SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kasus dugaan pelecehan yang menimpa empat artis atau penyanyi atau sinden campursari saat manggung di hajatan warga Ngrombo, Tangen, oleh seorang tamu pria berinisial GS (45) mencuatnya fakta baru.
Setelah aksi lapor polisi yang dilakukan salah satu penyanyi dan korban, Tata (26) CS Kamis (31/3/2022) dinihari, disebut mulai muncul ancaman.
Ancaman yang diduga berasal dari kelompok terlapor itu dialamatkan kepada suami Tata, Bams.
Bams tak lain adalah pemilik orkes campursari Garaga yang mengiringi pentas Tata CS di Ngrombo, Tangen saat kejadian.
“Iya, ini saja suami saya juga langsung dapat ancaman,” ujar Tata kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Jumat (1/4/2022).
Tata menguraikan ancaman itu dikirim via pesan whatsapp (WA). Dalam pesannya, si pengirim menulis kalimat bernada menggertak dan meminta agar laporan polisi dicabut.
“Ancamannya kalau mau pengen campursarimu laris terus, kerja terus, mending dicabut aja tuntutannya. Begitu ancamannya, mungkin dari geng mereka,” urai Tata.
Meski demikian, Tata tidak patah arang atau mundur. Ia mengaku apa yang dilakukannya semata-mata demi menjaga martabat profesi seniwati atau penyanyi agar tidak diremehkan dan bisa diperlakukan seenaknya.
Langkah menempuh jalur hukum juga untuk menjadi perhatian serta mencegah tindakan serupa terulang kepada dirinya dan rekan-rekan sesama profesi penyanyi atau seniwati.
“Faktanya masyarakat di desanya (Ngrombo) malah mendukung kami, karena mereka sudah resah dengan kelakuan itu. Dari pihak tayub juga mendukung kami. Kamu diundang untuk menyanyi dan kerja bener,” urainya.
“Kenap kita laporkan karena mungkin korban yang menerima perlakuan gitu sudah banyak. Tapi selama ini teman-teman nggak berani ngomong, nggak berani bersuara atau lapor yang berwajib. Kalau kita bener, ya kita berani. Agar mereka nggak bertindak seenaknya,” tandas Tata.
Terpisah, Kapolsek Tangen, AKP M Zaini mengatakan akan menindaklanjuti kasus itu sesuai prosedur.
Pihaknya sudah mengagendakan pemanggilan untuk pelapor, saksi-saksi termasuk pemilih hajatan dan terlapor.
Pemanggilan dijadwalkan dilakukan dalam beberapa hari ke depan sembari menunggu kesiapan para terpanggil tersebut.
“Sebenarnya hari ini kita jadwalkan pelapor kita mintai keterangan, tapi mereka belum bisa hadir karena sedang ada job. Makanya kita masih nunggu mereka sampai besok yang pas sudah nggak ngejob. Setelah itu baru pemilik hajatan, saksi-saksi dan terlapor. Kita tetap komitmen menindaklanjuti semua aduan sesuai prosedur,” tandasnya. Wardoyo