JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Curhat Pilu PKL Depan SDN 4 Sragen Usai Digusur Satpol PP. Pendapatan Anjlok 70 %, Sedih Sampai Rumah Istri Kaget

“Sejak digusur ini, selama tiga hari ini hanya pulang bawa Rp 70.000 sampai Rp 75.000. Hilang semua pelanggan.
Rasanya sedih Pak. Susah, istri ya kaget dan mengeluh kok iki pie Pak kok kayak ngene. Makanya harapan kami segera kembali ke tempat semula,” tuturnya.

Sementara, Tri Wiyono, PKL asal Kalibening, Kroyo mengaku tak tega dengan jeritan para PKL di SDN 4 Sragen.

Ia yang selama ini mangkal di depan SDN 5 dan 8 Sragen memang tak kena gusuran.

Namun ia turut berharap agar pemerintah bisa membuka hati untuk mendengar jeritan PKL dengan mengembalikan mereka ke lokasi semula. Hal itu dilakukan sebagai wujud solidaritas sesama PKL.

“Kita mendampingi teman-teman yang ada masalah. Karena meski beda lokasi jualan, PKL di SD 4 ,5 8 dan jalan veteran dan yang keliling itu satu paguyuban. Total ada 89 orang. Kami sangat prihatin sekali dengan nasib teman-teman di SD 4. Okelah kalau memang Satpol PP pakai Perda dan menggusur, tapi perlu dilihat ternyata pemindahan sementara itu berpengaruh pada ekonomi dan pendapatan jadi agak sulit. Makanya kami minta solusi agar mereka dikembalikan lagi ke tempat semula,” tandasnya.

Baca Juga :  Minta Kasus Viral Bu Suwarti Tak Terulang, Bupati Sragen: Jangan Merasa Kalau Sudah Jadi Guru Pensiunnya 60 Tahun!

Laporan Masyarakat dan Aturan Perda

Menyikapi keluhan itu, Kepala Satpol PP Sragen, Agus Winarno mengatakan penertiban PKL di depan SDN 4 Sragen itu dilakukan atas dasar berbagai pertimbangan.

Pertama, banyak laporan masyarakat bahwa di lokasi itu jika jam pulang sekolah selama PTM banyak orangtua penjemput yang kesulitan parkir karena bahu jalannya berderet-deret ditempati PKL.

Kasat Pol PP, Agus Winarno. Foto/Wardoyo

Alasan kedua, kondisi itu sudah dikoordinasikan dengan Kasek SDN 4 untuk menindaklanjuti masukan masyarakat tersebut.

“Karena kondisi di situ (depan SDN 4) badan jalannya relatif sempit. Sementara jalurnya satu arah. Jadi kadang agak crowded,” jelasnya.

Alasan berikutnya, penertiban juga mengacu Perda No 7/2014. Di mana PKL tidak boleh berjualan di bahu jalan.

Atas pertimbangan-pertimbangan tersebut, pihaknya memutuskan untuk sementara menggeser semua PKL di depan SDN 4 ke sisi barat yang bahu jalannya relatif lebih lebar.

Baca Juga :  Warga Resah, Beredar Kabar Pak Bayan di Sragen yang Renggut Keperawanan Siswi SMK Hingga Hamil, Mau Menikahi Karena Terpaksa

Hal itu dilakukan untuk menghindari kemacetan dan keruwetan yang selama ini banyak dikeluhkan orangtua penjemput maupun pengendara yang melintas di depan SDN 4.

“Karena yang berkepentingan di situ tidak hanya penjemput, tapi juga pengguna jalan yang melintas baik dari arah selatan Jalan Setiabudi maupun dari arah barat Pasar Bunder. Apalagi jalurnya satu arah. Merujuk pada fungsinya, trotoar kan kegunaannya untuk pejalan kaki,” imbuhnya.

Terkait keinginan pedagang minta dikembalikan ke lokasi semula, Agus bisa memahami. Namun fakta banyaknya laporan masyarakat dan keruwetan yang muncul juga tidak bisa dikesampingkan.

“Maunya mereka beda dengan kita yang mengawal kepentingan masyarakat secara luas. Ya bagaimanapun pasti PKl akan berdalih seperti itu. Itu fakta yang tidak bisa dihindari. Kalau mereka menghendaki tempat lebih representatif atau direlokasi ke mana, itu kewenangan bukan di kami. Tapi kewenangan mengelola itu ada di dinas teknis yakni Dinas Perindag,” tandasnya. Wardoyo

« Halaman sebelumnya

Halaman :   1 2 Tampilkan semua