Beranda Umum Rapor Setahun Ahmad Luthfi-Taj Yasin, Pemerhati Jateng : Pembangunan Harus Berkelanjutan

Rapor Setahun Ahmad Luthfi-Taj Yasin, Pemerhati Jateng : Pembangunan Harus Berkelanjutan

Pemerhati Jawa Tengah, Budiyanto Hadinagoro. Istimewa

Genap setahun Ahmad Luthfi dan Taj Yasin memimpin Jawa Tengah (Jateng) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur. Sejumlah pencapaian pun telah diraih oleh keduanya selama memimpin Jateng.

Sejumlah program dinilai telah berhasil dilaksanakan oleh Ahmad Luthfi dan Taj Yasin selama setahun terakhir seperti 17.510 unit RTLH telah ditangani, perbaikan jalan antar kota sepanjang 2.362 kilometer (km), akses air bersih (desalinasi) di daerah-daerah pesisir, pemberian beasiswa warga miskin sebanyak 15.000 orang, dan penyaluran beasiswa dalam bentuk sekolah kemitraan kepada 2.300 siswa melalui kartu Zilenial.

Selain itu, capaian lain juga berhasil diraih Ahmad Luthfi dan Taj Yasin dalam bidang kesehatan dengan peluncuran program Speling atau layanan doktor spesialis keliling yang menjangkau lebih dari 88 ribu warga dari pelosok desa, dan ada lagi capaian-capaian line seperti di bidang pertanian, hingga transportasi umum.

Meski capaian tersebut tercatat dalam data pemerintah provinsi, agaknya masih ada yang memandang miring apa yang telah dilakukan oleh pasangan Ahmad Luthfi dan Taj Yasin di Jateng setahun terakhir.

Menanggapi hal tersebut, Pemerhati Jawa Tengah, Budiyanto Hadinagoro menyebut hal itu lumrah dialami oleh pejabat publik.

Lebih lanjut, Budiyanto menyebut kritikan memang perlu disampaikan apalagi terhadap pemimpin yang saat ini memimpin.

“Ya kritikan kepada pejabat publik atau pemimpin daerah seperti Pak Ahmad Luthfi dan Taj Yasin itu wajar dan bahkan harus kalau menurut saya. Tapi ingat, kritikan yang disampaikan ya harus objektif sesuai data yang ada,” ungkap Budiyanto.

Baca Juga :  Daftar Titik Keberangkatan Rosalia Indah Travel Solo dan Jogja : di Halte Siti Walidah UMS hingga UPN Jogja

Menurut Budiyanto, perkembangan Jateng terbilang cukup cepat di bawah kepemimpinan dua sosok tersebut.

“Menilik dari data yang saya dapat, pertumbuhan ekonomi Jateng naik 5,37 persen di tahun 2025 melampaui rata-rata nasional itu juga tidak boleh dikesampingkan. Ada juga suntikan investasi yang mencapai Rp 88,5 triliun di tahun lalu. Penyerapan tenaga kerja pun menurut data yang saya peroleh juga progresnya positif sampai 400-an ribu,” lanjutnya.

“Capaian-capaian itu harusnya perlu dijaga selain oleh kedua sosok pemimpin Jateng itu maupun masyarakat luas. Bukan apa-apa, tapi paling tidak kritik atau saran atas kinerja pemimpin daerah itu sebagai pemicu kenaikan capaian-capaian kinerja,” tegasnya.

Budiyanto juga menyoroti mengenai angka kemiskinan di Jateng selama di bawah kepemimpinan Ahmad Luthfi dan Taj Yasin. Menurutnya penurunan angka kemiskinan memang sudah cukup baik. Dan tren positif tersebut seharusnya bisa dilanjutkan di tahun-tahun berikutnya.

“Angka kemiskinan juga saya lihat menurut signifikan, oleh karena itu program yang telah dijalankan harus bisa semakin menekan angka kemiskinan,” kata dia.

Disinggung terkait sorotan tajam terhadap pemerintah Jateng di sektor pajak seperti adanya tambahan opsen di Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Budiyanto meyakini bahwa aturan tersebut perlu dikawal bersama.

Dalam hal pembangunan, menurut Budiyanto salah satunya dimotori oleh anggaran. Dan salah satu anggaran yang digunakan untuk pembangunan di Jateng diserap melalui penambahan opsen PKB.

“Opsen PKB itu kan masuknya ke pendapatan daerah. Dan pastinya serapannya akan digunakan untuk pembangunan. Jadi ya jangan nyinyir dulu, kita harus objektif melihat dari berbagai sisi. Pembangunan kan butuh anggaran,” sebutnya.

Baca Juga :  Jaga Stabilitas Harga Saat Ramadan dan Idul Fitri, Pemprov Jateng Gelar 308 Kali Gerakan Pangan Murah Hingga Maret

Sementara terkait terkait nyinyiran bahkan gerakan menolak membayar pajak kendaraan justru akan menjadi batu sandungan bagi pembangunan di Jateng.

“Kalau soal gerakan tidak bayar pajak kendaraan itu menurut saya naif sekali. Kendaraan itu kan tergolong barang mewah walau hanya sepeda motor. Jadi ketika kita merasa bisa membeli kendaraan, segala konsekuensinya termasuk membayar pajak dan sekarang ada tambahan opsen yang masuk ke serapan pendapatan daerah. Harusnya kita bangga karena menjadi tulang punggung pembangunan daerah,” jelas dia.

“Pastinya pemerintah juga mendengarkan kritik dan saran dari masyarakat mengenai penambahan opsen PKB. Dan sekarang kritik itu langsung dijawab dengan adanya diskon pajak kendaraan. Jadi seperti yang saya bilang tadi bahwa pembangunan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, tapi gotong royong semua elemen,”pungkasnya. *

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.