SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Cara belajar sejarah di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Solo kini tak lagi monoton. Guru sejarah Rusdi Mustapa menghadirkan inovasi pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) melalui video sejarah berbasis Point of View (POV), yang membuat siswa seolah berada langsung di tengah peristiwa masa lalu.
Video AI tersebut dibuat dengan memanfaatkan aplikasi ChatGPT untuk menyusun prompt, kemudian diproses melalui Sora sebagai pembuat video, dan dirangkai menjadi satu cerita utuh menggunakan aplikasi CapCut.
“Saya sedang mengembangkan media pembelajaran sejarah berbasis POV. Selama ini sejarah sering dianggap jauh, hanya bicara tanggal, nama, peristiwa, dan tokoh. Tidak ada keterlibatan emosional siswa di dalamnya,” ujar Rusdi saat ditemui di MAN 1 Solo, Senin (2/2).
Menurut Rusdi, melalui pendekatan POV berbasis AI, strategi pembelajaran sejarah bisa diubah menjadi lebih hidup. Siswa diajak membayangkan diri mereka berada langsung di dalam peristiwa sejarah yang dipelajari.
“Dengan video POV, seolah-olah kita ada di peristiwa itu. Apalagi di dalam video ada wajah gurunya sendiri, siswa jadi lebih tertarik dan merasa dekat,” jelasnya.
Ia menegaskan, di era saat ini teknologi merupakan bahasa generasi muda. Jika ingin pelajaran sejarah tetap relevan dan diminati, maka guru harus berani masuk ke dunia mereka, salah satunya lewat teknologi dan AI.
“Teknologi dan AI itu bukan untuk menghentikan peran guru, tapi justru mendukung keberhasilan guru dalam menghadirkan pembelajaran yang bermakna,” tegasnya.
Rusdi menjelaskan, pembuatan video sejarah berbasis AI diawali dengan menentukan ide yang disesuaikan dengan materi pelajaran. Salah satu contohnya adalah peristiwa perpindahan Keraton Surakarta dari Kartasura ke Surakarta.
“Untuk adegan-adegannya, saya minta bantuan ChatGPT untuk menyusun prompt. Setelah itu hasilnya dimasukkan ke Sora. Aplikasi ini sedang booming, bisa membuat video maksimal 10 detik sesuai prompt yang kita masukkan,” paparnya.
Potongan-potongan video berdurasi pendek tersebut kemudian digabungkan menggunakan CapCut hingga membentuk satu alur cerita sejarah yang utuh.
Rusdi juga menekankan pentingnya kehati-hatian dalam penggunaan AI untuk materi sejarah. Ia mengaku berdiskusi dengan komunitas sejarah agar konten yang dibuat tidak menimbulkan kekeliruan atau kontroversi.
“Kebetulan saya tergabung di komunitas Solo Societeit. Secara tidak langsung saya berdiskusi dulu. Video ini tidak dibuat terlalu detail atau kontroversial, tapi tetap sederhana untuk pembelajaran, dengan unsur kebenaran yang tetap diperhatikan,” tandasnya.
Sementara itu, salah satu siswa kelas XI MAN 1 Solo, Hafiz Miftahul Egar, mengaku antusias mengikuti pembelajaran sejarah dengan media video AI.
“Biasanya belajar sejarah hanya membaca, lalu membayangkan sendiri di kepala. Tapi dengan video AI dari prompt ChatGPT dan Sora, kita seperti melihat langsung bagaimana kondisi zaman dulu, termasuk masa penjajahan,” ungkapnya.
Hafiz menilai proses pembuatan video sejarah berbasis AI juga relatif mudah. Cukup meminta ChatGPT menyusun prompt, lalu menyalinnya ke Sora untuk menghasilkan visual.
“Saya sudah mencoba beberapa kali, seperti materi perpindahan Keraton dan penjajahan Jepang di Indonesia. Ke depannya, metode ini sangat mungkin saya gunakan lagi untuk pembelajaran,” pungkasnya. [Ando]
