JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Bahas Cara Dunia Hadapi Berbagai Krisis, Pekan Depan, Jokowi Hadiri KTT G20

Presiden Joko Widodo saat memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa 11 Februari 2020. Foto: tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Pekan depan Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang diadakan di Roma, Italia.

Pada KTT G20 itu, Presiden Jokowi diagendakan menerima estafet presidensi pertemuan G20.

Demikian disampaikan oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati saat menghadiri diskusi launching buku Kontan secara virtual, Minggu (24/10).

“Di G20 minggu depan, Bapak Presiden (Jokowi) Insya Allah akan hadir di Roma. Itu adalah pertemuan di masa Covid-19,” ujar Sri Mulyani.

Melansir Tempo.co, negara-negara di dunia menyadari bahwa Covid-19 bukan krisis terakhir yang akan dialami secara global.

Atas dasar itulah para kepala negara yang hadir dalam KTT G20 di Roma akan membahas cara dunia menghadapi berbagai krisis yang menimbulkan dampak secara sistematis.

Baca Juga :  Vaksinasi Booster Covid-19 Dimulai, Masyarakat Tak Bisa Memilih

Sri Mulyani menilai bahwa saat ini, mitigasi krisis yang dimiliki negara-negara di dunia masih lemah. Bahkan, Ia menilai mekanisme mitigasi krisis yang dimiliki tiap negara dalam upaya saling mengurangi kemungkinan krisis masih perlu dipertanyakan.

“Makanya di G20, kita akan diskusi kalau 2008-2009 di-driven dari krisis keuangan, ini akan di-drive oleh krisis yang sifatnya antar-negara, tapi dampaknya tidak diskriminatif. Karena itu kebijakan dan kerja sama multilateral menjadi sangat penting,” ungkap Sri Mulyani.

Sri Mulyani juga mengatakan bahwa pembahasan tentang krisis meliputi banyak sektor, tidak hanya sekadar masalah finansial.

Baca Juga :  Digelar, Workshop Pop Up Untuk Asah Kreativitas

“Bagaimana kerja sama global dari sisi keuangan, kesehatan, bisa mengurangi dampak global untuk potensi krisis ke depan,” ujarnya.

Berbagai krisis di masa depan masih terus menghantui. Krisis akibat pandemi, konflik internasional, sampai perubahan iklim masih terus menjadi ancaman bagi tiap negara.

Krisis-krisis itu dinilai dapat mempengaruhi berbagai sektor dan bersifat multidimensi, seperti sosial, ekonomi, dan politik.

Krisis tersebut dinilai tidak hanya menyerang negara miskin, melainkan juga negara kaya. Sebab itulah diperlukan pembahasan dan persiapan dunia dalam mengahadapi berbagai krisis di masa depan. Wahyu Anwari

Bagi Halaman