Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Megengan Apem Contong Sambut Ramadan, Tradisi Jawa Sarat Makna Maaf dan Penyucian Diri, Tempatmu Ada Juga?

Apem

Apem contong. Joglosemarnews.com/Aris Arianto

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, warga di berbagai daerah kembali menghidupkan tradisi Megengan. Ritual khas masyarakat Jawa ini menjadi penanda dimulainya masa persiapan batin sebelum menjalankan ibadah puasa, dengan doa bersama dan pembagian kue apem sebagai simbol permohonan maaf dan ampunan.

Di Wonogiri dan sejumlah wilayah Jawa Tengah lainnya, Megengan identik dengan sajian apem contong. Kue berbahan dasar tepung beras ini dibungkus daun nangka berbentuk kerucut, lalu dibagikan kepada tetangga, sanak saudara, hingga kerabat dekat. Tak sekadar penganan, apem memiliki makna filosofis mendalam. Kata “apem” diyakini berasal dari bahasa Arab afwun, yang berarti maaf atau ampunan.

Tradisi Megengan umumnya digelar sepekan hingga sehari menjelang Ramadan, biasanya selepas salat Magrib atau di akhir bulan Sya’ban. Warga membawa berkat berupa nasi kuning, pisang raja, apem, serta lauk-pauk sederhana ke masjid, langgar, atau rumah warga yang menggelar selamatan. Doa bersama dan tahlilan menjadi inti kegiatan, sebagai ikhtiar membersihkan hati sebelum memasuki bulan penuh rahmat.

Selain doa bersama, sebagian warga juga melaksanakan ziarah kubur atau nyekar ke makam leluhur dan tokoh agama. Prosesi ini dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu sekaligus pengingat akan kehidupan akhirat.

Salah satu warga Wonogiri, Amin menyebut apem sebagai unsur yang tak bisa dipisahkan dari tradisi Megengan.

“Apem itu maknanya afwan, maaf. Wajar kalau mau puasa, kita minta maaf dulu supaya ibadah diterima,” ujarnya. Meski begitu, apem biasanya tetap disajikan bersama penganan lain. Kalau cuma apem saja kurang lengkap.

Lebih dari sekadar tradisi turun-temurun, Megengan menjadi sarana mempererat silaturahmi, menumbuhkan semangat berbagi, serta mengingatkan pentingnya sedekah dan keikhlasan. Di tengah arus modernisasi, tradisi ini tetap lestari dan dijaga masyarakat sebagai warisan budaya sekaligus nilai spiritual menyambut Ramadan. Aris Arianto

Exit mobile version