Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Diteror Usai Kritik Pemerintah, Ketua BEM UGM: Silakan Lanjutkan, Saya Tak Gentar

Ilustrasi | freepik

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Gelombang kritik terhadap kebijakan pemerintah berujung pada rentetan ancaman yang dialami Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto. Namun alih-alih surut, mahasiswa Fakultas Filsafat itu justru menantang balik pihak-pihak yang menerornya.

Tiyo mengungkapkan, intimidasi mulai ia terima setelah secara terbuka menyoroti kasus tragis seorang anak di Kabupaten Ngada, NTT, yang mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli perlengkapan sekolah. Dalam forum diskusi di kanal YouTube Forum Keadilan, Rabu (18/2/2026), ia juga mengkritik kebijakan pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace.

“Kita semua berduka karena ada seorang anak yang memutuskan bunuh diri hanya gara-gara gagal membeli buku dan pena seharga Rp10 ribu. Tetapi ironinya di saat bersamaan pemerintah menggelontorkan Rp16,7 triliun untuk Board of Peace bikinan Trump yang begitu kontroversial,” katanya dalam siniar Madilog Forum.

Ia menilai terdapat persoalan prioritas dalam pengelolaan anggaran negara. Menurutnya, sejumlah kebijakan justru menggerus sektor yang seharusnya dilindungi konstitusi, termasuk pendidikan. Tiyo menyinggung amanat UUD yang mewajibkan alokasi minimal 20 persen APBN maupun APBD untuk pendidikan.

“Bahwa pemerintah wajib mengalokasikan 20 persen, baik itu APBN maupun APBD, untuk pendidikan,” ujarnya.

Tak lama setelah kritik tersebut mencuat, ancaman berdatangan. Teror diterima melalui pesan WhatsApp dari sejumlah nomor tak dikenal. Pesan bernada kasar dan intimidatif itu di antaranya berbunyi: “Agen asing”, “Culik mau?”, “Jangan cari panggung jadi tongkosong”, “Cari dosamu entr”, “Banci”, hingga “Jangan cari panggung loe ya jual narasi sampah”.

Teror pertama kali masuk pada Senin (9/2/2026) dan terus berlanjut dari sekitar enam nomor berbeda. Tak hanya melalui pesan singkat, Tiyo juga mengaku sempat dikuntit dua pria bertubuh tegap yang memotretnya dari kejauhan sebelum akhirnya menghilang saat dikejar.

Meski demikian, ia menegaskan tidak akan mundur. Bahkan, ia menyebut ancaman tersebut sebagai alarm bagi demokrasi.

“Seluruh teror itu tidak akan membuat BEM UGM gentar. Semakin ditekan, justru kami semakin melawan,” tegasnya.

Ia menyatakan bukan hanya dirinya yang menjadi sasaran, tetapi juga orang tuanya serta hampir 30 pengurus BEM. Namun solidaritas juga berdatangan dari berbagai pihak, mulai dari Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, Lembaga Bantuan Hukum, hingga kampus UGM.

“Maka silakan lanjutkan terornya,” ujarnya menantang.

Tiyo bahkan mengutip pemikiran filsuf Friedrich Nietzsche untuk menggambarkan sikapnya menghadapi tekanan. “Bahkan saya punya prinsip kalau prinsip kalau di filsafat Nietzsche yang mengatakan bahwa what doesn’t kill you will make you stronger, sesuatu yang tidak membunuhmu akan menguatkanmu.”

“Silakan teror saya sebesar apa pun selama itu tidak membuh saya lahir dan batin, maka saya pastikan bahwa setelah itu saya akan lebih kuat dari sebelumnya,” imbuhnya.

Sementara itu, Jogja Police Watch (JPW) menilai intimidasi terhadap aktivis yang menyuarakan kritik merupakan ancaman serius terhadap iklim demokrasi. Kadiv Humas JPW Baharuddin Kamba menyayangkan sikap aparat yang dinilai belum menunjukkan langkah tegas.

“Hingga kini pihak kepolisian dalam hal ini Polda DIY terkesan memilih diam terhadap teror yang dialami oleh Ketua BEM UGM tersebut,” kata Baharuddin, Kamis (19/2/2026), dikutip dari Tribun Jogja.

JPW menduga ancaman tersebut berkaitan dengan kritik Tiyo terhadap program MBG dan langkahnya berkirim surat ke UNICEF terkait tragedi siswa SD di NTT. Menurut Baharuddin, pesan bernada “Culik mau?” mengingatkan pada praktik intimidasi di masa lalu yang mencederai demokrasi.

“Teror yang dialami oleh Ketua BEM UGM mengingatkan kita semua khususnya kalangan aktivis pada masa orde baru apalagi ada ancaman ‘Culik Mau?’ Jelas itu merupakan ancaman serius yang harus diusut oleh pihak kepolisian,” tegasnya.

JPW pun berharap aparat segera bertindak dan memastikan perlindungan bagi para aktivis agar kebebasan berpendapat tetap terjaga. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

 

Exit mobile version