Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Heboh Monyet Turun Kampung di Selopuro, CSR Jogo Alas Jadi Jalan Damai Manusia dan Satwa

Monyet

Ilustrasi monyet menjarah mete. Istimewa

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Gangguan monyet ekor panjang yang kerap meresahkan warga Kelurahan Selopuro, Kecamatan Batuwarno, Wonogiri, akhirnya mulai menemukan titik terang. Lewat kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) bertajuk Jogo Alas, Pemerintah Kelurahan Selopuro menggandeng Yayasan Setya Dharma Foundation Jakarta untuk mengembalikan harmoni antara manusia dan satwa liar di kawasan Alas Ngampel.

Program yang mengusung slogan “Harmoni dan Lestari di Kawasan Alas Ngampel” ini menjadi jawaban atas keresahan warga yang selama ini harus berhadapan langsung dengan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang kerap turun ke permukiman, merusak tanaman, hingga masuk ke pekarangan rumah. Alih-alih memilih cara represif, Jogo Alas justru mengedepankan pendekatan ramah lingkungan, persuasif, dan berkelanjutan.

Kegiatan ini lahir dari aspirasi masyarakat yang menginginkan solusi jangka panjang atas konflik manusia dan satwa liar. Pemerintah Kelurahan Selopuro menilai, masalah monyet bukan semata gangguan, melainkan sinyal rusaknya keseimbangan ekosistem hutan. Karena itu, solusi yang diambil adalah memperbaiki habitat alami satwa agar monyet tidak lagi “terpaksa” turun ke kampung.

Pelaksanaan Jogo Alas dilakukan secara bertahap dan terukur. Tahap pertama digelar pada 14–17 Desember 2025 dengan penanaman 300 batang pohon pelestari sumber air seperti pule, beringin, dan bulu. Pohon-pohon ini berfungsi memperbaiki struktur hutan sekaligus menjaga ketersediaan air di kawasan Alas Ngampel.

Tahap kedua dilaksanakan pada 28–30 Desember 2025 dengan penanaman 150 batang tanaman buah-buahan, antara lain sirsak, rambutan, dan mangga. Langkah ini bertujuan menyediakan sumber pakan alami bagi monyet agar tidak lagi mencari makanan ke permukiman warga. Program berlanjut ke Tahap ketiga pada 31 Januari–3 Februari 2026 dengan penanaman 300 batang tanaman buah tambahan seperti mangga, rambutan, duku, matoa, dan nangka.

Lurah Selopuro, Yohanes Wiratmoko, menegaskan bahwa Jogo Alas bukan sekadar program tanam pohon, melainkan investasi lingkungan jangka panjang.
“Melalui Jogo Alas, kami ingin membangun kesadaran bersama bahwa menjaga alam adalah investasi bagi generasi mendatang. Ketika hutan terjaga, satwa seperti monyet tidak akan turun ke kampung. Ini tentang keseimbangan, bukan saling menyalahkan,” ujarnya saat dihubungi Kamis (5/2/2026).

Ia menambahkan, keberhasilan program ini merupakan hasil kolaborasi banyak pihak, mulai dari masyarakat, perangkat kelurahan, relawan, hingga dukungan penuh dari Yayasan Setya Dharma Foundation Jakarta sebagai mitra CSR. Menurutnya, tanpa keterlibatan warga, upaya menjaga hutan dan mengatasi konflik satwa tidak akan berjalan efektif.

“Ke depan, kami berharap Jogo Alas bisa terus berlanjut dan menjadi contoh bagaimana persoalan monyet dan satwa liar lainnya dapat diselesaikan tanpa kekerasan, namun tetap memberi rasa aman dan nyaman bagi masyarakat,” imbuhnya.

Hasil awal program ini mulai terasa. Aktivitas monyet di area permukiman dilaporkan berkurang signifikan, sementara satwa liar perlahan kembali beraktivitas di habitat alaminya. Lebih dari itu, tumbuh kesadaran kolektif warga bahwa hutan bukan musuh, melainkan benteng kehidupan yang harus dijaga bersama.

Program Jogo Alas diharapkan mampu memberi dampak positif jangka panjang, baik bagi kelestarian lingkungan, keseimbangan ekosistem, maupun kualitas hidup masyarakat Selopuro. Upaya ini sekaligus menjadi langkah awal menuju pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan, harmonis, dan manusiawi di Kabupaten Wonogiri. Aris Arianto

Exit mobile version