Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Jeritan Hati Pedagang Kecil di Sragen Terimbas PPKM Darurat, Ditanya Omzet: Alhamdulillah Makin Menurun Mas!

Penjual cilok Kang Pur di jalur Sragen Kota bersabar menunggu jualannya di situasi malam yang sepi selama PPKM Darurat. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat di Sragen membuat sejumlah sektor harus menanggung imbas.

Sektor paling terpukul adalah pelaku ekonomi kecil seperti pedagang kaki lima (PKL). Mereka mengeluhkan omzet makin merosot akibat sepinya aktivitas dan mobilitas masyarakat selama PPKM berlangsung sejak 3 Juli lalu.

Seperti dialami penjual cilok, Purwanto (32) ini. Warga Sine, Sragen yang sehari-hari berjualan cilok keliling di jalan raya Sukowati itu mengaku jualannya semakin sulit semenjak pemberlakuan PPKM darurat.

Sepinya masyarakat karena penutupan jalur pada malam hari, membuat pembeli makin menurun. Hal itu memaksa durasi jualannya juga makin molor untuk menghabiskan dagangan.

“Biasanya setelah habis magrib itu jalan mulai sepi. Saya jualan sejak jam 15.00 WIB biasanya sampai jam 20.00 WIB sudah habis. Sekarang jadi lebih malam karena pembeli makin sepi. Sekarang harus jualan sampai jam 21.00 WIB. Bahkan kemarin sampai jam 24.00 WIB karena saking sepinya,” ujarnya ditemui saat berjualan di tepi jalan Raya Sukowati, Kamis (8/7/2021) malam.

Pedagang yang memasang label jualannya dengan cilok Kang Pur itu menuturkan dengan situasi makin sepi, jumlah cilok yang ia jual juga terpaksa dikurangi.

Jika hari normal setiap malam bisa menghabiskan 4 sampai 6 kilogram bahan, selama PPKM darurat terpaksa dikurangi hingga 2 kilogram saja.

Itu pun memerlukan perjuangan dan kesabaran sampai larut malam untuk bisa menghabiskan jualannya. Omzetnya pun juga turut terimbas drastis.

“Biasanya hari biasa semalam bisa dapat Rp 250.000. Sejak PPKM darurat ini Alhamdulillah omzetnya makin menurun Mas. Sedih rasanya. Ngopeni anak bojo, gak budal nggak bisa makan, budal juga miris lihat kahanan begini,” tuturnya.

Ia hanya berharap keadaan bisa cepat pulih kembali. Sehingga pelaku ekonomi kecil seperti dirinya bisa kembali berjualan secara normal dan pendapatan bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan.

Andrian, penjual bakso bakar saat bertahan di tengah sepinya jalur Sragen Kota selama PPKM darurat. Foto/Wardoyo

Senada, penjual bakso bakar di jalan raya Sukowati, Andrian Gembuk (20) juga mengeluhkan kondisi yang sama.

Pedagang asal Sukodono Sragen itu mengaku jualannya merosot tajam selama PPKM darurat. Ia yang juga berjualan malam hari, mengatakan sejak PPKM darurat kondisi jalan raya Sragen sudah terasa sepi mulai pukul 20.00 WIB.

Sepinya pengguna jalan yang melintas dan pembatasan kegiatan sampai jam 20.00 WIB, otomatis membuat pembeli juga kian menurun.

“Penurunan hampir separuh dari biasa Mas. Biasanya jualan dari jam 17.00 WIB sampai 22.00 WIB bisa dapat Rp 300.000 sampai Rp 400.000, sekarang separuhnya aja nggak ada. Bahkan kadang jualan sampai jam Rp 23.00 WIB saja nggak habis,” ujarnya.

Karena makin sepi, ia pun terpaksa memangkas kapasitas jualannya. Jika biasanya semalam membawa 300 tusuk bakso, sekarang dikurangi paling banter hanya 150 tusuk saja.

“Itu pun kadang habis kadang enggak. Sedih Mas. Selama PPKM darurat ini malam hari yang lewat makin sepi, malam dikit udah kayak kuburan,” tandasnya. Wardoyo

Exit mobile version