Beranda Daerah Magelang Usai Teken Penolakan Tambang Tol Jogja–Bawen, Kades Sambeng Hilang Misterius

Usai Teken Penolakan Tambang Tol Jogja–Bawen, Kades Sambeng Hilang Misterius

Ilustrasi | freepik

MAGELANG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Penolakan warga terhadap rencana penambangan tanah uruk proyek Tol Jogja–Bawen menyisakan tanda tanya besar. Kepala Desa Sambeng, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Rowiyanto, mendadak menghilang tak lama setelah secara terbuka menyatakan sikap menolak rencana tambang tersebut bersama warganya.

Rowiyanto terakhir kali terlihat pada Kamis (4/12/2025), saat menghadiri pertemuan desa yang dihadiri warga, tokoh masyarakat, perangkat desa, serta unsur Forkopimcam. Dalam forum itu, sikap penolakan terhadap penambangan tanah uruk disepakati secara terbuka.

Sehari berselang, Jumat siang (5/12/2025), sang kepala desa tak lagi bisa dihubungi. Hingga kini, lebih dari dua bulan berlalu, keberadaannya masih menjadi misteri.

Khairul Hamzah, Humas Paguyuban Gema Pelita Sambeng, menyebut Rowiyanto bukan sekadar hadir dalam pertemuan tersebut, tetapi juga menunjukkan komitmen tertulis.

“Beliau bahkan menandatangani surat pernyataan penolakan, berjanji akan mendampingi warga,” ujarnya.

Namun komitmen itu tak pernah sempat diwujudkan. Sejak hari itu, Rowiyanto tak lagi muncul di ruang publik. Pesan WhatsApp hanya berstatus satu centang, rumahnya pernah didatangi namun kosong, tanpa pesan, tanpa penjelasan.

Ketiadaan kepala desa membuat warga berada dalam posisi serba canggung. Pemerintahan desa memang tetap berjalan, diambil alih oleh perangkat lain, tetapi soal pelaporan orang hilang, warga merasa tak memiliki kewenangan.

“Kami kan enggak punya legal standing,” kata Khairul.

Situasi ini juga dibenarkan Camat Borobudur, Subiyanto. Ia menyebut hingga kini pihak kecamatan belum mengetahui keberadaan Rowiyanto.

“Posisi Pak Kades sampai sekarang belum diketahui. Secara administratif sudah kami tegur, pertama, kedua. Tinggal menunggu tahapan selanjutnya,” tegasnya.

Menurut Subiyanto, upaya komunikasi telah dilakukan, termasuk melalui pesan singkat. Namun semuanya tak membuahkan hasil.

“Surat teguran sudah dilayangkan,” ujarnya, menegaskan bahwa WhatsApp yang dikirim pun tak pernah berbalas.

Saat ini, pihak kecamatan masih menunggu arahan dari Bupati Magelang untuk menentukan langkah lanjutan. Di sisi lain, hilangnya kepala desa tepat setelah sikap penolakan terhadap tambang tanah uruk memunculkan keresahan dan spekulasi di tengah warga Sambeng—sebuah tanda tanya besar yang hingga kini belum terjawab. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

 

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.