WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Hari pertama masuk sekolah setelah libur Lebaran di SMPN 2 Giritontro benar-benar terasa beda. Bukan langsung duduk di kelas, para siswa justru diajak menjelajah alam bersejarah di kawasan Bengawan Solo Purba, Sabtu (28/3/2026). Suasana penuh energi, kehangatan, dan kebersamaan langsung terasa sejak pagi.
Kegiatan diawali dengan apel pagi yang berjalan tertib dan penuh makna. Seluruh siswa, guru, dan karyawan larut dalam momen ikrar halal bihalal yang dilanjutkan doa bersama. Nuansa haru dan kekeluargaan terasa kuat setelah menjalani Ramadan dan merayakan Idulfitri.
Suasana makin cair saat sesi ramah tamah. Saling berjabat tangan, senyum, dan canda jadi pemandangan yang mendominasi. Interaksi hangat antara siswa dan guru menciptakan ikatan yang lebih dekat, bukan sekadar hubungan formal di ruang kelas.
Setelah itu, kegiatan langsung berlanjut ke outing class yang jadi inti acara. Para siswa dengan penuh antusias mengikuti jalan sehat menyusuri kawasan pegunungan dan aliran sungai purba. Jalur yang dilalui bukan sekadar perjalanan fisik, tapi juga pengalaman belajar langsung yang membuka wawasan baru.
Sepanjang perjalanan, alam menjadi ruang kelas terbuka. Siswa diajak mengamati lingkungan sekitar, mengenali bentang alam karst, hingga memahami proses terbentuknya kawasan purba sejak ribuan tahun lalu. Pembelajaran terasa hidup karena mereka melihat langsung objek yang dipelajari, bukan hanya dari buku.
Perjalanan kemudian mencapai titik menarik di Puncak Dewa-Dewi. Panorama indah dan udara segar jadi tempat ideal untuk beristirahat. Di lokasi ini, guru memberikan penjelasan tentang sejarah Bengawan Solo purba dengan cara yang santai dan mudah dipahami, membuat siswa semakin penasaran dan tertarik.
Kepala SMPN 2 Giritontro, Retno Wulandari, menegaskan kegiatan ini bukan sekadar jalan-jalan.
“Setelah libur Lebaran, kami ingin mengajak siswa belajar dengan suasana yang berbeda. Outing class ini menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan terhadap alam sekaligus mengenalkan sejarah Solo Purba yang ada di sekitar mereka. Dengan belajar langsung di lapangan, pemahaman siswa akan lebih mendalam,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi langkah awal untuk mengembalikan ritme belajar siswa sebelum kembali ke pembelajaran penuh di kelas.
Lebih dari sekadar belajar, outing class ini juga membentuk karakter. Kebersamaan, kepedulian terhadap lingkungan, serta interaksi positif antara siswa dan guru menjadi nilai penting yang ikut tertanam.
Awal masuk sekolah pun berubah jadi pengalaman tak terlupakan. Kombinasi edukasi, olahraga, dan eksplorasi alam sukses menumbuhkan semangat baru bagi siswa untuk kembali belajar dan meraih prestasi, sekaligus lebih mencintai lingkungan dan sejarah daerahnya sendiri.
Aris Arianto
