WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Sentra Takjil Ramadhan 1447 Hijriyah di Kabupaten Wonogiri resmi dibuka Kamis (19/2/2026) di dua titik strategis, yakni kawasan Alun-alun Giri Krida Bakti Wonogiri dan halaman depan Sport Tourism Center (STC) Pringgondani. Total 185 pedagang tumpah ruah meramaikan pusat jajanan berbuka puasa ini.
Melansir laman resmi Pemkab Wonogiri, Selasa (24/2/2026), data dari Dinas Perdagangan dan Koperasi UKM (KUKM) mencatat ✓ 114 pedagang membuka lapak di STC Pringgondani ✓ 71 pedagang berjualan di Alun-alun Giri Krida Bakti. Ratusan pelaku usaha mikro ini menggantungkan harapan pada momentum Ramadhan untuk mendongkrak omzet yang biasanya turun saat siang hari.
Kepala Bidang UMKM Dinas Perdagangan dan KUKM Wonogiri, Dwi Rahayuningsih, menjelaskan penyediaan sentra takjil bertujuan menjaga perputaran ekonomi rakyat selama bulan puasa. Mayoritas pedagang merupakan penjual keliling seperti cilok, martabak, dan pangsit yang biasanya menyasar sekolah-sekolah. Saat Ramadhan, pendapatan mereka terjun bebas karena siswa berpuasa.
Sentra takjil menurut Raning-panggilan akrabnya-menjadi solusi agar mereka tetap bisa berjualan menjelang berbuka dengan lokasi yang lebih terpusat dan mudah dijangkau pembeli. Harapannya jelas: omzet tetap stabil bahkan meningkat.
Namun persoalan serius muncul hampir setiap hari. Fenomena yang kerap terjadi di Wonogiri adalah hujan deras disertai angin kencang dan petir menjelang sore, tepat saat pedagang mulai menggelar lapak sekitar pukul 16.00–17.00 WIB. Cuaca ekstrem yang datang tiba-tiba ini memicu kekhawatiran, baik dari sisi keselamatan maupun potensi kerugian dagangan.
“Karena seperti kita tahu, siangnya panas, tiba-tiba jam 4 jam 5 sore saat pedagang sudah menggelar lapak, turun hujan sangat deras. Tapi kami bersyukur ini tidak menyurutkan semangat mereka mencari rejeki,” beber Raning.
Dinas Perdagangan dan KUKM pun mengeluarkan imbauan tegas agar pedagang lebih waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem. Para pedagang diminta menyiapkan perlengkapan pengaman secara mandiri, seperti:
• Tenda kokoh dan terpasang kuat
• Terpal tambahan penahan air
• Payung besar
• Plastik pelindung makanan
• Pemberat tenda agar tidak terangkat angin
Langkah ini dinilai penting mengingat pola cuaca Wonogiri belakangan tidak menentu. Siang hari bisa terik menyengat, lalu mendadak diguyur hujan lebat disertai kilat saat sore hari. Situasi ini bukan hanya mengancam barang dagangan, tetapi juga keselamatan pedagang dan pengunjung.
Kondisi tersebut dibenarkan Tesya (32), pedagang takjil di Alun-alun Giri Krida Bakti. Ia mengaku hujan hampir selalu turun saat jam ramai pembeli. Meski tetap berjualan, ia berharap ada perhatian lebih berupa tenda semi permanen seperti yang biasa dipasang saat pameran atau peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonogiri.
Menurutnya, tenda semi permanen bukan hanya melindungi pedagang dari hujan dan angin, tetapi juga memberi kenyamanan bagi pembeli yang ingin makan di tempat bersama keluarga. Saat ini, mayoritas pedagang hanya mengandalkan tenda portabel pribadi yang fungsinya terbatas dan tidak memungkinkan konsep dine in.
“Harapan kami, barangkali didengarkan oleh pemerintah, bolehlah disediakan tenda semi permanen seperti kalau pameran atau Hari Jadi (Kabupaten Wonogiri) itu. Jadi kami lebih nyaman, dan pengunjung juga punya tempat untuk dine in (makan ditempat) bersama keluarga,” ungkap Tesya.
Meski diterpa hujan, angin, dan petir hampir setiap sore, semangat 185 pedagang tak surut. Mereka tetap membuka lapak, menata gorengan, kolak, es buah, hingga aneka jajanan favorit berbuka. Di tengah ancaman cuaca ekstrem, sentra takjil Ramadhan Wonogiri tetap menjadi denyut ekonomi rakyat yang hidup menjelang magrib. Aris Arianto
