Beranda Umum Nasional Susul PDIP, Ini 5 Kritik NasDem untuk Jokowi

Susul PDIP, Ini 5 Kritik NasDem untuk Jokowi

Ketua Umum DPP Partai NasDem Surya Paloh (kanan) berbincang dengan Ketua Umum DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri (kiri), Presiden terpilih, Joko Widodo, dan Wakil Presiden terpilih, Jusuf Kalla usai pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PDIP di Marina Convention Center (MCC), Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (19/9/2014) silam | tribunnews

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM –  Setelah mendapatkan seumlah kritik dari PDIP, kini giliaran Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendapat lima kritikan tajam dari Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh.

Sebagaimana diketaui, selama ini PDIP dan Partai Nasdem merupakan partai politik pendukung Jokowi di pemerintahan.

Surya Paloh melontarkan kritik terhadap Jokowi tersebut dalam momentum perayaan HUT ke-12 NasDem di NasDem Tower, Jakarta, Sabtu (11/11/2023).

Meski tak menyebut langsung nama Jokowi namun pernyataan Surya Paloh diduga kuat ditujukan kepada Jokowi.

Di antaranya saat Surya Paloh menyinggung soal orang tua yang mencalonkan anaknya sebagai cawapres.

Pada Pilpres 2024 ini hanya Jokowi yang mendukung anaknya Gibran Rakabuming Raka jadi cawapres Prabowo Subianto.

Berikut  ini 5 poin penting pernyataan Surya Paloh yang secara tidak langsung menyerang Presiden Jokowi:

 

  1. Orang Tua Calonkan Anaknya Cawapres

Dalam pidatonya, Surya Paloh mengatakan dirinya tidak akan mencalonkan anaknya sebagai cawapres meski memiliki kesempatan.

Hal itu dikatakan Surya Paloh saat menjawab pertanyaan seorang kadernya dari Jawa Timur soal apakah ia akan mencalonkan anaknya, Prananda Surya Paloh, sebagai cawapres.

“Saya pikir yang pertama saya coba intip dulu anak saya. Saya lihat baik-baik, dia ini cocok apa enggak, ya?” kata Surya Paloh.

Andaikata anaknya patut untuk dicalonkan, Surya Paloh kemudian menyinggung soal kepantasan.

“Walaupun saya pikir saya punya kesempatan untuk mencalonkan dia (anaknya) tapi saya pikir, pantas enggak dia?” ujar Surya.

Menurut Surya Paloh, sosok cawapres haruslah melewati sebuah proses, yang akan membuatnya matang dalam arti lengkap.

“Orangtua dulu menyatakan kalau bisa dia harus mapan dulu. Bukan hasil peraman, nah ini yang saya harapkan. Jadi mungkin kalau anak saya berani bertanya kepada saya, maka saya akan katakan ‘tunggu dulu, akan tiba saatnya, itupun kalau saya masih berumur panjang’,” ujar dia.

 

  1. Singgung Aparat Negara

Selain itu, Surya Paloh menyebut, banyak aparat negara yang terseret pada kepentingan pribadi dan golongan.

“Hari-hari ini kita melihat betapa banyaknya upaya membawa negara dan aparaturnya melayani kepentingan pribadi dan golongan,” ujar Surya.

Baca Juga :  Survei LSI: Mayoritas Pemilih Prabowo-Gibran Tolak Pilkada Lewat DPRD, Nah?

Surya menambahkan upaya menyeret aparatur negara pada kepentingan politik praktis melahirkan ketidakpercayaan masyarakat kepada negara.

“Kritik kemudian muncul dalam bentuk sinisme dan cemoohan yang sudah sangat kasar sebagai bangsa yang beradab,” imbuh dia.

Surya mengatakan negara kini telah mengalami penurunan kewibawaan pada tingkatan yang paling rendah akibat praktik tersebut.

Hal ini yang menyebabkan rakyat mengalami kesulitan menempatkan kepercayaan kepada sosok selain pemerintah.

