JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Geger Seleksi Perangkat Desa di Sragen Diteror Surat Misterius. Isinya Hujat Perangkat hingga Rektor Universitas, Kata-Katanya Kasar Banget!

Sekdes Sumanto saat menunjukkan selebaran atau surat kaleng menyerang proses seleksi Perdes di Kebonromo. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Seleksi perangkat desa di Sragen kembali menjadi sorotan. Kali ini di Desa Kebonromo Ngrampal diguncang teror selebaran misterius yang mengungkit soal seleksi Perdes.

Selebaran tanpa identitas pengirim yang jelas itu ditemukan dikirim di meja balai desa setempat, Jumat (24/12/2021) pagi.

Selebaran dalam kertas dengan tulisan hasil cetak komputer itu hanya satu lembar. Isinya mengecam pelaksanaan seleksi Perdes di desa itu.

Selebaran itu ditulis dengan judul Balada Desaku. Isinya hampir semua menghujat dan mengecam panitia, hingga pihak universitas sebagai pihak ketiga pelaksana ujian Perdes yang dinilai tidak obyektif.

Tak hanya menyindir, di beberapa kalimat selebaran itu juga berisi kecaman dengan kata-kata kasar.

Seperti tak tandur pari tukule malah silet teki. Tak tandur bayan tukule malah buajingan. Kemudian ada kalimat menulis oknum perangkat desa telpon rektor minta nilai sebanyak-banyaknya.

Sekdes Kebonromo, Ngrampal, Sumanto mengaku kaget dengan munculnya selebaran semacam surat kaleng itu. Sepengetahuannya surat kaleng itu ditemukan jam 07.00 WIB pagi tadi di atas meja.

Baca Juga :  Harga Sawit Hancur Lebur di Titik Terendah, Warga Sragen di Perantauan Menangis

“Posisi surat tadi pagi di meja. Ini modelnya kayak surat SE, jam 07.00 WIB yadi kami juga sudah buka tahu-tahu ada ini (selebaran). Kami juga nggak tahu siapa yang membuat dan ini nggak perlu berandai-andai,” paparnya kepada wartawan.

Sumanto yang juga ketua paguyuban perangkat desa (Praja) Sragen itu menyampaikan dari pengamatannya, selebaran itu isinya berusaha menyerang ke pribadi terkait pelaksanaan seleksi Perdes.

Karena tidak ada identitas pengirim dan tidak ada yang bertanggungjawab, ia menilai selebaran itu tak perlu ditanggapi.

“Iya, isinya kalau saya melihatnya menyerangnya malah ke pribadi bukan ke panitia. Dan ini tidak perlu ditanggapi. Kecuali suratnya resmi dan sebagainya mestinya, bisa tak bawa ke kecamatan dan kabupaten untuk didiskusikan. Kalau seperti ini kan tidak usah ditanggapi. Yang membuat siapa juga tidak jelas,” ujarnya.

Menurutnya dari isinya, si pembuat terkesan berusaha menyerang ke pribadi, bukan ke panitia seleksi perdes.

Baca Juga :  378 Pengusaha Angkutan di Sragen Protes Tuntut Pengalihan Rekomendasi Dibatalkan. Organda Sebut Langgar UUD 45 dan Instruksi Presiden

Setahunya, kinerja panitia penjaringan penyaringan di Kebonromo sudah cukup transparan.

“Nyerangnya malah ke pribadi bukan ke panitia. Kalau panitia juga kerjanya transparan,” tegasnya.

Terlebih, hasil seleksi di Kebonromo sudah sesuai diumumkan hari Selasa kemarin. Setelah pengumuman juga tidak ada komplain atau keberatan.

Sebelumnya pun, ia memastikan tidak ada kiriman surat atau selebaran yang lain ke panitia maupun desa.

Perihal kemungkinan dikirim pihak yang kecewa atas seleksi Perdes, Sumanto enggan berspekulasi atau menduga-duga.

“Tapi biasalah itu hal seperti ini. Orang 23 (pelamar) yang jadi 1 terus orang 23 itu minta orang satu yang jadi minta di batalkan karena dianggap melawan hukum. Itu kan hak mereka juga untuk berekspresi. Tapi kalau ekspresi kalau menujunya ke pribadi jadi masalah tapi kalau ini yang nulis nggak tahu dan nggak jelas,” tukasnya.

Saat ini, selebaran itu sudah diamankan oleh pihak desa. Wardoyo

Bagi Halaman