
SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM — Kota Solo memasuki usianya yang ke 281 tahun ini. Dijuluki sebagai salah satu Kota terbaik di Indonesia untuk menikmati masa pensiun dengan slogan slow living, menjadikan Solo sebagai destinasi utama menghabiskan waktu libur dalam momen apapun.
Suasana Solo yang adem, nyaman dan masyarakat yang ramah menjadi keunggulan sendiri. Terlebih, Solo juga dikenal sebagai surganya penikmat kuliner dan kaya akan ragam budaya.
Kendati demikian, belum semua masyarakat mengetahui benar darimana asal-usul nama Solo. Dari berbagai sumber artikel dan informasi, nama Solo diambil dari nama sebuah pohon yakni Pohon Sala yang banyak tumbuh di kawasan Kota Bengawan dulu.

Dengan demikian, Pohon Sala menjadi tanaman bersejarah bagi Kota Solo. Di sisi lain, Kota Solo memiliki nama administrasi Surakarta dimana erat kaitannya dengan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang menjadi kerajaan terakhir berkuasa di Solo.
Sejarah Kota Solo (Surakarta) bermula pada tahun 1745, saat Pakubuwono II memindahkan pusat Kerajaan Mataram dari Kartasura ke Desa Sala di tepi Bengawan Solo, menyusul peristiwa Geger Pecinan. Desa Sala dipilih karena dianggap strategis dan aman, kemudian tumbuh menjadi pusat budaya, kerajaan, serta perlawanan terhadap kolonial.
Berdasarkan informasi dan artikel sejarah beredar, tahun 1745 setelah Keraton Kartasura rusak akibat pemberontakan, Pakubuwono II membeli tanah Desa Sala seharga 10.000 ringgit untuk membangun Keraton Surakarta Hadiningrat.

Kemudian perjanjian Giyanti tahun 1755 membagi Mataram menjadi dua yakni Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Diketahui, tahun 1757, berdasarkan Perjanjian Salatiga, Kadipaten Mangkunegaran berdiri sebagai kadipaten mandiri, menjadikan Solo unik dengan dua pusat kebudayaan yaitu Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran.
Kini, Solo atau Surakarta telah berkembang menjadi kota modern yang dinamis namun tidak lepas dari identitasnya sebagai Pusat Kebudayaan Jawa. Dan Hari Jadi Kota Solo diperingati setiap tanggal 17 Februari.

Sejumlah tamu undangan menghadiri upacara HUT ke-281 Kota Solo, Selasa (17/2/2026). Istimewa
Plh Wali Kota Solo, Astrid Widayani, mengatakan, HUT ke-281 Tahun Kota Solo memiliki tema “Berbudaya, Perdaya dan Sejahtera”. Menurutnya, tema tersebut menegaskan bagaimana Kota Solo terus berkomitmen dari perjalanan panjang selama 281 tahun terakhir.
“Mulai dari Desa Sala, kemudian berkembang, tetap menjadi kota yang modern, tetap menjadi kota yang berlandaskan nilai tradisi, budaya. Tapi bagaimana Kota Solo ingin memiliki daya saing masyarakat yang kreatif, masyarakat yang inovatif, dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman,” urai Astrid, di Solo, Selasa (17/2/2026).
Memimpin Kota Solo di usia yang ke 281 tahun, Astrid berpesan agar masyarakat Solo tidak melupakan sejarahnya. “Pesan kami untuk seluruh masyarakat bahwa Kota Solo ini tidak boleh melupakan sejarahnya. Kita kota yang dilandasi dengan budaya luhur, sehingga tata krama, budi pekerti ini harus ada di masyarakat kita, khususnya untuk anak-anak kita,” tegas Astrid.

Astrid menambahkan, Kota Solo masih memiliki tantangan ke depan untuk tetap kokoh menjadi Kota Budaya. Tantangan mulai dari digitalisasi hingga globalisasi wajib diarungi dengan optimisme.
“Tantangan ke depan saya kira hampir sama untuk wilayah-wilayah yang lain juga, bagaimana kita bisa menyesuaikan diri dengan baik, bisa beradaptasi terhadap perkembangan zaman mulai dari digitalisasi, globalisasi, dan semua perubahan yang sifatnya eksternal. Tetapi kami yakin dengan nilai-nilai tradisi yang ada di Kota Surakarta, jika masyarakat masih memegang teguh adat tradisi dan budaya Jawa, saya kira tidak ada masalah. Kota Solo tetap kuncoro (masyhur),” ungkap Astrid. Prihatsari
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.













