JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Benarkah Arwah Orang Bunuh Diri Gentayangan, Simak Penjelasan Ketua MUI Sragen!

Peran semua pihak, mulai dari lingkungan sekitar hingga pemerintah juga dipandang perlu untuk mengurai dan meminimalisir kondisi yang bisa memicu bunuh diri.

“Memang tanggungjawab bersama dan harus semua pihak. Tidak hanya pemerintah, masyarakat, tokoh agama dan lingkungan sekitar harus ikut membantu,” terangnya.

Soal kondisi keterbatasan ekonomi, Minanul menyebut bukanlah hal dominan yang memicu pelaku bunuh diri.

Menurutnya kunci utama yang membentengi bunuh diri justru adalah keimanan dan ketaqwaan.

“Yang ekonominya terbatas kan juga banyak, tapi nggak terus kemudian bunuh diri. Kalau dia imannya kuat dan bisa menghadapi ujian, tidak akan sampai bunuh diri,” terangnya.

Pernyataan itu disampaikan menyikapi tragedi bunuh diri yang belakangan kembali merebak di Sragen. Terbaru, tiga orang di Gondang dan Kedawung, nekat mengakhiri hidupnya di tali gantungan pada Jumat (6/5/2022) lalu.

Baca Juga :  Sragen Sempat Mencekam, Para Pendekar PSHT Berbagai Wilayah Berkumpul Hendak Merangsek ke Kota

Tiga korban itu masing-masing bapak anak di Dukuh Grasak, Desa Gondang, Arifin (40) dan putrinya Saqilla Love Afilah Sungkar (5).

Ia ditemukan gantung diri bareng di rumah mereka Dukuh Grasak RT 43, Gondang, Sragen.

Dalam waktu yang sama, seorang bapak muda bernama Suwanto (34) warga Dukuh Randusari RT 0 B, Desa Pengkok, Kecamatan Kedawung, juga ditemukan tewas gantung diri di dapur rumahnya dengan tali senar.

Tiga kasus bunuh diri itu makin menambah panjang daftar rentetan kejadian harakiri di Bumi Sukowati.

Fakta miris itu juga seolah memperkuat catatan buruk maraknya fenomena bunuh diri di Sragen dalam beberapa tahun terakhir.

Bahkan, dalam hitungan setahun, jumlah warga Sragen yang bunuh diri bisa mencapai 36 orang. Mereka mengakhiri hidup dengan berbagai cara mulai dari gantung diri, nyemplung sumur, terjun ke sungai hingga nenggak racun serangga.

Baca Juga :  HUT ke-64, RSUD Sragen Bangun Gedung Pusat Diagnostik Senilai Rp 78 M. Dirut: Ke Depan Tak Ada Lagi Antrian Operasi!

Data yang dihimpun JOGLOSEMARNEWS.COM dari Polres mencatat selama kurun setahun terakhir dari 2020 hingga awal 2021 lalu, tercatat sudah 36 warga di Bumi Sukowati yang memutuskan mengakhiri hidupnya secara harakiri atau bunuh diri.

Ironisnya lagi, mayoritas kasus bunuh diri itu dilakukan dengan gantung diri dan nyebut ke sungai atau terjun dari jembatan.

Motif kesulitan ekonomi dan depresi akibat sakit berkepanjangan menjadi faktor paling dominan yang melatarbelakangi aksi bunuh diri tersebut.

Fakta itu terungkap dari hasil analisa dan evaluasi (Anev) kasus tahunan yang terekam di Polres Sragen tahun 2020 dan awal 2021 lalu. Wardoyo

« Halaman sebelumnya

Halaman :   1 2 Tampilkan semua
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com