
SETIAP tanggal 25 November, bangsa ini merayakan Hari Guru Nasional. Namun perayaan itu sering hanya berhenti pada seremoni: baliho ucapan terima kasih, pidato standar, dan unggahan media sosial. Padahal di balik istilah sederhana guru—dari Sanskerta gu (kegelapan) dan ru (cahaya)—tersimpan misi yang jauh lebih berat: membebaskan manusia dari kebodohan dan menuntunnya menuju terang peradaban. Tugas itu tidak sekadar teknis mengajar, melainkan membentuk karakter, moral, dan kepribadian bangsa.
Indonesia hari ini menghadapi ironi. Sekolah ada di tiap kecamatan, pesantren tumbuh pesat, dan jutaan anak mengenyam pendidikan. Tetapi karakter kolektif kita rapuh. Laporan Global Knowledge Index (UNDP, 2023) menunjukkan kualitas literasi kritis kita rendah; survei Edelman Trust Barometer memperlihatkan turunnya kepercayaan publik; sementara berbagai kasus korupsi, intoleransi, dan kekerasan menunjukkan kuatnya mentalitas pragmatis dan lemahnya integritas. Kita menghasilkan lulusan, tetapi belum menghasilkan manusia.
Apa yang salah? Mudah saja menyalahkan kurikulum, birokrasi pendidikan, atau sistem evaluasi. Tetapi akar persoalan jauh lebih mendasar: pendidikan kita kehilangan jiwa. Pendidikan berubah menjadi industri administrasi—dibanjiri laporan, platform digital, dan obsesi pada nilai—sementara misi memanusiakan manusia semakin terpinggirkan.
Sejumlah kajian pendidikan karakter menunjukkan bahwa inti pembentukan moral bukan pada materi ajar, melainkan keteladanan. Lickona (1991) menegaskan: karakter anak tumbuh dari tiga unsur utama—keteladanan, pembiasaan, dan lingkungan moral. Sementara Ki Hadjar Dewantara mengingatkan bahwa guru adalah “ing ngarso sung tulodo”—menjadi teladan sebelum menjadi pengajar. Ketika keteladanan melemah, seluruh bangunan pendidikan kehilangan fondasinya.
Bukan berarti guru adalah pihak yang sepenuhnya salah. Banyak guru berjuang dengan dedikasi luar biasa: gaji pas-pasan, beban administratif menumpuk, tekanan orang tua meningkat, dan otoritas moralnya kerap dipertanyakan. Tetapi jika pendidikan hendak diperbaiki, maka guru—suka atau tidak—tetap menjadi titik awal perbaikan. Bangsa tidak dapat menunggu sistem berubah sebelum guru berubah.
Karena itu, Hari Guru semestinya menjadi momentum refleksi kritis, bukan sekadar selebrasi. Guru harus berani bertanya: apakah saya benar-benar menjadi sosok digugu lan ditiru? Apakah saya hanya mengajar materi atau juga membentuk watak? Apakah murid melihat saya sebagai sumber ilmu atau sumber teladan?
Guru sejati adalah pendidik yang berani menampilkan kejujuran dalam tindakan sehari-hari. Penelitian Narvaez (2006) menegaskan, karakter lahir dari pengalaman moral yang konkret. Satu tindakan guru—datang tepat waktu, meminta maaf ketika salah, berkata jujur di depan murid—lebih kuat dari ratusan jam pelajaran PPKn. Murid meniru apa yang guru lakukan, bukan apa yang guru katakan.
Selain teladan, guru harus menghidupkan kembali relasi manusiawi dalam pendidikan. Murid bukan objek pembelajaran, melainkan jiwa yang sedang tumbuh. Carl Rogers (1983) menyebut relasi hangat, empatik, dan menghargai sebagai fondasi perubahan diri peserta didik. Guru yang hadir secara emosional—mendengar, memahami, dan memotivasi—akan membentuk karakter jauh lebih dalam dibanding guru yang hanya menunaikan kewajiban mengajar.
Perbaikan pendidikan juga mengharuskan guru menjadi pembelajar. Bukan sekadar kewajiban pelatihan, melainkan kesediaan introspektif untuk terus bertumbuh. Penelitian Hargreaves (1998) menekankan bahwa guru adalah profession of hope—profesi yang menanam harapan generasi masa depan. Guru yang berhenti belajar, berhenti memberi harapan.
Namun, kerja guru tidak dapat berjalan sendirian. Sekolah harus menciptakan ekosistem karakter: budaya antre, budaya salam, kebersihan, disiplin, keberanian berkata jujur. Orang tua harus menjadi mitra sejati, bukan sekadar konsumen pendidikan. Masyarakat harus menjadi ruang aman bagi praktik nilai, bukan arena sarkasme dan kebencian. Tetapi bahkan semua itu tetap bergantung pada satu titik: kualitas guru.
Dalam sejarah bangsa mana pun, guru adalah penentu arah peradaban. Jepang bangkit setelah perang bukan hanya karena teknologi, tetapi karena filosofi sensei yang menempatkan guru di puncak penghormatan moral. Finlandia menjadi salah satu negara dengan pendidikan terbaik karena menempatkan guru sebagai profesi paling prestisius, paling diseleksi, dan paling dihormati.
Indonesia tak akan pernah menjadi negara besar tanpa guru besar—bukan dalam gelar, tetapi dalam moral, integritas, dan keteladanan. Karenanya, Hari Guru harus menjadi seruan untuk kembali pada marwah: guru sebagai cahaya yang menyingkirkan kegelapan. Guru yang mengajari murid bukan hanya cara berpikir, tetapi cara hidup. Guru yang tidak sekadar mencerdaskan bangsa, tetapi memuliakan bangsa.
Jika bangsa ini ingin melahirkan pemimpin yang jujur, berani, amanah, dan bertanggung jawab, maka semuanya dimulai dari ruang kelas—dari seorang guru yang memilih berbenah dan kembali menjadi teladan. Di tangan merekalah masa depan Indonesia dipertaruhkan. Guru, bukan sekadar pelita ilmu, tetapi penentu karakter republik. [*]
Yuliantoro
Penulis lepas – alumnus Sosiologi UGM
