JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

966 Ekor Tikus Tertangkap, Pemdes Tangkil Sragen Keluarkan Tebusan Rp 1,9 Juta. Camat Sampai Ikut Terjun

Kades Tangkil, Suyono bersama Gapoktan, Babinsa dan Bhabinkamtibmas saat bersinergi melakukan gropyokan, Kamis (17/3/2022). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pemdes Tangkil, Kecamatan Sragen, terus menggencarkan kegiatan gropyokan tikus di wilayah setempat.

Sebanyak 966 ekor tikus berhasil ditangkap dari tiga hari pelaksanaan gropyokan yang digelar setiap hari sejak Selasa (15/3/2022).

Dari jumlah itu, Pemdes pun langsung memberikan uang tebusan senilai hampir Rp 1,932 juta kepada petani. Satu ekor tikus dihargai Rp 2.000.

“Sampai hari ini, total sudah 966 ekor tikus yang berhasil ditangkap sejak hari pertama gropyokan Selasa (15/3/2022). Total uang yang sudah kita bayarkan ke Gapoktan Rp 1,932 juta sesuai jumlah ekor tikus kali Rp 2.000,” papar Kades Tangkil, Suyono kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Kamis (17/3/2022).

Ia menguraikan gropyokan akan terus digelar selama sepekan sampai tanggal 24 Maret pekan depan. Lokasi gropyokan berpindah-pindah sampai semua areal terkover.

Baca Juga :  Kenali 2 Jenis Apel Malang, Oleh-Oleh Khas Malang. Ada yang Manis dan Ada yang Masam Lho

Untuk hari ini, gropyokan dilakukan di wilayah Dukuh Gapoktan Maju 1, Maju 2 dan Sidodadi. Gropyokan digelar dari jam 7.30 WIB sampai jam 11.00 WIB.

Suyono mengapresiasi pelaksanaan gropyokan selama tiga hari ini.

Menurutnya gropyokan cukup efektif menekan populasi tikus di wilayah desanya yang dibuktikan dengan banyaknya tikus yang tertangkap.

“Cukup efektif betul. Kalau melihat hasil tikus yang ditangkap. Tadi Pak Camat juga ikut hadir,” urainya.

Kades menyampaikan metode gropyokan digelar secara manual dan menggunakan emposan.

Kades menguraikan gropyokan dipilih lantaran dinilai paling efektif dan aman bagi petani. Gropyokan digelar dengan sarana emposan, linggis, api gas elpiji dan belerang.

Gerakan gropyokan digencarkan lantaran penggunaan setrum tikus dinilai berbahaya dan sudah banyak merenggut nyawa di Sragen.

Baca Juga :  5 Napi Lapas Sragen Kabur Panjat Tembok. Sempat Terekam CCTV

Pemberantasan tikus dinilai mendesak lantaran dalam tiga tahun terakhir, serangan tikus sudah di luar batas kewajaran hingga membuat panen petani merosot.

Gropyokan digelar sebelum masa tanam. Dengan harapan ketika padi sudah ditanam maka bisa selamat dari serangan.

Selama ini pola serangan tikus lebih banyak menyerang ketika tanaman padi sudah mulai berkembang.

“Ini juga upaya untuk menjaga ketahanan pangan di desa kami. Kalau dibiarkan produksi pangan akan terus menurun karena tikus makin banyak,” jelasnya.

Suyono menambahkan sebagai wujud apresiasi, setiap satu ekor tikus dewasa yang ditangkap dihargai Rp 2.000. Sementara untuk anakan tikus, per ekor dihargai Rp 500.

Pemberian upah itu dimaksudkan untuk memotivasi warga dan petani agar semangat memberantas tikus melalui gropyokan. Wardoyo

Bagi Halaman
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com