JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Boyolali

PMK Picu Jumlah Sapi yang Dijual di Pasar Hewan Boyolali Merosot

Kepala UPT Pasar Hewan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Boyolali, Sapto Hadi Darmono saat meninjau pasar hewan Boyolali di Desa Jelok, Kecamatan Cepogo, Boyolali / Foto: Waskita

BOYOLALI, JOGLOSEMARNEWS.COM Dampak penyebaran penyakit Mulut dan Kuku (PMK) mulai dirasakan peternak dan penjual atau blantik sapi, termasuk di Boyolali.

Saat ini, harga jual sapi turun antara Rp 250.000- Rp 500.000 per ekor.

“Selain itu, potensi sapi yang masuk ke pasar hewan pun berkurang. Ini dampak dari PMK,” kata  Kepala UPT Pasar Hewan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Boyolali, Sapto Hadi Darmono.

Ditemui wartawan di sela pemeriksaan sapi di Pasar Hewan Boyolali di Desa Jelok, Kecamatan Cepogo pada hari pasaran Senin (16/5/2022) pahing, dia menjelaskan, sebelum wabah PMK, setiap hari pasaran pahing (penanggalan Jawa), sedikitnya 1.000 sapi masuk ke Pasar Hewan Boyolali.

Baca Juga :  1.347 Anggota PPDI Boyolali "Geruduk" Jakarta, Ada Apa?

“Namun saat ini potensi sapi yang masuk ke pasar hewan ini menurun antara 25-30 persen.”

Atau berkisar antara 600-700 ekor sapi. Kondisi yang sama juga terjadi di Pasar Hewan Karanggede, Pasar Hewan Karangjati Simo, serta Pasar Hewan Nogosari dan Ampel.

Pihaknya juga selalu memeriksa ternak yang dijual di seluruh pasar hewan di Boyolali.

“Memang belum ditemukan adanya sapi-sapi yang di pasar hewan ini yang terpapar PMK.”

Baca Juga :  Terkait Penyakit LSD, Disnakan Boyolali: Peternak Harus Sabar Mengobatinya, Jangan Grusa-grusu Dijual

Hanya saja, saat dilakukan pemeriksaan ditemukan sapi-sapi yang mengeluarkan air liur yang berlebih.

Namun, setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan dengan membuka mulut sapi tak ditemukan adanya tanda-tanda gejalan klinis yang mengarah ke PMK.

“Ada 15 ekor sapi bersuhu tubuh tinggi yakni 40-41 derajat celcius.”

Sapi juga mengalami hipersalivasi atau keluar liur busa terus. Tapi setelah diperiksa mulut dan teracak kaki kondisi sehat. Panas tinggi dan hipersalivasi tersebut terjadi karena suhu lingkungan yang panas.

“Serta karena ternak kepanasan selama perjalanan.” Waskita

Bagi Halaman
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com