JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Andi Jamaro: PB NU Idealnya Dipimpin Intelektual Bergelar Profesor Doktor

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj (kiri), memberikan keterangan saat konferensi pers di Kantor PBNU, Jakarta, Jumat, 19 April 2019. PBNU dan Lembaga Persaudaraan Ormas Islam (LPOI) menghimbau seluruh umat muslim dan masyarakat agar bersabar menunggu hasil resmi pemilu 2019 dari KPU / tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Di tengah rivalitas Said Aqil Siroj dan Yahya Staquf dalam Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU), mantan Ketua PB NU, Andi Jamaro Dulung mengatakan, NU idealnya dipimpin oleh intelektual bergelar profesor doktor.

Pernyatan tokoh NU asal Bugis itu tak berlebihan, mengingat dari sekitar 100 juta warga nahdliyin, tak sedikit yang punya gelar akademik tinggi.

Menurut Andi, Nahdlatul Ulama merupakan Ormas terbesar di Indonesia sekaligus dunia, karena tidak ada organisasi yang anggotanya lebih dari 100 juta orang seperti NU.

Sehingga menurutnya, ketua umumnya harus dari kalangan berpendidikan tinggi.

“Wong ketua-ketua wilayah dan cabang saja sudah pada profesor, masak ketua umumnya malah enggak jelas,” kata Andi Jamaro saat dihubungi Tempo, Rabu (22/12/2021).

Selain itu, kata politikus gaek ini, PBNU juga membawahi 47 perguruan tinggi yang didalamnya banyak intelektual-intelektual mumpuni.

Baca Juga :  Ada Ganjar Pranowo, Pidato Megawati Sindir Habis Manuver 2 Kaki. "Lebih Baik Keluar Daripada Saya Pecat!"

Sehingga, kata Andi, realistis bila ia mendukung calon ketua umum yang bergelar profesor doktor.

Andi tak memungkiri bahwa pada Muktamar 34 di Lampung ini ia condong pada Said Aqil Siroj.

“Karena NU itu punya banyak kampus, maka harus dipimpin oleh orang yang ngerti SKS dan prodi. Kalau enggak pernah lulus perguruan tinggi, enggak bisa itu,” kata dia.

Andi Jamaro membantah pernyataanya itu untuk menyindir kandidat calon Ketua Umum PBNU Yahya Staquf yang tidak sempat menyelesaikan kuliahnya di Fisipol Universitas Gadjah Mada.

Menurut Andi ucapannya bersifat umum, yakni siapa pun yang tak bergelar sarjana tidak layak mempimpin NU.

“Semuanya, baik ketua cabang, wilayah, apalagi pusat, harus memenuhi kualifikasi standar pendidikan,” kata Andi Jamaro.

Guru Besar Fisip Universitas Airlangga (Unair) Hotman Siahaan, yang juga senior Yahya Staquf di jurusan Sosiologi UGM, tidak menampik bahwa yuniornya itu tak sempat merampungkan kuliah. Menurut Hotman, ketika itu Yahya tinggal mengerjakan  skripsi saja.

Baca Juga :  Megawati: Kalian Siapa yang Membuat Manuver, Keluar!

“Tapi terus ditinggal studi ke Mesir atau ke Arab gitu lho, sehingga tidak sempat selesai,” kata Hotman.

Bagi Hotman, gelar akademik tidak menjamin seuatu, apalagi di era seperti sekarang ini. Yang seharusnya dilihat justru kiprah intelektualnya ketimbang mempermasalahkan gelar. Dan ia menilai Yahya Staquf punya kemampuan mengelola sebuah organisasi besar.

Hotman mengatakan saat ini berderet-deret intelektual bergelar profesor doktor. Yang bergelar guru besar pun berseliweran. Namun banyak yang jejak rekam kiprah intelektualnya belum terlalu  memuaskan.

“Pengetahuan dan ilmu  Yahya Staquf luar biasa, itu yang menurut saya lebih penting dari sekedar gelar,” kata Hotman.

www.tempo.co

Bagi Halaman