Beranda Daerah Magelang Mahasiswa KKN Kelompok 81 Universitas Sebelas Maret Dokumentasikan Kesenian Soreng sebagai Upaya...

Mahasiswa KKN Kelompok 81 Universitas Sebelas Maret Dokumentasikan Kesenian Soreng sebagai Upaya Pelestarian dan Branding Budaya Desa Seloprojo

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 81 Universitas Sebelas Maret melaksanakan program kerja pendokumentasian kesenian Soreng di Dusun Seloprojo, Desa Seloprojo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Istimewa

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 81 Universitas Sebelas Maret melaksanakan program kerja pendokumentasian kesenian Soreng di Dusun Seloprojo, Desa Seloprojo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus penguatan identitas dan branding budaya desa.

Program kerja ini dilatarbelakangi oleh keberagaman kesenian yang tumbuh dan berkembang di Desa Seloprojo, yang hingga kini masih didukung oleh antusiasme masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Salah satu kesenian yang masih lestari dan menjadi identitas budaya desa adalah Soreng. Melihat potensi tersebut, mahasiswa KKN berupaya melakukan pendokumentasian sebagai langkah pelestarian dan pengarsipan budaya lokal desa.

Pendokumentasian kesenian Soreng dilakukan melalui beberapa tahapan. Tahapan tersebut diawali dengan wawancara terhadap salah satu tokoh kesenian Desa Seloprojo yang memahami sejarah dan perkembangan Soreng, yakni Giyanto atau yang lebih dikenal sebagai Pak Dalang. Wawancara tersebut dilaksanakan pada Sabtu (17/1/2026) sebagai langkah awal penggalian data sejarah dan makna kesenian Soreng.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 81 Universitas Sebelas Maret melaksanakan program kerja pendokumentasian kesenian Soreng di Dusun Seloprojo, Desa Seloprojo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Istimewa

“Anak-anak, mulai dari usia dini hingga remaja, sangat gemar terhadap berbagai bentuk kesenian yang ada di desa ini, salah satunya Soreng. Harapannya, kesenian Soreng dapat tetap lestari, terutama Soreng klasik,” ujar Giyanto dalam wawancara.

Tahap berikutnya dilakukan melalui pengamatan langsung terhadap pertunjukan kesenian Soreng yang diselenggarakan dalam rangkaian acara Merti Dusun Tandur di Desa Seloprojo pada Senin (26/1/2026). Pada kegiatan ini, mahasiswa KKN mengamati bentuk pertunjukan, ragam gerak, iringan musik, serta suasana pementasan Soreng sebagai bagian dari proses pendokumentasian.

Setelah itu, wawancara juga dilakukan dengan Ketua Kesenian Dusun Seloprojo guna menggali informasi yang lebih mendalam terkait unsur-unsur pertunjukan.

“Soreng memiliki berbagai ragam gerak yang masing-masing mengandung filosofi dan makna tersendiri dalam setiap unsur pertunjukannya,” ujar Parjo, Ketua Kesenian Dusun Seloprojo.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 81 Universitas Sebelas Maret melaksanakan program kerja pendokumentasian kesenian Soreng di Dusun Seloprojo, Desa Seloprojo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Istimewa

Menurutnya, keberlangsungan kesenian tersebut hingga kini juga tidak terlepas dari keterlibatan generasi muda dalam proses latihan. “Cukup mudah untuk menggerakkan pemuda dalam latihan karena mereka memang menyukai kesenian ini. Kendala utama yang dihadapi hanya pada kesibukan kerja,” tambahnya.

Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara tersebut, mahasiswa KKN Kelompok 81 UNS kemudian menyusun hasil pendokumentasian dalam bentuk sebuah buku. Buku ini memuat berbagai aspek mengenai kesenian Soreng, mulai dari sejarah, alur cerita, gerak tari, kostum, hingga filosofi yang melandasi pertunjukan tersebut. Selain dicetak dalam bentuk fisik, buku juga disiapkan dalam bentuk softfile untuk memudahkan akses informasi bagi masyarakat luas.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan pendokumentasian, mahasiswa KKN menyerahkan buku hasil dokumentasi kepada pihak Desa Seloprojo sekaligus melakukan pengunggahan file buku ke laman web. Kegiatan penyerahan dan unggah dokumentasi tersebut dilaksanakan pada Selasa (17/2/2026). Penyerahan ini menjadi simbol bahwa hasil pendokumentasian tidak hanya berhenti pada proses akademik, tetapi juga dikembalikan kepada masyarakat sebagai bagian dari arsip budaya desa.

Melalui program kerja pendokumentasian ini, mahasiswa KKN berharap kesenian Soreng dapat terus hidup dan dikenal oleh generasi muda serta masyarakat luar, sekaligus menjadi daya tarik budaya Desa Seloprojo di masa mendatang.

 

 

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.