JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Geram Banyak Guru Honorer Menangis Tak Ada Formasi, Agustina Wiludjeng Minta Menpan-RB dan Mendikbud Bisa Sinkron. “Kasihan, Itu Namanya Mempermainkan Harapan!”

Legislator asal PDIP itu meminta Disdikbud dan BKPSDM harus proaktif menyikapi hal itu.

Meski seleksi dan penentuan kelulusan menjadi kewenangan pusat, daerah masih bisa ambil peran membantu masih para guru honorer berusia tua itu.

Koordinasi ke pusat dimaksudkan untuk mendorong agar ada solusi bijak dan berpihak kepada para honorer usia tua tersebut. Jika dibiarkan, maka sangat merugikan para honorer berusia senja.

“Harapan kami dari pusat ada solusi yang terbaik. Mengakomodir mereka yang berusia tua dan lolos PG itu. Entah dengan kebijakan apa, kasihan. Daerah juga harus mendukung, karena sejak awal semangat pusat adalah memperjuangkan guru honorer yang sudah lama mengabdi,” ujarnya.

Terlebih realita di lapangan, menurutnya banyak sekolah utamanya SD yang saat ini pendidiknya justru didominasi guru honorer. Hal itu karena minimnya jumlah PNS.

Jika tak ada ikhtiar mengakomodasi mereka, ia khawatir justru berimbas buruk pada nasib pendidikan di Sragen.

“Bisa dilihat, saat ini di SD-SD itu guru yang PNS cuma satu dua. Lainnya diampu honorer. Kalau kemudian mereka mogok serentak, kan bisa bahaya. Siapa yang akan mengajar,” tandasnya.

Lolos PG Tapi Gagal

Sebelumnya, puluhan guru agama dari kalangan honorer kategori 2 (K2) dan honorer berusia di atas 40 tahun di Sragen mendesak Pemkab dan pemerintah pusat untuk membuat kebijakan membuka formasi di sekolah tempat mereka mengajar.

Baca Juga :  Targetkan WBK dan WBBM, Kalapas Sragen Pimpin Deklarasi Janji Kerja 2022 Bersama Semua Kasatker Soloraya. Kakanwil Pesan Jaga Sinergitas

Pasalnya, dalam seleksi PPPK tahap I yang barusaja diumumkan, banyak honorer dari formasi guru agama yang lulus passing grade namun gagal lolos.

Mereka gagal karena formasi yang tersedia sangat minim.

Selain itu, kebijakan seleksi yang terbuka, membuat mereka akhirnya tersingkir karena kalah nilai dari peserta yang fresh graduate dan berusia lebih muda.

Informasi dari peserta PPPK guru agama, ada sekitar 50 lebih honorer berusia di atas 40 tahun di Sragen yang lulus PG namun gagal lolos.

Padahal, selain usianya sudah tua, mereka rata-rata sudah mengabdi di atas 15 tahun lebih.

“Seleksi tahap I kemarin sangat merugikan kami. Karena formasi guru agama yang dibuka sangat sedikit. Satu kecamatan cuma satu, padahal kekosongan guru agama terjadi di banyak SD dan sekolah jenjang atasnya. Akhirnya satu formasi diperebutkan honorer dari banyak sekolah dan yang lolos yang muda. Kami yang sudah mengabdi belasan hingga puluhan tahun dan lolos PG gagal karena formasinya cuma satu,” papar KH, salah satu guru agama dari honorer K2 di Sragen, kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Rabu (13/10/2021).

Kondisi itu berbeda dengan formasi guru kelas, yang dibuka di hampir tiap sekolah SD. Sehingga pelamarnya kebanyakan hanya dari guru honorer di sekolah induk atau tempat dia mengajar.

Baca Juga :  Lengkapi Pesona New Kemukus, Pasar New Barong Senilai Rp 3,75 M Akhirnya Diresmikan. Bupati Pesan Jangan Ada Kekacauan

Hal itu kemudian memberi peluang lebih besar bagi mereka. Dan faktanya hampir semua honorer yang mendaftar di sekolah induk akhirnya lolos karena saingannya hampir tidak ada.

Tambahan nilai afirmasi yang diberikan untuk guru agama, pada akhirnya juga seolah tidak berfungsi. Sebab penentu akhirnya adalah nilai dan mengabaikan pengabdian maupun usia.

“Jadi ya percuma ditambah nilai afirmasi, kalau kemudian kelulusan tidak mempertimbangkan pengabdian dan usia. Kami sedih, karena akhirnya yang lolos kebanyakan yang muda, yang tua-tua tetap gagal meskipun lulus PG,” jelasnya.

Atas kondisi itu, para guru agama honorer usia tua dan lulus passing grade itu mendesak agar dinas dan bupati mengakomodir nasib mereka.

Yakni dengan meluluskan dan menempatkan mereka yang lolos PG ke sekolah induk masing-masing selama formasi di sekolah tempat mengajar masih kosong.

“Karena dulu CPNS yang lulus PG juga langsung ditempatkan di sekolah induk tempat mereka mengajar selama formasinya masih kosong. Kalau disuruh tes lagi tahap 2 jelas nanti kalah sama yang sudah sertifikasi pendidikan dan yang masih muda usia. Ini seperti tidak adil bagi kami,” jelasnya. Wardoyo

« Halaman sebelumnya

Halaman :   1 2 Tampilkan semua