
SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Sabtu, 12 Agustus 2023 merupakan hari yang menggembirakan bagi para murid kelas 2 SD Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah, Solo.
Mereka memendam rasa penasaran sejak mendapat perintah dari guru untuk membawa jagung kering dan lem ke sekolah esok harinya.
Membawa jagung kering dan lem? Untuk apa?
Sampai di sekolah dan ketika pelajaran dimulai, barulah para murid mengetahui, mereka hendak diajak belajar membuat kolase buah jagung.

Yap, kepada mereka disediakan lembaran kertas lebar bergambar jagung. Lalu, para murid diminta untuk menempelkan biji jagung itu satu per satu ke atas gambar jagung yang sebelumnya diolesi lem.
Lihatlah anak-anak itu, mereka membuat kolase tanaman jagung dengan ketekunan, kesabaran dan kehati-hatian agar hasil kolasenya bagus dan rapi.
Para murid melaksanakan kegiatan tersebut dengan senang, semangat, antusias dan penuh tanggung jawab.
Satu, dua, lima, sepuluh, dua puluh dan seterusnya, para murid haruslah menata biji-biji jagung itu dengan sangat hati-hati, agar tatanan biji jagung menjadi rapi, seperti gambar yang tertera di atas kertas.
Ternyata, ada banyak cara bagi guru untuk mengajarkan ketekunan, kerapian, kesabaran dan kedisiplinan kepada para muridnya.
“Membuat kolase jagung ini merupakan salah satu cara untuk melatih unsur-unsur tadi. Karena, tanpa salah satu unsur itu terpenuhi, hasilnya akan kelihatan, kolase jagung tidak rapi,” papar Ustadzah Pipit Anugraheni, S.Pd sebagaimana dikutip dalam rilisnya ke Joglosemarnews.

Praktik itu ingin menggambarkan, dalam lingkup kecil, ketidaksabaran, ketidaktekunan dan ketidakdisiplinan langsung terlihat pada kolase jagung yang tidak rapi.
Sementara dalam arti yang lebih luas, ketidaksabaran, ketidaktekunan dan ketidakdisiplinan akan terlihat kelak, ketika seseorang menjadi pemimpin.
“Ini sepertinya sepele, tapi sebenarnya merupakan bagian dari penanaman karakter Pancasila,” lanjut Pipit.
Beigtulah, usai pembuatan kolase, setiap guru menanamkan pembiasaan karakter kebersihan dan kerapian.
Setiap siswa diminta untuk membersihkan dan merapikan kembali tempat dan semua bahan yang sudah tidak digunakan. Mereka pun melaksanakan dengan senang dan penuh tanggungjawab.
Wulansari menjelaskan, pembuatan kolase jagung itu merupakan lanjutan dari kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) pekan lalu.
Dengan mengusung tema Kearifan Lokal, para guru mengambil objek pohon jagung dalam rangka mengenalkan kepada para murid tentang pohon jagung dan manfaatnya bagi kehidupan.
Beberapa manfaat yang dikenalkan dari pohon jagung di antaranya sebagai tanaman pokok, olahan dari jagung dimanfaatkan untuk berbagai makanan, seperti jasuke, popcorn, jagung bakar dimana sebagian besar anak-anak menyukainya.
“Saya suka sekali dengan jagung, dan kegiatan kolase ini sangat menarik. Karena bisa melihat jagung seperti jagung sebenarnya, kolasenya memakai biji jagung asli,” kata Sheza Maryam, murid kelas 2A.
Lebih lanjut, Pipit menjelaskan, tujuan dari kegiatan tersebut dalah untuk menumbuhkan kreativitas para murid dan memberikan wawasan yang luas tentang kearifan lokal yang ada di lingkungan sekitar.
Melalui kegiatan itu, para murid diharapkan semakin mencintai kearifan lokal yang dimiliki oleh daerahnya sendiri, sekaligus mengasah karakter murid. Suhamdani
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














