JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Internasional

Israel Dirikan Pangkalan Militer Untuk Amati Iran

Ilustrasi Nuklir / republika

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Program nuklir yang dikembangkan oleh pemerintah Iran, mendapat pengawasan ketat dari Israel.

Bahkan diberitakan, pasukan militer Israel telah mendirikan Pangkalan Intelejen dan Analisis guna memantau aktivitas Iran terkait program nuklir yang dikembangkan Iran tersebut.

Demikian seperti diungkap situs berita Walla pada Sabtu (16/10/2021).

Berdasarkan hasil identifikasi dan analisis yang dilakukan pangkalan tersebut, Israel menduga bahwa Iran menjalankan sebuah program nuklir rahasia.

Pangkalan Israel itu sendiri merupakan hasil reformasi intelejen interdisipliner yang telah dijalankan selama beberapa bulan belakangan.

Seorang perwira tinggi militer Israel yang tak disebutkan namanya mengklaim bahwa pihaknya berhasil mengumpulkan informasi tentang program nuklir yang dijalankan Iran. Ia mengatakan bahwa pangkalan rahasia itu memiliki kecerdasan buatan dan teknologi terbaru. Kecerdasan buatan dan teknologi terbaru itu digunakan para staf yang bertugas dalam mengumpulkan data serta menganalisisnya.

Perwira itu juga mengatakan bahwa pangkalan rahasia yang dimiliki Israel itu memiliki peran penting dalam mengidentifikasi militer Iran di Suriah.

Yair Lapid selaku Menteri Luar Negeri Israel, mengungkapkan bahwa dalam rangka menghentikan pengembangan senjata nuklir oleh Iran, mungkin diperlukan tindakan menggunakan kekuatan. Lapid juga mengatakan bahwa Israel berhak melakukan tindakan-tindakan perlawanan kepada Iran.

Melansir Republika.co.id, dalam sebuah konferensi pers di Washington, Lapid mengatakan bahwa dalam melindungi dunia, terkadang diperlukan penggunaan kekuatan, dan pihaknya bersama Amerika Serikat (AS) mengetahui kapan waktu yang tepat menggunakan kekuatan itu.

“Menteri Luar Negeri (Amerika Serikat Antony) Blinken dan saya adalah putra dari korban selamat Holocaust. Kita tahu ada saat-saat ketika negara harus menggunakan kekuatan untuk melindungi dunia dari kejahatan,” ujar Lapid, Rabu (13/10) seperti dikutip Aljazirah.

Lapid menganggap tindakan-tindakan Israel terhadap Iran lebih dari sekadar hak, melainkan juga tanggung jawab mereka. Ia menambahkan, dunia harus benar-benar berusaha menghentikan Iran. Ia menilai jika Iran tak segera dihentikan, maka negara itu akan bergegas mengembangkan bom nuklir.

“Israel berhak untuk bertindak pada saat tertentu dengan cara apa pun. Itu bukan hanya hak kami; itu juga tanggung jawab kami,” ujar Lapid.

Berbeda dengan Israel, AS mencoba jalur diplomatik dalam menyelesaikan kekhawatiran tentang program nuklir Iran. Untuk itu, mereka berusaha mengihupkan kembali Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang merupakan sebuah kesepakatan nuklir yang disepakati pada tahun 2015.

Pada tahun 2015, JCPOA telah disepakati oleh Iran dan enam negara lain yakni AS, Prancis, Inggris, Jerman, Rusia, serta China. JCPOA mengatur pembatasan tentang segala bentuk aktivitas atau program nuklir Iran. Sebagai imbalannya, dilakukan pencabutan sanksi asing yang sebelumnya diterima Iran.

Pada tahun 2018, AS menarik diri dari kesepakatan JCPOA. Presiden AS saat itu, Donald Trump menilai terdapat sebuah kecacatan dalam JCPOA lantaram tak mengatur peran Iran dan program rudal balistik yang Iran jalankan.

Sejak saat itu AS kembali memberikan sanksi berupa sanksi ekonomi kepada Iran. Atas sanksi tersebut, Iran kemudian melanggar aturan-aturan dalam JCPOA termasuk perihal pengayaan uranium. Wahyu Anwari

Bagi Halaman