JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

Ada Makam Unik di Tengah Trotoar Jalur Solo-Sukoharjo. Inilah Kisah dan Mistis di Balik Makam Mini di Tanjunganom Solo Tersebut

“Yang dimakamkan di situ selain kucing, ada juga kuda, burung, dan lain sebagainya. Kebetulan raja yang gemar memelihara seperti itu adalah Sri Sultan Pakubuwono X, yang bertahta tahun 1893 sampai 1939,” jelasnya.

Sejak kapan kucing tersebut meninggal, Nuky tidak mengetahui secara pasti cerita sejarahnya. “Karena di nisannya juga tidak tertulis, hanya tertulis namanya saja. Dan tidak ada surat atau babat yang pastinya menulis mengenai itu. Karena jarang sekali babat yang menulis tentang binatang,” katanya.

Disinggung mengenai arti aksara jawa yang tertera dalam sebuah nisan hitam mini tersebut, Nuky menerangkan bahwa artinya adalah klangenan dalem Nyai Tembong. “Itu klangenan dalem nyai tembong, iya bacanya itu,” imbuhnya.

Baca Juga :  Solia Yosodipuro Berbagi Cinta dan Kepedulian dengan Para Veteran

Kemudian untuk alasan kenapa makam tersebut tidak dipindah dan dibiarkan begitu saja terletak di trotoar jala, Nuky juga belum dapat memastikan. “Tapi menurut saya memang tidak dipindah, karena dilihat dari posisinya masih di trotoar. Beda jika itu ada di jalan atau ada di tengah jalan, kemungkinan dipindah,” paparnya.

Keberadaan makam tersebut, ternyata juga lekat dengan cerita-cerita mistis. “Cerita-cerita mistis mestinya ada menyelimuti, karena orang Jawa selalu mengaitkan itu dengan di luar nalar. Itu salah satunya pernah ada pengendara lewat situ melihat ada  penyeberang. Tapi ternyata gak ada. Lalu ada yang mengencingi tempat itu kemudian alat kelaminnya bengkak, kemudian minta maaf ke situ,” terangnya.

Baca Juga :  BI Solo Layani Penukaran Uang Kertas Baru 2022, Begini Prosedurnya

Selain cerita mistis, makam tersebut ternyata lekat juga denga mitos-mitos masyarakat. “Itu juga sering dilakukan ritual. Ketika sebelum tanam, petani-petani membeli sesaji di situ. Karena kucing kan musuhnya tikus. Supaya hama tikusnya tidak menyerang, sama mereka,” katanya.

“Jaman dulu di situ kanan kirinya sawah. Jadi di situ ada pemakaman binatang, kemudian ada sawah, terus katanya ada sungai untuk memandikan gajah,” pungkasnya. (Ando)

« Halaman sebelumnya

Halaman :   1 2 Tampilkan semua
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com