WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Gerakan pengelolaan larahan alias uwuh bin sampah berbasis masyarakat di Desa Temboro, Kecamatan Karangtengah, Wonogiri mulai menunjukkan taringnya. Bank Sampah Joso Makmur yang baru dirintis sejak Desember 2023 kini menjelma menjadi motor perubahan, setelah mendapatkan suntikan Program Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan untuk mengembangkan inovasi pengolahan sampah bernilai ekonomi.
Bank Sampah Unit (BSU) Joso Makmur ini resmi berdiri lewat Keputusan Kepala Desa Temboro Nomor 51 Tahun 2024. Di bawah kepemimpinan Ning Lestari bersama 11 pengurus, kegiatan operasional berjalan aktif dan semakin berkembang, tidak hanya sebatas pilah dan jual sampah, tetapi juga merambah ke produksi inovatif.
“Awalnya kami terinspirasi dari bank sampah sukses di Desa Krandegan, Bulukerto. Kami belajar langsung ke lapangan untuk mengembangkan pengelolaan sampah rumah tangga sebagai bagian dari implementasi Pilar ke-4 STBM,” ungkap Ning Lestari, baru baru ini.
Dari awal berdiri, BSU Joso Makmur mengandalkan iuran swadaya anggota. Namun semangat gotong royong membuat unit ini terus bertahan dan berkembang. Hasil penjualan sampah terbukti mampu menambah pemasukan warga, membantu ekonomi rumah tangga, sekaligus menumbuhkan kesadaran lingkungan.
Masuknya bantuan CSR menjadi titik balik besar. Dana tersebut dimanfaatkan untuk mengembangkan inovasi yang tidak biasa.
✨ Inovasi yang kini dijalankan BSU Joso Makmur:
✓ Produksi pupuk organik cair dari limbah rumah tangga
✓ Pembuatan batako dari hasil daur ulang sampah
✓ Penguatan sistem pilah dan jual sampah bernilai ekonomi
✓ Edukasi warga soal pengelolaan sampah mandiri
Kini aktivitas anggota tak lagi sekadar menabung sampah, tetapi juga memproduksi barang bernilai jual tinggi. Ini menjadikan bank sampah sebagai pusat ekonomi baru berbasis lingkungan di tingkat desa.
Di sisi lain, kondisi pengelolaan sampah di Kabupaten Wonogiri sedang dalam tekanan serius. Saat ini, Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang masih aktif hanya berada di Kecamatan Ngadirojo dan diprediksi hanya mampu bertahan hingga Juli 2026. Artinya, solusi alternatif seperti bank sampah menjadi sangat krusial.
Camat Karangtengah, Lilik Hendratno, menegaskan bahwa keberadaan BSU Joso Makmur menjadi contoh konkret yang akan direplikasi di desa lain.
“Di Karangtengah baru ada satu BSU. Kami dorong desa-desa lain segera membentuk bank sampah. Ini langkah strategis untuk mengurangi sampah rumah tangga sekaligus memberdayakan masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menambahkan, bank sampah bukan sekadar tempat pengumpulan sampah, tetapi menjadi jembatan antara kepedulian lingkungan dan peningkatan ekonomi warga.
Dengan sistem pilah sampah dari rumah, volume sampah yang dikirim ke TPA bisa ditekan drastis. Warga pun mendapatkan manfaat langsung berupa tambahan penghasilan dari sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan logam.
Tak berhenti di situ, bank sampah juga menjadi pusat edukasi dan kreativitas. Warga diajarkan mengolah sampah menjadi produk bernilai jual, mulai dari kerajinan hingga pupuk organik.
Langkah yang dilakukan BSU Joso Makmur ini menunjukkan satu hal jelas: sampah bukan lagi beban, tapi peluang besar jika dikelola dengan serius. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















