Beranda Daerah Solo Kajian KAHMI Solo: Menghidupkan Kembali Marwah Masjid sebagai Pusat Gerakan Umat

Kajian KAHMI Solo: Menghidupkan Kembali Marwah Masjid sebagai Pusat Gerakan Umat

Prof Aidul Fitriciada saat menjadi narasumber dalam kajian KAHMI Solo. Foto: dok

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM —Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) bersama Forum Korps HMI Wati (FORHATI) Surakarta menggelar kajian strategis bertajuk “Masjid sebagai Pusat Gerakan” di kediaman Anas Syahirul Gentan, Baki, Sukoharjo pada Rabu (24/12/2025). Kegiatan ini bertujuan menggali kembali peran fundamental masjid yang selama ini dinilai mengalami reduksi fungsi hanya sebatas tempat ibadah ritual.

Kajian ini diisi oleh mantan ketua Komisi Yudisial tahun 2016-2018, Prof. Aidul Fitriciada Azhari dan dimoderatori oleh Sholahuddin, S.Sos. Sebagai tuan rumah dalam kejian kali ini adalah Anas Syahirul Alim yang juga salah seorang pengurus KAHMI Surakarta.

Dalam paparannya, Aidul Fitriciada menyampaikan bahwa masjid seharusnya menjadi jantung dari seluruh aktivitas umat, baik di bidang intelektual, sosial, maupun ekonomi. Dia mengingatkan bahwa sejarah besar Islam selalu bermula dari masjid. Ia mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW. menjadikan Masjid Nabawi bukan hanya tempat sujud, tetapi juga pusat pemerintahan, strategi militer, hingga diplomasi internasional.

“Masjid tidak boleh memunggungi masyarakat. Ia harus hadir di tengah-tengah persoalan umat, sebagaimana letak masjid-masjid agung kita di Jawa yang secara filosofis selalu berdampingan dengan pasar dan pusat aktivitas warga,” ujar Aidul.

Baca Juga :  Pesta Kembang Api Ditiadakan di Solo, Warga Pilih Nyalakan Kembang Api di Rumah

Di tengah hangatnya forum diskusi, kajian ini merumuskan empat pilar penting untuk menghidupkan kembali marwah masjid sebgai pusat intelektual, yaitu dengan mendorong masjid kampus dan jamaah masjid menciptakan ruang diskusi yang inklusif bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Selain itu, masjid juga difungsikan sebagai pusat integrasi sosial, gerakan moral yang berahklaq, dan menjadi benteng generasi muda. Terakhir, eksistensi masjid sebagai upaya kesejahteraan di tengah kondisi masyarakat yang heterogen.

Secara khusus, Aidul menitipkan pesan kepada kader-kader HMI agar lebih aktif terlibat dalam manajemen masjid. Menurutnya, kaum intelektual muda harus mampu mewarnai mimbar-mimbar masjid dengan pemikiran yang progresif namun tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman.

“Jangan sampai masjid kehilangan daya tariknya bagi kaum muda. Kita perlu mengadopsi model manajemen sukses seperti Masjid Jogokariyan atau Masjid Al-Falah Sragen yang terbukti mampu memakmurkan jemaahnya,” tambahnya.

Baca Juga :  Sista Galang Donasi Untuk Korban Bencana Sumatera dan Aceh

Melalui kajian ini, diharapkan akan lahir rekomendasi konkret mengenai standardisasi manajemen masjid yang mampu menjawab tantangan zaman dan menjadi motor transformasi umat.  Acara ditutup dengan harapan agar semangat “Back to Mosque” (Kembali ke Masjid) tidak hanya menjadi slogan, tetapi gerakan nyata yang dimulai dari pengelolaan yang lebih inklusif dan progresif.(Ali)

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.