JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Ada Ricuh di Rapat Praja Masalah Bengkok di Tanon Sragen. Sekdes Protes Malah Kena Protes Teman Sendiri

Salah satu perangkat desa di Gemolong saat memprotes Sekdesnya sendiri gegara desanya masuk daftar yang sudah meng-input tanah bengkok di pengelolaan aset APBDes dalam rapat koordinasi Praja masalah bengkok di Ketro, Tanon, Selasa (25/1/2022). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Rapat koordinasi masalah bengkok yang dihadiri ratusan perangkat desa dan Kades di Balai Desa Ketro, Tanon, Selasa (25/1/2022) diwarnai insiden.

Seorang sekretaris desa (Sekdes) diserang protes oleh perangkat desa. Pemicunya Sekdes yang ikut melontarkan penolakan penarikan bengkok itu ternyata diketahui malah memasukkan data tanah bengkok desanya ke APBDes melalui Siskeudes.

Sekdes yang diprotes itu disebut-sebut berasal dari Desa Kalangan, Kecamatan Gemolong.

Pantauan di lokasi, awalnya Sekdes itu ikut mengajukan usul di hadapan forum yang sejak awal sepakat menolak bengkok ditarik.

Di tengah dia usul, mendadak ada perangkat desanya yang interupsi. Perangkat itu dengan lantang memprotes setelah mengetahui nama desanya masuk daftar desa yang sudah meng-input tanah bengkok ke aset daerah di Siskeudes.

“Karepmu piye. Sik dihapus Sik. Lha protes kok tanah bengkok malah diinput,” ujar perangkat itu dengan nada tinggi.

Sang Sekdes yang semula berdiri kemudian beringsut mundur dari posisinya. Ia kemudian menghampiri perangkat desanya yang protes itu.

Baca Juga :  Ditangkap Polisi, Jumadi Asal Ngrampal Cokot Nama Tempel. Mengaku Sudah Bayar Rp 550.000

Ia pun akhirnya tak berkutik setelah dicecar pertanyaan oleh perangkat desanya soal input data bengkok di Siskeudes.

Emosi sang perangkat itu baru mereda setelah dilerai oleh beberapa perangkat dari desa lain yang mencoba menenangkan.

Dia dijelaskan bahwa meski sudah diinput, data itu masih berpeluang untuk direvisi atau dihapus dari daftar.

Insiden jeruk protes jeruk itu tak pelak sempat menyita perhatian ratusan perangkat desa yang hadir.

Ternyata keduanya memang sudah lama berteman dan bukan berasal dari desa yang sama. Akan tetapi sang perangkat hanya mencoba mengingatkan agar Sekdes itu konsisten dengan sikapnya.

“Yang diprotes itu Desa Kalangan. Yang protes dari Plupuh. Tapi mereka sudah lama berteman dan hanya mengingatkan saja,” ujar Ketua Praja Kecamatan Tanon, Agus Salim.

Ketua Paguyuban Perangkat Desa (Praja) Sragen, Sumanto mengatakan desa yang terlanjur menginput data tanah bengkok ke aset di Siskeudes itu dimungkinkan sebagian karena ketidaktahuan atau ketidakpahaman dampak selanjutnya.

Namun ia menengahi bahwa data yang sudah diinput masih bisa direvisi ulang atau dihapus dari daftar.

Baca Juga :  754 Sapi di Sragen Terserang Penyakit Mulut dan Kuku, 300 Sembuh dan 40 Ekor Mati

“Tapi kami tidak mengajak menghapus atau tidak menginput. Yang jelas tadi di forum sudah jenengan dengar sendiri keinginan mereka (menolak input),” ujarnya.

Sementara, Kades Gawan, Sutrisna yang hadir dan diberi kesempatan memberikan sambutan mengatakan secara prinsip pihaknya mendukung saja.

Menurutnya apa yang dilakukan Praja itu sebagai sebuah ikhtiar dan justru lebih elegan untuk menyampaikan aspirasi.

“Sah-sah saja dan saya mendukung kalau mau audiensi dengan DPRD. Tapi kalau saya tetap loyal kepada pimpinan, ketika ada aturan ya tetap saya laksanakan. Tahun ini tanah bengkok di desa kami sudah dicatatkan. Desa Gawan salah satu dari 91 desa di Sragen yang sudah mencatatkan pengelolaan eks tanah bengkok di APBDes,” ujarnya.

Terkait keberatan para perangkat desa tidak bisa melelang, Sutrisna memandang harusnya Pemda bisa menyikapi.

“Bagaimana nanti agar Kades dan Perdes bisa untuk ikut lelang,” ujarnya. Wardoyo

Bagi Halaman