
SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM — Viral di media sosial (medsos) aksi Narso Kepala Desa Ngepringan, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah nekat mandi air lumpur di jalan rusak dan berlubang dengan menggunakan baju dinas Kades di tengah jalan milik DPU menuju desa Ngepringan pada Selasa (20/1/2026).
Pantauan JOGLOSEMARNEWS.COM aksi mandi lumpur di tengah jalan kabupaten itu langsung mematik reaksi warga, pasalnya aksi tersebut dilakukan pada saat kondisi jalan ramai jam masuk sekolah dan jam masuk kantor, bukan sekadar mencari sensasi, aksi ini merupakan puncak gunung es dari kekecewaan warga yang merasa dianaktirikan oleh pemerintah daerah atau pada bupati Sragen Sigit Pamungkas.
”Sebenarnya tidak sengaja protes, tapi tadi mau berangkat kerja malah kepleset. Ya sudah, sekalian adus, gebyur sisan (mandi sekalian). Tidak ada rencana, ini spontanitas,” kata Narso dengan nada mangkel (kecewa).
Dia mengungkapkan fakta yang mencengangkan bahwa akses jalan rusak itu sepanjang 6 kilometer dan saat ini kondisi jalan di tahun 2026 semakin hancur.
Narso menyoroti inkonsistensi pemerintah terkait anggaran. Ia menyebut sempat ada papan informasi yang menyatakan jalan tersebut dalam proses lelang untuk pembangunan tahun 2025, namun hingga memasuki tahun 2026, janji tersebut menguap begitu saja.
“Oalah mas, sudah bertahun-tahun. Katanya siap dibangun 2025, tapi sampai 2026 boten enten (tidak ada). 2024-2025 tidak dibangun,” bebernya.
Sementara itu, kritik tajam diarahkan pada dampak kemanusiaan akibat pembiaran infrastruktur ini. Kubangan sedalam lutut orang dewasa menjadi makanan sehari-hari bagi anak sekolah dan warga yang ingin mengakses layanan kesehatan. Anak-anak sekolah terpaksa melepas sepatu dan seragam agar tidak kotor sebelum sampai di kelas.
Selain itu truk logistik kerap tersangkut, bahkan kendaraan kecil sering mengalami kerusakan mesin atau pecah bak oli akibat benturan lubang. Jalan rusak membuat warga merasa terisolasi. Bahkan, sanak saudara dari luar daerah enggan berkunjung karena ngeri melihat akses jalan yang dianggap membahayakan nyawa.
Narso menegaskan bahwa warga Ngepringan tidak menuntut kemewahan. Mereka hanya menuntut hak dasar atas akses jalan yang layak dan aman. Ia meminta Pemkab Sragen tidak lagi berkelit dengan alasan klasik keterbatasan anggaran.
”Mudah-mudahan segera diperhatikan. Tidak perlu bagus banget, yang penting rata, bisa dilewati, tidak becek. Mau aspal atau cor silakan, karena ini sudah parah banget,” ujarnya. Huri Yanto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.













