JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Satu Perangkat Desa Pengkol Sragen Tewas Kesetrum Jebakan Tikus. Bhabinkamtibmas Terjun Pasang Ini di Sawah-Sawah

Hama tikus ini karena terputusnya rantai makanan di alam. Pemanfaatan burung hantu liar sebagai pembasmi alami akan terganggu jika ada jebakan listrik karena gemerlap lampu,” jelasnya.

Upaya yang dilakukan oleh Dwi saat ini, terbukti persawahan yang berada di kawasan kebayanan satu yang kini jadi pilot project pengendalian hama tikus secara alami dapat di tekan.

Di sisi lain, Dwi juga bakal mengembangkan pemasangan pagupon ke kebayanan lain.

Satu Perangkat Desa Tewas

Sementara, Sekertaris Pemerintah Desa Pengkol, Heri Puwanto mengapresiasi Bripka Dwi Santoso yang saat ini juga sebagai Bhabinkabtimas Desa Pengkol atas inovasi dan kepedulian menjaga populasi burung hantu liar untuk membantu petani dalam menekan hama tikus.

“Ide pak dwi sangat luar biasa saat ini terbukti di wilayah kebayanan satu. Sebetulnya rencana pemerintah bersama pak Dwi sudah lama. Ketika mau memulai rencana itu menyusul satu perangkat kita menjadi korban jebakan tikus,” ungkap Sekdes Pengkol.

Baca Juga :  Geger Kakek 72 Tahun di Karangmalang Sragen Tewas Gantung Diri. Istri dan Warga Tak Ada Yang Berani Mendekat

Dikatakan Heri, bersama bhabinkabtimas kedepan akan terus mendorong pendirian pagupon untuk menekan populasi hama tikus.

Selain itu, dirinya menghimbau untuk tidak memasang jebakan tikus dengan listrik.

“Tinggalkan jebakan listrik sudah banyak saudara kita kita jadi korban,” tandasnya.

Seperti diketahui, perangkat desa Pengkol, Supomo (53) tewas pada Kamis (10/9/2020) malam Jumat usai kesetrum jebakan tikus di sawahnya sendiri.

Perangkat desa asal Dukuh Kranggan RT 21 yang menjabat Kasi Pelayanan itu ditemukan meregang nyawa di sawahnya di Dukuh Kranggan, Desa Pengkol, Tanon pukul 20.00 WIB.

Baca Juga :  Kerjasama dengan Oasen Belanda, Kebocoran PDAM Sragen Turun 8 %. Rob Hoffman dan Henk Van Brenk Kagumi Semangat Pegawai

Data yang dihimpun di lapangan, kejadian kali pertama diketahui putranya, Abriyan (16). Ceritanya, pukul 18.00 WIB ia curiga dengan bapaknya yang belum pulang.

Kemudian ia mencari ke balai desa karena mengira bapaknya masih kerja di balai desa. Namun tenyata korban tidak ada di balai desa.

Setelah itu, ia bersama tetangga berinisiatif mencari ke sawah. Tak dinyana, keduanya kaget dan menemukan korban dalam kondisi meninggal dunia.

Saat ditemukan, korban dalam kondisi sudak tidak bernyawa dalam posisi tengkurap. Dari kondisi fisik, kaki korban mengalami luka bakar menyentuh kabel listrik perangkap tikus. Wardoyo

« Halaman sebelumnya

Halaman :   1 2 Tampilkan semua