Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Utang Luar Negeri RI Tembus Rp 7.318 T, Naik Rp 69,5 T dalam Tiga Bulan

Ilustrasi | pixabay

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Beban utang luar negeri (ULN) Indonesia kembali menanjak di penghujung 2025. Dalam tiga bulan terakhir, posisi ULN bertambah puluhan triliun rupiah, menandakan kebutuhan pembiayaan eksternal yang masih besar di tengah dinamika global yang belum sepenuhnya stabil.

Bank Indonesia mencatat, pada triwulan IV 2025 total ULN Indonesia mencapai US$ 431,7 miliar atau setara Rp 7.318,6 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.950 per dolar AS. Angka tersebut meningkat dibanding triwulan III 2025 yang berada di posisi US$ 427,6 miliar atau sekitar Rp 7.249,1 triliun. Artinya, terdapat kenaikan US$ 4,1 miliar atau sekitar Rp 69,5 triliun dalam kurun satu kuartal.

“Perkembangan posisi ULN triwulan IV 2025 terutama dipengaruhi oleh ULN sektor publik,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam siaran pers, Rabu (18/2/2026).

Kenaikan terutama bersumber dari utang pemerintah yang pada triwulan IV 2025 tercatat US$ 214,3 miliar, lebih tinggi dari posisi triwulan sebelumnya sebesar US$ 210,1 miliar. Menurut Denny, peningkatan tersebut dipicu masuknya aliran modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional, yang mencerminkan masih terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia meskipun ketidakpastian pasar keuangan global meningkat. Ia menegaskan pengelolaan ULN pemerintah dilakukan secara hati-hati dan terukur.

Dana hasil penarikan ULN pemerintah digunakan untuk membiayai sejumlah sektor prioritas. Porsi terbesar dialokasikan ke sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22,1 persen. Disusul administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib 19,8 persen; jasa pendidikan 16,2 persen; konstruksi 11,7 persen; serta transportasi dan pergudangan 8,6 persen. Hampir seluruh ULN pemerintah merupakan utang jangka panjang dengan pangsa 99,99 persen dari total kewajiban.

Di sisi lain, utang luar negeri swasta justru mengalami penurunan. Pada triwulan IV 2025, ULN swasta tercatat US$ 192,8 miliar, lebih rendah dibanding triwulan III 2025 yang mencapai US$ 194,5 miliar. “Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh penurunan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan,” kata Denny.

Berdasarkan lapangan usaha, utang swasta paling banyak berasal dari industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta sektor pertambangan dan penggalian dengan kontribusi mencapai 79,9 persen terhadap total ULN swasta. Struktur ULN swasta juga masih didominasi utang berjangka panjang, yakni sebesar 76,3 persen.

Secara agregat, rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di level 29,9 persen pada triwulan IV 2025. Komposisi keseluruhan ULN didominasi utang jangka panjang dengan pangsa 85,7 persen. “Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN,” ujar Denny. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

 

Exit mobile version