“Hari ini akan mudah sekali kita temui rakyat yang merasa cukup memerintah dirinya sendiri, saat ini kita berada di tanduk kerusakan yang paling mencemaskan sepanjang kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita berharap semua pemimpin nasional dan rakyat tidak kehilangan kontrol,” ucapnya.

 

  1. Melawan Jika Ada Ketidakadilan

Surya Paloh menyatakan pihaknya tidak akan diam apabila ada penguasa yang bertindak tidak adil, demi untuk kepentingan kelompoknya.

“Kita semua bisa menerima untuk menjadi rakyat jelata asalkan itu berdasarkan pada keadilan. Sebaliknya kita tidak bisa tinggal diam ketika ada penguasa kekuasaan yang berlaku tidak adil demi kepentingan tertentu, demi kepentingan kelompoknya,” katanya.

Ditegaskan Surya Paloh, pihaknya bakal menerima situasi apapun baik itu sedih atau nestapa asalkan muncul dari nilai keadilan.

“Nilai kepatutan dan kepantasan, sebaliknya kesejahteraan semakmur apapun suatu bangsa. Jika tidak ada keadilan di dalamnya maka gugatan demi gugatan yang datang silih berganti,” terangnya.

Dikatakannya, keadilan adalah rasa, keadilan adalah spiritualisme. Keadaan yang dapat membimbing manusia pada hidup yang sesuai dengan sunnahtullah.

“Itulah kenapa di dalam negeri yang makmur dan sejahtera tetap ada lembaga yang peradilan itu. Karena keadilan bukan hanya tentang kemakmuran dan kesejahteraan saja,” ungkapnya.

 

  1. Tak Ada Kekuasaan yang Tidak Berakhir

Selanjutnya, Surya Paloh menyebut tidak ada kekuasaan yang terus-menerus bertakhta.  Menurut dia, setiap kekuasaan pada saatnya akan berakhir.

“Tidak ada kekuasaan besar maupun kecil yang pernah diizinkan bertakhta terus-menerus sepanjang zaman. Sejarah telah menyampaikan kepada kita, bahwa berapa besar pun kekuasaan manusia bisa satu waktu dia akan berakhir juga,” kata dia.

Baca Juga :  PDIP Konsisten Dukung Pilkada Langsung, Ganjar Ingatkan Sejarah Reformasi

Surya Paloh kemudian menyinggung perkataan Adam Malik dalam buku yang berjudul “In The Service of The Republic” bahwa penguasa akan terus bergantian, tetapi negarawan tetap hidup bersama bangsa.

Paloh juga mengatakan bahwa dibutuhkan keberanian dalam berpolitik agar selalu memegang prinsi-prinsip dalam konstitusi.

 

  1. Singgung Pemimpin Palsu

Surya Paloh menyebut  Indonesia saat ini berada di ujung tanduk dan sedang mengalami kerusakan yang paling mencemaskan sepanjang sejarah.

“Saat ini kita berada di ujung tanduk kerusakan yang paling mencemaskan sepanjang kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar dia.

Surya mengatakan ada harapan besar agar pemimpin saat ini dan juga rakyat secara keseluruhan tidak kehilangan kontrol atas keadaan.

Dia menyebut banyak peradaban besar yang kebingungan akibat kehilangan adab dan berakhir pada terpilihnya pemimpin palsu.

“Seorang pemimpin dengan begitu mereka yang dipuja saat cemerlang dan dihujat saat redup,” ucap dia.

Menurut dia, saat ini pertarungan besar sedang terjadi karena ada kelompok yang siap mencadangkan kepentingan rakyat untuk meraih kekuasaan.

Oleh karena itu, ia berpesan kepada kader Nasdem agar menjaga semangat kebangsaan.

“Semangat kebangsaan adalah nalar yang harus dijaga sepanjang hayat kita masih dikandung badan,” ucap Paloh.

www.tribunnews.com

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.