JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

966 Ekor Tikus Tertangkap, Pemdes Tangkil Sragen Keluarkan Tebusan Rp 1,9 Juta. Camat Sampai Ikut Terjun

Kades menyampaikan metode gropyokan digelar secara manual dan menggunakan emposan.

Kades menguraikan gropyokan dipilih lantaran dinilai paling efektif dan aman bagi petani. Gropyokan digelar dengan sarana emposan, linggis, api gas elpiji dan belerang.

Gerakan gropyokan digencarkan lantaran penggunaan setrum tikus dinilai berbahaya dan sudah banyak merenggut nyawa di Sragen.

Pemberantasan tikus dinilai mendesak lantaran dalam tiga tahun terakhir, serangan tikus sudah di luar batas kewajaran hingga membuat panen petani merosot.

Baca Juga :  Penjualan Kayu Jati di Desa Sribit Dipastikan Jadi Pendapatan Desa. Lahannya untuk Relokasi Korban Bengawan

Gropyokan digelar sebelum masa tanam. Dengan harapan ketika padi sudah ditanam maka bisa selamat dari serangan.

Selama ini pola serangan tikus lebih banyak menyerang ketika tanaman padi sudah mulai berkembang.

“Ini juga upaya untuk menjaga ketahanan pangan di desa kami. Kalau dibiarkan produksi pangan akan terus menurun karena tikus makin banyak,” jelasnya.

Baca Juga :  Breaking News: Geger Mayat Wanita Mengambang di WKO Sragen. Berasal dari Boyolali

Suyono menambahkan sebagai wujud apresiasi, setiap satu ekor tikus dewasa yang ditangkap dihargai Rp 2.000. Sementara untuk anakan tikus, per ekor dihargai Rp 500.

Pemberian upah itu dimaksudkan untuk memotivasi warga dan petani agar semangat memberantas tikus melalui gropyokan. Wardoyo

« Halaman sebelumnya

Halaman :   1 2 Tampilkan semua
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com