JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Boyolali

Waspadai Dampak Gempa Lewat Monumen Gempa 2006 di Cepoko Sawit (Bagian 1)

Monumen Gempa 2006 . Foto: Triawati

BOYOLALI, JOGLOSEMARNEWS.COM — Gempa bumi dengan kekuatan 5,9 skala Ritcher berpusat di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tahun 2006 lalu berdampak luas di sejumlah daerah di sekitarnya. Termasuk di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, gempa tersebut mengakibatkan kerusakan parah khususnya di Desa Cepoko Sawit, Desa Kenteng dan Desa Satriyan di Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Banyak rumah warga yang mengalami kerusakan parah akibat gempa tersebut. Dan untuk memperingati kejadian tersebut, dibangun Monumen Gempa 2006 yang terletak di Desa Cepoko Sawit, Sawit, Boyolali.

Sesepuh Desa Cepoko Sawit, Kecamatan Sawit, Boyolali, Kardiyo menceritakan, selain menimbulkan banyak kerusakan rumah warga, gempa Jogjakarta tahun 2006 lalu juga menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.

Baca Juga :  Lagi, Terjadi Guguran di Merapi Hingga Picu Hujan Abu Tipis di Boyolali Kota

“Rumah saya ikut hancur juga waktu itu. Sebagai bentuk keprihatinan dan untuk memperingati gempa itu kemudian dibangun museum ini. Museum dibangun dan berdiri tepat di depan Kantor Balai Desa Cepoko Sawit,” urainya, Senin (20/9/2021).

Monumen Gempa 2006 . Foto: Triawati

Monumen Gempa 2006 dibangun 11 tahun setelah kejadian. Dalam bangunan museum, terdapat beberapa dokumen dan barang milik warga yang menjadi korban saat gempa terjadi.

Melalui benda-benda dan dokumen tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran kepada pengunjung betapa dahsyatnya gempa bumi yang terjadi tanggal 27 Mei 2006 lalu. Benda-benda itu merupakan saksi bisu dan bagian dari korban.

Baca Juga :  Satu Pendaki Asal Ukraina Dikabarkan Hilang di Gunung Merbabu

“Saat awal-awal selesai dibangun, banyak pengunjung di Monumen. Sekarang saat pandemi seperti ini, masih juga ada pengunjung meskipun tidak banyak. Museum ini terbuka untuk umum,” tutur Kardiyo.

Karena terletak di tengah areal persawahan, pengujung bisa menentukan waktu kedatangan untuk mendapatkan pemandangan ekstra dari persawahan asri di sekitar museum. Waktu yang paling tepat mengunjungi monumen adalah pagi dan sore hari. (bersambung). Prihatsari

Bagi Halaman