JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Opini

Terima Kasih, Guru

Pentingnya literasi guru

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menegaskan bahwa guru dan dosen  wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, dan memenuhi kualifikasi lain yang dipersyaratkan satuan pendidikan tinggi tempat bertugas, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Salah satu kualifikasi yang patut dimiliki guru saat ini (sebenarnya sudah sejak dulu dilaksanakan) adalah bidang literasi. Di sekolah kita ketahui ada program literasi sekolah sebagai bagian dari Gerakan Literasi Sekolah (GLS) khususnya dan Gerakan Literasi Nasional (GLN) umumnya. Guru menjadi bagian tidak terpisahkan dari tim literasi sekolah (TLS), selain menjadi kebutuhan dan kewajiban pribadi untuk kenaikan pangkat dan peningkatan kualitas pendidik dengan rajin menulis.

Sebagai pegiat literasi di Yogyakarta, saya memiliki pengalaman empirik dalam membersamai guru khususnya dan warga sekolah/masyarakat umumnya dalam kegiatan literasi. Secara umum, para guru yang terlibat secara langsung maupun via komunikasi daring, memiliki komitmen dan semangat untuk belajar dan berkarta literasi. Ini luar biasa, mengingat tugas dan kewajiban guru sehari-hari sudah cukup berat. Kian berat selama pandemi Covid 19 ini.

Namun tentu saja tetap ada beberapa guru yang belum mau atau belum tergerak menekuni literasi. Dua alasan klasik faktualnya adalah masih sibuk dengan dengan pengajaran dan sudah hampir pensiun. Faktual karena memang kondisinya seperti itu.

Solusi yang saya sampaikan untuk masalah ini adalah manajemen waktu, mengikuti komunitas literasi dan bahwa membaca-menulis itu bukan hanya dapat dilakukan selama bekerja. Kapan saja dan di mana saja, siapa saja saat ini dapat membaca dan menulis karena sarana prasana informasi dan teknologi sudah memadai.

Hal ini karena di ranah keluarga, sekolah/pekerjaan dan masyarakat, kita mendapat sentuhan atau program gerakan literasi. Jangan sampai kita ketinggalan atau apalagi mengabaikan, karena literasi memberikan banyak manfaat bagi kehidupan kini dan mendatang.

Dari sisi perjalanan waktu, kita mengenal ada istilah momentum atau news peg dalam bahasa kewartawanan. News peg adalah cantelan peristiwa dari hari-hari penting internasional dan dalam negeri, dari Januari sampai Desember setiap tahun. Cantelan peristiwa itu dapat menjadi awal ide untuk menulis atau berkarya literasi.

Hari Guru Nasional (HGN) 25 Desember 2021 dapat menjadi titik awal para guru di tanah air untuk berkarya literasi, baik yang sudah pernah maupun belum. Bagi yang belum pernah menulis, dapat memulai berkarya. Bagi yang sudah pernah berkarya, tinggal meneruskan sebagai sebuah tradisi intelektual dan inspiratif.

Karya literasi apa yang dapat dihasilkan guru? Meminjam muatan utama media umum, ada fakta, opini, fiksi dan foto. Untuk fakta, silakan dicoba menulis secara sederhana dalam bentuk berita acara HGN di sekolah atau wilayah masing-masing. Rumus penulisannya 5 W + 1 H (apa, siapa, di mana, kapan, mengapa dan bagaimana). Syukur kemudian dikirimkan ke media massa sebagai siaran pers, atau disimpan dulu kalau belum percaya diri (PD). Demikian pula untuk karya opini, fiksi dan foto, dapat bernuansa HGN.

Bapak ibu guru yang baik, jadilah tetap sebagai guru yang mengajar dan mendidik dengan hati di kelas maupun di luar kelas. Selebihnya, silakan menulis dan menjadi penulis untuk media massa atau buku. Karena menulis juga mengajar dan mendidik yang bebas ruang dan waktu. Menulis adalah melestarikan peradaban.  ***

Y.B. Margantoro

Praktisi media dan pegiat literasi di Yogyakarta

Halaman sebelumnya

Halaman :   1 2 Tampilkan semua