JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Harga Kedelai Impor Dikeluhkan Mahalnya Minta Ampun, Agen Kedelai Sragen Akhirnya Buka Suara. Bantah Ada Permainan, Ini Alasannya!

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Mencuatnya keluhan perajin tahu soal harga kedelai impor yang meroket, membuat agen penyuplai kedelai di Sragen buka suara.

Mereka membantah ada permainan harga pada komoditas kedelai impor. Sebaliknya mereka beralasan bahwa harga mahal itu terjadi karena imbas kenaikan harga di pasaran dunia.

Hadi, salah satu agen kedelai di Sragen, mengatakan dirinya tidak menjual kedelai impor dengan Rp 11.000 perkilogram. Akan tetapi harga jual yang dipatoknya hanya Rp 10.350 perkilogram.

“Kami jualnya Rp 10.350 Pak, tidak Rp 11.000,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Sabtu (22/5/2021).

Menurutnya tingginya harga itu memang dipengaruhi harga di luar negeri yang sudah naik. Karena itu, harga yang dijual pun menyesuaikan juga ikut naik.

Hadi juga bersikukuh tidak ada permainan dalam harga kedelai impor. Harga di atas Rp 10.000 itu memang karena harga pembelian juga sudah mahal.

“Tidak ada itu permainan. Kita belinya sudah mahal Pak,” kata dia.

Soal kenapa hanya ada kedelai impor, Hadi menyebut memang adanya komoditas kedelai impor. Selama ini tidak ada pasokan kedelai lokal.

Sementara, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sragen, Tedi Rosanto sebelumnya menyampaikan pihaknya sudah mengambil langkah koordinasi dengan agen penyuplai kedelai di Sragen.

“Hasil koordinasi agen kedelai di Sragen, mereka membenarkan harga naik. Tapi tidak bisa berbuat banyak karena barang impor dan tidak ada pengganti dari lokal,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Selasa (18/5/2021).

Atas kondisi itu, Tedi menyampaikan
dinas sudah menghimbau agar agen tidak mencari untung banyak di tengah situasi seperti ini.

Sebaliknya, kepada perajin tahu, pihaknya menyebut bisa menempuh solusi dengan merubah strategi produksi.

“Beberapa waktu yang lalu kami turun ke lapangan. Pengrajin di daerah Masaran juga seperti itu,” katanya.

Lebih lanjut, Tedi menjelaskan perihal harga kedelai impor yang dikeluhkan mencekik saat ini, kewenangan dinas hanya memohon kepada pemerintah pusat agar pasokan bisa diperbanyak agar harga normal.

Baca Juga :  Perhatian, Warga PSHT Ngawi dan Soloraya Dimohon Jangan Masuk ke Sragen!

“Persaingan dagang internasional sangat ketat di masa pandemi. Tapi kami (dinas) akan segera mengirimkan surat kepada Gubernur tentang keluhan warga Teguhan. Karena Sragen tergantung dari pemasok dari daerah lain. Itu yang membuat kami kesulitan untuk menekan harga kedelai,” jelasnya.

Pernyataan itu dilontarkan menyikapi keluhan puluhan perajin tahu di sentra produksi tahu Kampung Teguhan, Kelurahan Sragen, Kecamatan Sragen, Kabupaten Sragen.

Mereka menjerit mengeluhkan mahalnya harga bahan baku kedelai impor dalam beberapa bulan terakhir.

Salah satu perajin tahu, Suwolo (52) warga Kampung Teguhan RT 9/3 mengungkapkan saat ini harga kedelai impor sudah menembus angka Rp 11.000 perkilogram.

Harga itu jauh melambung dari harga sebelumnya yang berkisar di angka Rp 9.700 perkilo. Harga mulai meroket tajam sebelum Lebaran yang naik menjadi Rp 10.000 dan kini terus melonjak menyentuh harga tertinggi Rp 11.000.

“Semenjak ada Corona, harga kedelai impor nggak menentu. Dulu harga bisa Rp 6.500 perkilo, setelah Corona harganya langsung naik. Bukan kemarin harga Rp 9.700 sampai Rp 9.800 perkilo. Naik lagi jadi Rp 10.000, lalu turun sedikit, ini kemarin ambil sudah naik malah jadi Rp 11.000,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Selasa (18/5/2021).

Lonjakan harga kedelai itu membuat perajin kesulitan untuk menjual produk.
Strategi menaikkan harga jual dan mengurangi ukuran belum mampu menutup kenaikan ongkos produksi akibat mahalnya bahan baku.

“Kami benar-benar kesulitan memasarkan. Kalau harga dinaikkan dan ukuran dikurangi, pembeli makin lari. Tapi kalau nggak begitu, nggak bisa jalan,” terangnya.

Perajin tahu lainnya, Joko Supono (57) asal Kampung Teguhan RT 9/3, juga mengungkapkan saat ini kondisi perajin tahu benar-benar terpuruk dan menjerit.

Menurutnya, harga kedelai mulai mahal sudah hampir setahun terakhir. Namun harga saat ini yang sampai Rp 11.000 membuat perajin sudah kesulitan untuk bertahan.

Baca Juga :  Wajah Baru SMPN 1 Sambungmacan Sambut Adiwiyata Provinsi. Dulu Gersang, Kini Berubah Rindang Bertabur Cemara

“Kami nggak punya pilihan lain, kedelai yang ada hanya impor. Kalau barangnya dari pemasok lancar bahkan mau beli berapapun dikasih. Tapi harganya itu sangat mahal Rp 11.000 perkilo. Padahal dulu setahun lalu, harga hanya Rp 6.500 sampai Rp 7.000,” paparnya.

Istrinya, Sri Mulyani, menuturkan mahalnya harga kedelai itu berdampak buruk terhadap kelangsungan usaha dan produksi.

Sejak harga kedelai meroket, ia terpaksa memangkas karyawan dari 8 orang sebelumnya, menjadi tinggal 4 orang saja.

Kemudian untuk menekan kerugian, ukuran tahu dan harga jual juga terpaksa dinaikkan. Jika sebelumnya harga tahu 1 papan Rp 20.000, sekarang dinaikkan menjadi Rp 35.000.

Sedang ukuran tahu juga terpaksa digerus satu sentimeter demi bisa menyesuaikan kenaikan biaya produksi.

“Harga Rp 35.000 satu papan itu sudah harga terpaksa karena untuk bisa bertahan saja harusnya satu papan dijual Rp 40.000. Kami terpaksa karena perajin juga saing-saingan harga. Ada yang jual satu papan Rp 32.000, kalau dipaksakan Rp 40.000, nggak akan ada yang beli lagi,” terangnya.

Sri menuturkan dua strategi itu pun, dinilai belum bisa menutup kenaikan biaya produksi.

Sehingga ia mengibaratkan saat ini perajin tahu terpaksa masih berproduksi hanya demi bisa bertahan karena sudah tidak ada pilihan lain untuk mengais pendapatan.

Sementara faktanya, hanya keahlian membuat tahu yang dimilikinya bersama puluhan perajin di kampungnya.

“Kami perajin tahu benar-benar menjerit dan menangis saat ini Mas. Jangankan untung, bisa bertahan saja sudah syukur. Kalau mau jujur, aslinya ini nombok terus. Tapi kalau mau berhenti nggak buat, ya mau makan apa. Cuma pekerjaan ini yang bisa kami lakukan. Saya sampai bikin tahu bakso, tahu susu demi bisa jalan menutup kerugian. Kalau hanya ngandalkan tahu tok, sudah ambleg Mas,” ujarnya. Wardoyo

Bagi Halaman
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com