JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Tak Terima Dituding Resahkan Warga, Keluarga Positif Covid-19 Asal Boyolali Akhirnya Buka Suara. Isolasi Mandiri di Gabugan Agar Tidak Nulari Cucu, Sebut Sudah Diijinkan Kelurahan dan Kecamatan

ilustrasi virus Corona


SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Keluarga H, pasien positif covid-19 asal Ngandong, Boyolali membantah tudingan dianggap meresahkan dengan melakukan isolasi mandiri tinggal di rumah mereka di Desa Gabugan, Tanon, Sragen.

Sebaliknya mereka menuding pernyataan salah satu Satgas Kecamatan Tanon, RH Brotowardoyo soal kasus covid-19 yang menimpa H dan keluarga, sebagai sesuai yang menyudutkan dan mengintimidasi keluarga H.

Pernyataan itu disampaikan anak H, AR kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Jumat (18/6/2021). AR tidak menampik bahwa bapaknya, H, memang positif covid dan dijemput petugas memakai APD.

Akan tetapi, bapaknya sudah di Gabugan pada hari Kamis bersama istri karena saat itu mengalami batuk, pilek dan demam.

Advertisement

“Kenapa tidak tinggal di Kacangan karena takut nulari cucu. Hasil positif covid keluar hari Senin malam dan penjemputan dilakukan pada hari Selasa siang bukan malam hari karena beliau mulai sesak,” katanya.

AR menjelaskan anggota keluarga kemudian diswab hari Selasa. Hasilnya yang positif adalah istri dan anak beliau. Sedangkan 2 cucu serta menantu, M dinyatakan negatif.

Ia membantah bapaknya positif seolah-olah setelah kepulangan menantunya, M, dari pelayaran. Akan tetapi ia menyebut bapaknya sudah kelelahan karena perjalanan kerja dan sebelum menantunya pulang.

“Dan perlu masyarakat tahu, kepulangan seseorang dari luar negeri itu persyaratannya banyak. Diswab tidak hanya 1 atau 2 kali tapi berkali-kali, masih dikarantina juga di wisma atlet setelah itu pun masih diswab lagi. Semua data penunjang hasil PCR masih ada dan bisa dijadikan bukti sehingga pernyataan di berita itu seolah-olah untuk mengintimidasi keluarga Pak H,” kata AR.

Baca Juga :  Dapat Perintah Mbak Puan, PDIP Sragen Langsung Gotong Royong Vaksinasi 10.000 Warga. Pesannya Cuma Satu!

Lebih lanjut, AR menyampaikan bahwa bapaknya setiap hari memang bekerja di toko di Gabugan karena kebetulan juga rumahnya sendiri.

Sehingga memang benar rumah di Gabugan dijadikan tempat isolasi karena ruangan dalam rumah yang luas dengan bangunan yang terpisah-pisah. Dengan kondisi itu, diyakini akan lebih aman dan tenang karena mengurangi interaksi dengan anggota keluarga yang lain.

“Dan alasan yang paling utama karena anak dan cucu msh tinggal di Andong, takut nulari,” tuturnya.

AR menyampaikan saat ini kondisi keluarga yang positif covid tetap menjalani isolasi mandiri di Gabugan. Ia menyebut pihak kelurahan dan kecamatan sudah mengijinkan dengan penyertaan data terkait.

Saat inipun, semua dalam kondisi sehat walafiat, hanya gejala ringan yaitu batuk ringan serta radang tenggorokan serta tidak ada keluhan lain.

“Anggota yang isoman juga taat protokol bahkan dari awal menetap di Gabugan tidak pernah membaur atau berinteraksi dengan orang luar,” tegasnya.

AR menambahkan sebenarnya antara keluarganya dengan RH Brotowardoyo masih berkerabat. Namun ia menyayangkan ketika masih kerabat bukannya mensuport kesembuhan saudaranya tetapi malah membuat berita yang menyudutkan keluarga.

“Padahal sebelumnya masyarakat sudah tahu bahwa ada penjemputan dan tidak terlalu mempermasalahkan. Karena memang kami juga berhak tinggal di rumah kami dengan tenang tanpa diganggu dan mengganggu orang lain. Tetapi masalah menjadi lebih besar ketika kami tahu kalau RH sendiri seolah berusaha ngompori tetangga sekitar untuk berkeberatan terhadap keberadaan kami di sini. Padahal rumah ini rumah kami dan setiap hari dipakai untuk kerja dan tinggal meskipun tidak menetap setiap hari,” jelasnya.

Baca Juga :  Bupati Sragen Marah Besar, Rapor Layanan BPJS 5 Rumah Sakit Merah Membara. RSUD Sragen Ternyata Paling Parah

AR juga menyebut ada banyak persoalan terkait RH yang ia menilai tak akan diungkapkan ke publik. Menurutnya saat ini dirinya lebih memikirkan keluarga besarnya.

Ia meminta agar masyarakat tidak terhasut oleh pernyataan yang bertujuan mengintimidasi keluarganya dan berdampak moril terhadap keluarganya.

Pernyataan AR dilontarkan menanggapi laporan salah satu Satgas Covid-19 Kecamatan Tanon, R Hendri Brotowardoyo, Rabu (16/6/2021).

Ia menuturkan keluarga H itu diketahui mengungsi di Gabugan sejak 3 hari lalu.
Semula warga tidak curiga, namun kemudian semua terkejut ketika mendapati kemarin malam H dijemput petugas berpakaian APD.

Dari situlah baru akhirnya terungkap jika H dinyatakan positif dan keluarganya juga beberapa dilaporkan positif swab antigen.

“Kalau dari kronologinya, ada anggota keluarga itu yang baru pulang dari pelayaran inisial M. Saat diswab dia negatif, tapi kemudian keluarganya yaitu Pak H (mertuanya), ibu mertua, istri dan anaknya positif semua. Nah warga resah kemarin malam Pak H, dinyatakan kritis dan dibawa ke rumah sakit dari Ngandong dan dinyatakan positif covid-19,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Rabu (16/6/2021).

Hendri mengungkapkan dari hasil pelacakannya, selain H yang masuk rumah sakit, ada istrinya TH, istri M, dan dua anak M yang menjalani isolasi mandiri di rumah Gabugan.

Menurutnya, warga sekitar resah setelah mengetahui bahwa keluarga yang sebelumnya berdomisili di Kacangan dan positif terpapar Covid-19 namun isolasi mandirinya malah di wilayah Gabugan. Wardoyo