun ia tak bershalawat kepadaku, maka Allah SWT akan menjauh darinya, katakanlah: “Amin“. (HR. Bazzar)

Hadis tersebut meskipun secara sanad lemah, namun memiliki substansi peringatan yang bisa diambil faedahnya bagi orang-orang yang lebih memilih bermalas-malasan di siang hari saat bulan Ramadan.

Apalagi pada bagian peringatan bagi seseorang yang mendapati bulan Ramadan, namun tidak memanfaatkan dengan baik, sehingga ia tak berhasil meraih ampunan Allah SWT ketika bulan Ramadan berakhir.

Kemudian jika kita telisik melalui pendekatan sejarah dalam kehidupan Rasulullah SAW khususnya di bulan Ramadan, banyak sekali peristiwa-peristiwa besar terjadi di siang hari bulan tersebut, di antaranya Perang Badar al-Kubro dan pembebasan kota Mekkah.

Dari peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di siang hari bulan Ramadan pada masa Nabi Muhammad SAW, kita bisa mengetahui bahwasanya beliau selalu mengisi siang-siang bulan Ramadan dengan aktivitas yang bermanfaat bagi umat, dan tidak merasa lemah serta bermalas-malasan.

Dengan pelajaran tersebut, semoga kita bisa meneladani beliau untuk senantiasa memanfaatkan waktu di bulan Ramadan, dengan aktivitas-aktivitas yang positif, serta bukan malah bermalas-malasan dengan dalih sedang berpuasa. Apalagi jika sampai beranggapan bahwasanya tidurnya orang yang berpuasa lebih baik dari beraktivitasnya. [wip]

 

Exit mobile version