JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Harga Kedelai Impor Dikeluhkan Mahalnya Minta Ampun, Agen Kedelai Sragen Akhirnya Buka Suara. Bantah Ada Permainan, Ini Alasannya!

Salah satu perajin tahu, Suwolo (52) warga Kampung Teguhan RT 9/3 mengungkapkan saat ini harga kedelai impor sudah menembus angka Rp 11.000 perkilogram.

Harga itu jauh melambung dari harga sebelumnya yang berkisar di angka Rp 9.700 perkilo. Harga mulai meroket tajam sebelum Lebaran yang naik menjadi Rp 10.000 dan kini terus melonjak menyentuh harga tertinggi Rp 11.000.

“Semenjak ada Corona, harga kedelai impor nggak menentu. Dulu harga bisa Rp 6.500 perkilo, setelah Corona harganya langsung naik. Bukan kemarin harga Rp 9.700 sampai Rp 9.800 perkilo. Naik lagi jadi Rp 10.000, lalu turun sedikit, ini kemarin ambil sudah naik malah jadi Rp 11.000,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Selasa (18/5/2021).

Lonjakan harga kedelai itu membuat perajin kesulitan untuk menjual produk.
Strategi menaikkan harga jual dan mengurangi ukuran belum mampu menutup kenaikan ongkos produksi akibat mahalnya bahan baku.

“Kami benar-benar kesulitan memasarkan. Kalau harga dinaikkan dan ukuran dikurangi, pembeli makin lari. Tapi kalau nggak begitu, nggak bisa jalan,” terangnya.

Perajin tahu lainnya, Joko Supono (57) asal Kampung Teguhan RT 9/3, juga mengungkapkan saat ini kondisi perajin tahu benar-benar terpuruk dan menjerit.

Baca Juga :  Lantik 20 Ketua Ranting PSHT Sragen, Ketua Jateng-DIY Pesan: Jaga Jari-Jari Kalian dari Upaya Provokasi Lewat HP!

Menurutnya, harga kedelai mulai mahal sudah hampir setahun terakhir. Namun harga saat ini yang sampai Rp 11.000 membuat perajin sudah kesulitan untuk bertahan.

“Kami nggak punya pilihan lain, kedelai yang ada hanya impor. Kalau barangnya dari pemasok lancar bahkan mau beli berapapun dikasih. Tapi harganya itu sangat mahal Rp 11.000 perkilo. Padahal dulu setahun lalu, harga hanya Rp 6.500 sampai Rp 7.000,” paparnya.

Istrinya, Sri Mulyani, menuturkan mahalnya harga kedelai itu berdampak buruk terhadap kelangsungan usaha dan produksi.

Sejak harga kedelai meroket, ia terpaksa memangkas karyawan dari 8 orang sebelumnya, menjadi tinggal 4 orang saja.

Kemudian untuk menekan kerugian, ukuran tahu dan harga jual juga terpaksa dinaikkan. Jika sebelumnya harga tahu 1 papan Rp 20.000, sekarang dinaikkan menjadi Rp 35.000.

Sedang ukuran tahu juga terpaksa digerus satu sentimeter demi bisa menyesuaikan kenaikan biaya produksi.

“Harga Rp 35.000 satu papan itu sudah harga terpaksa karena untuk bisa bertahan saja harusnya satu papan dijual Rp 40.000. Kami terpaksa karena perajin juga saing-saingan harga. Ada yang jual satu papan Rp 32.000, kalau dipaksakan Rp 40.000, nggak akan ada yang beli lagi,” terangnya.

Baca Juga :  Satu-Satunya di Dunia dan Hanya Ada di Sragen, Sriyanto Saputro Berharap Wayang Purba Jadi Ikon Budaya

Sri menuturkan dua strategi itu pun, dinilai belum bisa menutup kenaikan biaya produksi.

Sehingga ia mengibaratkan saat ini perajin tahu terpaksa masih berproduksi hanya demi bisa bertahan karena sudah tidak ada pilihan lain untuk mengais pendapatan.

Sementara faktanya, hanya keahlian membuat tahu yang dimilikinya bersama puluhan perajin di kampungnya.

“Kami perajin tahu benar-benar menjerit dan menangis saat ini Mas. Jangankan untung, bisa bertahan saja sudah syukur. Kalau mau jujur, aslinya ini nombok terus. Tapi kalau mau berhenti nggak buat, ya mau makan apa. Cuma pekerjaan ini yang bisa kami lakukan. Saya sampai bikin tahu bakso, tahu susu demi bisa jalan menutup kerugian. Kalau hanya ngandalkan tahu tok, sudah ambleg Mas,” ujarnya. Wardoyo

« Halaman sebelumnya

Halaman :   1 2 Tampilkan semua
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com